Minggu, 13 Maret 2011

Oktober dan Juni


by : O’ Henry

Kapten itu menatap sayu ke arah pedangnya yang tergantung di dinding. Dalam lemari di sudut, baju seragamnya tergantung lusuh. Kelusuhan itu sebagai tanda bahwa pemiliknya adalah seorang serdadu yang penuh bakti terhadap tugas yang disandangnya.

Sesaat kapten iyu membayangkan dirinya, oh, betapa waktu telah berlalu. Segalanya hampir pupus, kapankah semuanya dimulai semenjak bahaya perang mulai mengancam.
Kini ia hanyalah seorang veteran perang, sebutan agung buat kenangan kebaktiannya terhadap nusa dan bangsa. Tetapi pada kenyataannya ia kini sedang dalam keadaan yang tak berdaya; dia sedang berada di tengah medan pertempuran asmara. Sepasang mata wanita telah menawannya dan membuatnya tak berdaya.

Kapten itu duduk sendiri di dalam kamarnya dengan pandangan mata sayu dan hati yang kesepian. Tangannya masih memegang selembar surat yang baru saja dibacanya. Surat itu merupakan putusan terakhir bagi dirinya. Patahlah segenap harapan dan cita – citanya. Matanya lurus menelusuri baris – baris kalimat yang makin menyiksa batinnya.

“Meskipun aku harus menghancurkan harapan dan cita – citamu, aku harus berterus – terang kepadamu. Kuharap kau dapat memahamiku, yang tak dapat kita ingkari. Selisih usia kita sebagai dasar aku menulis surat penolakan ini.”

“Aku menyukai dan mencintaimu. Tapi, aku yakin tak akan ada kebahagiaan jika kita telah terikat pernikahan. Benar, aku sungguh berduka karena harus menyakiti hatimu. Tapi setidak – tidaknya, kuharap engkau dapat menerima kejujuranku.”

Kapten itu menarik nafasnya dalam – dalam. Hatinya merintih. Ya, usia mereka terpaut cukup jauh. Namun, ia lelaki yang tampan dan gagah, memiliki kedudukan dan harta. Ia mencintai wanita itu dengan sepenuh hati. Kasih – sayang telah ia curahkan kepada wanita yang bermata indah itu. Ia yakin wanita itu juga mencintainya. Bukankah kasih dan cinta itu dapat meniadakan kenyataan tentang perbedaan usia itu?

Akan tetapi, lelaki itu bukan tipe lelaki yang cepat putus – asa. Ia harus menemui wanita itu sekali lagi, dan ia akan berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan cintanya. Apalah artinya selisih usia jika mereka berdua saling cinta – mencintai?
Cintanya terlalu agung untuk diperhadapkan dengan perbedaan usia. Itu sebabnya ia cepat – cepat menyiapkan diri untuk berangkat ke suatu kota di bagian selatan Tennessee, tempat wanita yang memikat hatinya tinggal. Ia berkemas dengan terburu – buru karena kereta api ke jurusan itu akan berangkat.

Ketika kapten yang dimabuk asmara itu tiba, Theodora Denning sedang menikmati udara musim panas.... Saat keduanya berdiri, perbedaan itu tak tampak mencolok. Kapten itu tinggi, tampan, dan perkasa. Wanita itu seperti setangkai bunga yang sedang mekar: elok, menarik, dan cantik!

“Tak kusangka kau datang. Telah kau terima suratku?” wanita itu bertanya seraya tersenyum manis, biji matanya bersinar cemerlang. Betapa eloknya. Jantung kapten itu berdebar kencang.

“Sudah,” katanya tergagap. “Tapi surat itulah yang mengirimku datang ke sini,” Theo, ku ingin kau pertimbangkan lagi jawabanmu.”

Wanita itu menggeleng. Senyum manis membayang di wajahnya. Dia memandang kepada lelaki itu dengan perasaan kagum seorang wanita. Lelaki yang perkasa dan tampan, Theodora berkata di dalam hatinya, gagah dan bijaksana dalam usianya kini. Perbedaan yak tampak menonjol seandainya mereka menikah. Lelaki itu pasti dapat menyesuaikan diri, kalau saja... Tetapi tidak! Theodora menggelengkan kepalanya.

“Jangan engkau paksakan aku mengubah keputusanku. Aku telah menetapkan keputusan yang paling bijaksana untuk engkau dan aku. Umurku dan umurmu... Tapi.... Ah, janganlah hal itu diungkit lagi. Telah kukatakan seluruhnya di dalam suratku.”
Jemari Theodora yang lembut dengan halus menggenggam jemari lelaki itu. “Jangan engkau sedih, kawan.” Suara wanita itu terdengar lirih. “Suatu saat kau pasti akan mengiyakan kebenaran keputusanku. Di kala itu bahkan engkau akan merasa berbahagia, bahwa sekarang aku menolak lamaranmu. Yakinlah. Jika kita sampai menjadi suami – istri, pasti suatu ketika kita akan sama – sama menyadari bahwa kita mempunyai kemauan dan kegairahan hidup yang saling berlawanan. Salah seorang dari kita saat itu akan lebih senang duduk berdiam di sisi perapian sambil membaca atau merasa jemu pada malam – malam yang indah benderang karena diserang penyakit encok, sementara yang lainnya lagi justru sedang dalam keadaan yang bergairah untuk pergi ke pesta sambil bersuka – ria sepanjang malam. Antara kita bukan hanya Januari dan Mei, tapi lebih dari jarak akhir Okttober dan awal Juni. Terasa begitu jauh, sepi, dan lengang, bukan?”

“Tapi, Theo, aku akan berusaha. Berusaha untuk melakukan segala sesuatu yang engkau kehendaki. Aku akan mencoba untuk....”

“Itu katamu kini. Tidak, maafkan aku, kawan. Janganlah kita ulangi lagi hal ini. Aku merasa begitu sengsara dan sedih.”

Kapten itu benar – benar menderita kekalahan telak. Tapi ia memang prajurit sejati. Setelah pamitan, ia segera melangkah tegap dan pasti, sementara di wajahnya tidak terbayang harapan yang patah. Malam itu juga ia kembali ke utara.
Malam esoknya ia telah duduk di dalam kamarnya yang sepi. Ia memandang pedangnya yang tergantung di dinding. Sesaat ia termangu, tetapi ia kemudian telah sibuk berpakaian dan untuk memenuhi undangan makan malam. Sementara berpakaian, tangannya asyik mengatur dasi.

Bagaimanapun juga dia harus menjadi lelaki yang perkasa dan tabah. Ia berusaha mengibaskan kesepian yang sedang mendera. Sementara membetulkan dasi, ia berkata kepada dirinya sendiri,”Theo memang benar. Aku yakin sekali. Pasti semua orang berpendapat bahwa Theo memang cantik, lembut, simpatik, dan wanita yang sempurna. Tapi, setidaknya, aku yakin setidaknya, tentulah usianya telah mencapai dua puluh delapan tahun.”

Itulah kesadaran yang muncul dalam diri kapten. Seperti diketahui, kapten yang sedang dibarai kasmaran itu hanyalah seorang pemuda yang baru menginjak usia kesembilan – belas. Pedang yang tergantung di dindingnya itu sama sekali belum pernah menyentuh seorang musuh pun. Pedang itu hanya tergantung dengan megah di pinggang pemuda tampan itu bila tiba saat ada pawai di Chattanoaga, yaitu suatu jalan yang pernah dilewati barisan tentara pada masa – masa perang Spanyol – Amerika.

(Translated by: Korrie Layun Rampan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...