Jumat, 04 Februari 2011

Ashwatama, Sang Terkutuk yang Hidup Selamanya


Kata chiranjiva adalah kata Sansekerta yang berarti makhluk yang hidup dalam waktu yang SANGAT lama. Kata ini sering disalahartikan dengan hidup abadi. Mereka memiliki jangka waktu untuk hidup di dunia karena alasan tertentu. Chiranjiva tidaklah sama dengan para siddha yang bisa “mati” secara fisik sesuai kehendaknya, namun jasadnya tidaklah membusuk seperti milik manusia. Chiranjiva memperoleh “keabadian” ini oleh karena kutukan maupun berkat dari entitas lain melalui hukum karma yang universal sifatnya. Di dalam keluasan semesta, mungkin chiranjiva memang banyak adanya, namun terdapat 8 chiranjiva ‘abadi’ yang menghuni dunia ini pada masa sekarang yang juga dinamakan sebagai Satu Hari Brahma, dan kedelapan chiranjiva itu adalah sebagai berikut :

Ashwathama – Orang yang dikutuk hidup abadi oleh Tuhan Krishna dan menderita penderitaan yang tak berkesudahan, tak ada satupun manusia yang mencintai, akibat perannya dalam membunuh kelima putra Pandawa serta usaha pembunuhan keji atas Parikesit, cucu Arjuna.
Raksasa Bali – Dia adalah raja raksasa yang menaklukkan ketiga dunia (bhur, bhuvah, svah), namun dipaksa untuk mengembalikan semuanya oleh awatara Wishnu, Wamana.
Vyasa – Seorang maharshi yang menggubah epos Mahabharata, di mana beliau juga turut mengambil lakon di dalam epos tersebut.
Hanuman – kera putih yang melayani Shri Ramadewa.
Vibhishana – Saudara Rahwana yang kemudian diangkat sebagai raja Alengka oleh Sri Ramadewa.
Kripacharya – Mahaguru yang menjadi guru para pangeran dalam epos Mahabharata
Parashurama – Awatara Wishnu.
Markandeya –Sang maharshi.

Menurut Srimad Bhagavatam, Ashwathama, Vyasa, Kripa dan Parashurama ditakdirkan untuk menjadi saptarishi pada manwantara berikutnya; Danawa Bali tertakdir untuk menjadi Indra yang selanjutnya, Hanuman diberkati oleh Brahma untuk memiliki masa hidup seperti Brahma, dan Wibhisana diberkati untuk hidup selama satu kalpa ( yakni satu hari penuh Brahma). Sebenarnya masih ada chiranjiva yang lain selain kedelapan chiranjiwa di atas, namun fokus untuk yang sekarang adalah satu saja, yakni Ashwatama.

Dalam epos Mahabharata, Ashwatama adalah putra kesayangan Guru Drona. Rumor palsu tentang kematian Ashwatama di medan Kuruksethra membuat Guru Drona kalap dan akhirnya menemui ajalnya secara mengenaskan di tangan Dhristadyumna. Ashwatama yang terbakar rasa dendam kemudian membalaskan kematian ayahnya itu dengan membinasakan Drishtadyumna, meskipun melanggar peraturan peperangan secara ksatria. Sebelum perang berakhir, Ashwatama bersumpah di hadapan Duryodana yang sekarat bahwa dia akan membunuh para Pandawa. Ashwatama kemudian memasuki tenda para Pandawa dengan menyusup pada tengah malam, namun karena kekeliruannya dia malah membunuh kelima putra Pandawa.

Akibat perbuatannya ini, Pandawa kemudian mengincar Ashwatama, sehingga terjadilah duel antara Arjuna dan Ashwatama. Pada saat itu, Ashwatama mengeluarkan senjatanya, 'Brahmastra,' sementara Arjuna juga mengeluarkan senjata andalannya, 'Pashupatastra'. Khawatir akan dampak kedua senjata dahsyat itu terhadap kehancuran dunia ini, para rishi menganjurkan keduanya untuk menarik kembali kedua senjata itu. Arjuna mematuhi anjuran itu, sedangkan Ashwatama, karena kelalaiannya, tidak mampu menarik kembali senjatanya itu, kemudian mengarahkan senjata itu kepada rahim Uttara, menantu Arjuna.

Uttara pada waktu itu sedang mengandung Parikesit, putra Abimanyu, yang kelak akan menjadi pewaris tahta kerajaan Hastinapura. Senjata Ashwatama mampu membakar fetus sang janin, namun atas perlindungan Krishna Parikesit yang masih berada di dalam kandungan itu berhasil diselamatkan. Krishna lalu mengutuk Ashwatama agar hidup selama 3.000 tahun dalam keterasingan dan tanpa cinta sama sekali. Versi lain menyebutkan bahwa dia dikutuk untuk tetap hidup hingga akhir masa Kaliyuga. Beberapa kalangan percaya bahwa Ashwatama sekarang tinggal di tempat yang sekarang dikenal dengan nama semenanjung Arab.

Ashwatama juga dipaksa untuk menyerahkan permata yang sebelumnya dipasang di dahinya, di mana siapapun yang mengenakan permata itu akan terbebas dari penderitaan akibat senjata, penyakit maupun rasa lapar. Selain itu, permata itu juga sangat ditakuti oleh para dewa, danawa maupun naga.

Yang membuat legenda ini menjadi menarik adalah adanya rumor yang beredar di India bahwa beberapa orang di India bagian Utara menyatakan pernah bertemu dengan orang yang tinggi dengan ciri – ciri terdapat lubang menganga di bagian dahinya! Tetesan darah juga mengalir dari lubang di dahi itu dan lalat – lalat beterbangan di sekitar luka menganga itu.

Konon, pernah pada suatu ketika, orang ini menghampiri sebuah warung yang menjual makanan India tradisional. Dia menanyai pemilik warung sesuatu seperti, “Apa yang kau masak untukku kali ini?” dan sebagai jawabannya pemilik warung membawakan makanan untuk menghilangkan rasa laparnya itu. Saking BESARnya orang ini (12 kaki), sehingga dia hampir menghabiskan semua persediaan makanan di sana! Lalu orang ini merasa haus dan meminta air, dia menunjukkan wadah air serupa drum yang penuh terisi air. Dia mendekati wadah itu, lalu meminum SEMUA air yang ada di dalamnya tanpa menyisakannya SETETESPUN!

Pemilik warung mengatakan bahwa orang misterius ini sendiri pernah menyatakan sendiri bahwa dia adalah Ashwatama dalam epos Mahabharata. Dia juga mengatakan bahwa Ashwatama memasuki desa tertentu sekali dalam setahun untuk makan dan minum selama beberapa jam. Lalu dia akan berjalan membisu menuju ke arah hutan tanpa mengeluarkan sepatah katapun juga.

Kabar burung yang berkembang mengatakan bahwa Ashwatama melakukan meditasi di dalam gua di pegunungan Himalaya untuk menebus kesalahan yang diperbuatnya pada masa lalu. Bagaimanapun, karena Ashwatama dikatakan telah mencapai kondisi siddha, badan kasarnya tidak akan terlihat secara kasat mata. Dia juga mampu mengambil wujud sesuai kehendaknya ataupun membuat dirinya tak terlihat kapanpun dan di manapun dia menginginkannya. Jika demikianlah cerita yang sebenarnya, maka Ashwatama adalah SAKSI HIDUP bahwa kisah Mahabharata bukanlah sebuah mitologi, melainkan sebuah SEJARAH.

Legenda lain mengatakan bahwa di sebuah puri bernama Asirgarh di Burhanpur, India terdapat kuil Tuhan Shiva di mana Ashwatama memprsembahkan mawar merah setiap hari kepada Shiva pada pagi hari.

Yang lainnya mengatakan bahwa Ashwatama adalah inkarnasi Rudra, yang pada kemudian hari bernama Shiva, yang dengan sukarela meminum racun dendam tanpa memperhitungkan akibat bagi dirinya. Ashwatama ditakdirkan untuk menjadi salah satu dari Saptarshi pada manwantara berikutnya.

(source : http://hauntedtavern.proboards.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...