Jumat, 30 November 2012

Tahun 2012 dari Perspektif Hindu



Fenomena prediksi dan ramalan bencana pada tahun 2012 tak henti – hentinya menjadi bahan perbincangan di kalangan ilmuwan, agamawan, peramal amatir hingga sineas yang menawarkan tayangan bombastis berbau ancaman kepunahan manusia di dunia. Mengapa tahun ini begitu diperlakukan istimewa dibandingkan tahun – tahun yang lainnya? Mengapa 2012.
                Adalah system perhitungan kalender menurut peradaban Suku Maya, Meksiko yang menunjukkan bahwa akhir satu Great Cycle yang berjangka – waktu 12.500 tahun dikatakan berakhir pada tanggal 21 Desember 2012 menurut perhitungan kalender Julian ( system kalender yang dipakai sekarang). Dengan kata lain, seperti hari yang dimulai pada pukul 00.00, maka tanggal tersebut adalah sama dengan pukul 24.00.
                Satu yang mungkin luput dari perhatian para peneliti dan pakar kalender tentang pergantian siklus besar ini adalah kenyataan bahwa kebanyakan dari mereka – apalagi orang – orang awam -  melihat suatu siklus sebagai satu garis lurus tanpa ada kelanjutannya. Suku Maya dipercaya masih memiliki keterkaitan dengan peradaban Hindu India, sehingga doktrin reinkarnasi serta pembagian waktu menurut system yuga dipercaya masih memiliki keterkaitan erat. Beberapa bukti yang menguatkan keterkaitan peradaban ini antara lain dengan diketemukannya arca Ganesha di bagian piramida suku Maya, adanya sibol – symbol mandala Hindu (Tantra) seperti yang ada di India. Bahkan nama suku ini pun masih berakar dari kata Sansekerta. Sesungguhnya, ada semacam kesepakatan dari beberapa cendekiawan Hindu yang percaya bahwa peradaban Suku Maya diprakarsai oleh seorang tokoh Hindu bernama Maya Danawa, seorang yang cerdas ahli dalam bidang astronomi dan arsitektur. Surya Siddhanta, sains tentang pergerakan benda – benda langit, adalah salah satu karya dari Maya Danawa.
                Dari hipotesa awal ini, alangkah baiknya kita mencoba untuk menelaah fenomena 2012 ini dari sudut pandang Hindu. Hindu mengenal system pembagian waktu berdasarkan yuga, kalpa, manwantara, dan seterusnya. Ada beberapa informasi kunci untuk menentukan, misalnya, kita berada di yuga yang mana, dan sampai kapan bagian yuga ini akan mengalami puncaknya. Apakah ada keterkaitan dengan tahun 2012 atau tidak? Sebagian besar Hindu percaya bahwa sekarang kita berada di masa Kali Yuga. Kapan dimulainya dan kapan akan berakhir?
                Untuk melacak timeline yang rumit ini, alangkah baiknya kita berpijak kepada teks kuno terpercaya, Mahbharata gubahan Maharsi Wyasa. Mahabharata dan Laws of Manu masih berpegang kepada nilai satu putaran Yuga yang dibangun oleh 12.000 tahun. pembagian ini ternyata secara mengejutkan didukung pula oleh beberapa peradaban seperti Kaldean, Zoroaster dan Yunani yang juga percaya akan Siklus Masa 12.000 tahun sekali. Sri Yukteswar, seorang yogi yang mendapat tempat di hati beberapa cendekiawan Hindu, mengklarifikasi hal ini di dalam bukunya The Holy Science (1894) bahwa Siklus Yuga yang lengkap memerlukan waktu 24.000 tahun. Jika perhitungannya tepat, maka siklus lengkap dari pembagian yuga menurut Yukteswar adalah : Satya Yuga -> Treta Yuga -> Dwapara Yuga - > Kali Yuga -> Kali Yuga -> Dwapara Yuga -> Treta Yuga -> Satya Yuga.
                Selanjutnya, dari teks Surya Siddhanta yang kemudian dikaji dengan seksama oleh Aryabhatta (pakar matematika penemu teorema Phytagoras, jauh sebelum teorema ini dicuri oleh Phytagoras),  didapatkan satu fakta menarik bahwa berdasarkan keterangan teks – teks kuno seperti Mahabharata dan juga Surya Siddhanta yang menyatakan bahwa Kali Yuga diawali dengan fenomena lima “planet geosentris” (yakni, planet yang dapat dilihat dengan mata telanjang dari bumi) – Merkurius, Vemus, Mars, Jupiter dan Saturnus – berada di dalam satu garis (0) dari rasi Aries (dekat dengan zeta Piscium). Hasil kalkulasi Aryabhatta kemudian menunjukkan tanggal 17/18 Februari 3102 SM. Aryabhatta juga berpendapat bahwa siklus Catur Yuga berlangsung selama 12.000 tahun dengan pembagian yang merata 3.000 tahun setiap Yuga-nya.  Ini sejalan dengan pernyataan Sri Yukteswar.
                “Kalender Saptarsi” yang telah dipakai ribuan tahun di India mendukung pula pernyataan Sri Yukteswar dan Aryabhatta. Doktrin ini sebenarnya sangat sederhana dilihat dari perspektif Kalender Saptarsi : Durasi Catur Yuga 12.000 tahun, dengan masing – masing Yuga berdurasi 3.000 tahun. Para sejarawan telah menyepakati bahwa Kalender Saptarsi yang masih dipakai pada masa Dinasti Maurya ( 400 SM), dimulai pada tahun 6676 SM. Sementara itu, menurut tradisi India, Sri Rama telah hidup pada akhir Treta Yuga, dan Dwapara Yuga segera dimulai setelah kepergian – Nya.
                Perlu juga dipahami bahwa Kalender Saptarsi ini dipakai sebagai petunjuk untuk melacak rekaman genealogis perang Mahabharata. Karena di dalam Mahabharata juga digambarkan peristiwa – peristiwa yang terjadi pada jaman Dwapara Yuga, tidak diragukan lagi bahwa periode Saptarsi tahun 6676 SM adalah awal dari Dwapara Yuga. Oleh karena itu, pembagian Yuga menurut Kalender Saptarsi adalah sebagai berikut:
Yuga
Awal
Akhir
Durasi
Satya Yuga
12.676 SM
9976 SM
2700 tahun
Periode Transisi
9976 SM
9676 SM
   300 tahun
Treta Yuga
9676 SM
6976 SM
2700 tahun
Periode Transisi
6976 SM
6676 SM
   300 tahun
Dwapara Yuga
6676 SM
3976 SM
2700 tahun
Periode Transisi
3976 SM
3676 SM
   300 tahun
Kali Yuga
3676 SM
976 SM
2700 tahun
Periode Transisi
976 SM
676 SM
   300 tahun
Kali Yuga
676 SM
2025 M
2700 tahun
Periode Transisi
2025 M
2325 M
   300 tahun

Dari tabeldi atas, kita pada saat ini telah melewati Kali Yuga periode pertama yang berakhir pada tahun 976 SM. Setelah periode transisi selama 300 tahun, kita mengalami periode Kali Yuga Kedua sebagai titik balik menuju Dwapara Yuga (tahun 2325 Masehi) , kemudian diikuti oleh Treta Yuga (tahun 2625 Masehi) , dan akhirnya Satya Yuga (tahun 2925 Masehi).
Bukti – Bukti Arkeologis

                Menurut doktrin Siklus Yuga, periode transisi selalu diasosiasikan dengan kolaps-nya peradaban di segala penjuru dunia dan bencana – bencana alam yang menyapu jejak – jejak peradaban dunia. Peradaban baru yang muncul pada awal masing – masing Yuga dibangun lagi oleh sissa – sisa peradaban yang selamat dari bencana besar ini berdasarkan pengetahuan teknis dan spiritual peradaban sebelumnya. Banyak sumber – sumber kuno menyebutkan munculnya kelompok misteri “Sapta Rsi” yang dikatakn muncul pada awal Yuga dan membantu membangun peradaban baru di dunia. Kita menemukan informasi ini misalnya dari transkrip kuno bangsa Sumeria, India, Polynesia, Amerika Selatan dan Amerika Utara. Dari catatan – catatan berbagai belahan bumi ini, ternyata memiliki korelasi waktu yang sangat akurat dengan table pembagian Yuga di atas.
                Periode transisi yuga yang pertama terjadi 12.000 tahun yang lalu. Menurut catatan arkeologi, masa ini ditandai dengan akhir Jaman Es yang brakhir secara tiba – tiba; cuaca menanjak drastic menjadi hangat, dan beberapa hewan seperti mammoth mengalami kepunahan. Sejumlah studi ilmiah membuktikan bahwa sejumlah banjir global terjadi sekitas tahun tahun 9600 SM. Peristiwa ini tercatat di dalam legenda – legenda berbagai kebudayaan kuno, yang hamper semuanya menceritakana tentang banjir besar yang dating dari puncak – puncak gunung tertinggi, diikuti oleh hujan yang sangat deras, bola – bola api yang datang dari luar angkasa, serta periode kegelapan yang sangat lama.
                Kemudian, 300 tahun periode transisi pada masa antara Treta dan Dwapara Yuga dari tahun 6976 SM – 6676 SM juga berkorelasi dengan peristiwa global yang dikenal dengan nama Bencana Laut Hitam yang telah dihitung peristiwanya terjadi pada tahun 6700 SM. Laut Hitam di semenanjung Arabia sebelum bencana alam terjadi merupakan danau dengan kandungan air yang jernih. Pada saat bencana terjadi, Laut Mediterania melintasi Gorge (sekarang dikenal dengan nama Paparan Bosphorous) dan menyeruak menuju Laut Marmara, untuk kemudian menuju Laut Hitam dan menciptakan air terjun raksasa. Kejadian besar semacam itu tentulah tidak trejadi di wilayah itu saja, namun dipercaya mengglobal.
                Periode transisi antara Treta Yuga dan Dwapara Yuga ( 3976 SM – 3676 SM) lagi – lagi ditandai dengan beberapa bencana alam di mana – mana, yang penjelasan logisnya masih menyisakan misteri. Pada masa ini, paparan pesisir Sumeria mengalami banjir yang luar bisaayang dikenal dengan istilah transgresi Flanderian – yang mempengaruhi tidak hanya peradaban di sepanjang teluk Sumeria, namun juga peradaban seluruh Asia. Bencana banjir besar ini mengakhiri periode Ubaid di Mesopotamia dan memicu migrasi besar – besaran ke lembah – lembah sungai. Segera setelah itu, peradaban di sekitar sungai Nil, Tigris dan Indus mulai berkembang, sekitar 3500 SM.
                Periode transisi antara Dwapara Yuga dan Kali Yuga ( 3976 SM – 3676 SM) lagi – lagi ditandai dengan peristiwa besar, yakni perang besar Mahabharata, terjadi pada tahun 3761 SM. Mahabharata menyebutkan bahwa Dwapara Yuga berakhir pada masa – masa itu dan disusul oleh Kali Yuga begitu Krishna meninggalkan wujud fisik – Nya di dunia ini. Pada tahun 2002, The National Institute of Ocean Technology (NIO), India, menemukan dua kota di bawah laut, tepatnya di Teluk Cambay. Di kedalaman 120 kaki. Artefak – artefak buatan tangan manusia ditemukan di situs ini, dan teridentifikasi sebagai sisa – sisa peninggalan Sri Krishna, Kerajaan Dwaraka.
                Tidak hanya di belahan India saja yang mengalami bencana besar ini. Di berbagai belahan dunia, terjadi kehancuran peradaban. Bangsa Hitties menderita bencana serius dan kota – kota mulai dari Troy dan Gaza mengalami kehancuran. Mesir mengalami kehilangan kendali atas kerajaannya. Di India, peradaban Lembah akhirnya berakhir sekitar tahun 1000 SM.
                Kali Yuga Kedua yang dimulai pada tahun 676 SM ditandai dengan merosotnya nilai pengetahuan, tradisi serta keterampilan yang sebelumnya masih ada pada Kali Yuga sebelumnya. Di Yunani, pembangunan arsitektur monumental menurun drastic. Pasukan cavalery digantikan oleh pasukan pejalan kaki. Style keramik disederhanakan. Di India, penggunaan bahasa Sansekerta sebagai media komunikasi digantikan oleh bahasa masyarakat awam, Pali dan Prakrit. Kemungkinan besar, karena krisis social yang besar inilah, sejumlah filosuf dan nabi muncul pada masa ini, mencoba memaparkan kembali kebijakan yang hilang, dan menyebarkannya kepada masyarakat yang mulai melupakan ajaran – ajaran mulia ini. Di antara mereka, kita bisa menemukan nama Buddha (623 Sm), Pythagoras ( 570 SM), Zoroaster (600 SM), dan Jaina Mahavira (599 SM).
Penutup
Pembagian Siklus Yuga dalam bentuk gelombang seperti paparan di atas sejalan dengan ide filosuf Yunani, Plato, yang membagi jaman di dunia menjadi empat era: Emas, Perak, Perunggu, dan Besi (Jaman Kegelapan). Berdasarkan keterangan di atas, pada saat ini kita sedang berada pada masa Kali Yuga Kedua, setelah melalui jaman Kali Yuga Pertama yang berakhir pada tahun 676 SM.
Catatan yang perlu kiranya kita perhatikan adalah periode transisi antara Kali Yuga Kedua dengan Dwapara Yuga Kedua ( tahun 2025 Masehi – 2325 Masehi), mengingat seperti paparan sebelumnya, selalu terjadi bencana hebat yang sanggup menghancurkan peradaban – peradaban besar setaraf Sumeria dan Yunani Kuno. Apa yang sanggup membuat periode selanjutnya itu luput dari kekuatan tak trelihat dan sulit dijelaskan itu? Siapa yang sanggup memastikan bahwa pada periode transisi yang dialami oleh anak – anak dan cucu – cucu kita itu kita akan baik – baik saja? Perang Teluk, Tragedi WTC, ancaman Perang Dunia Ketiga dan lain – lain seakan menjadi api di dalam sekam bagi terjadinya peristiwa yang menakutkan ini.
Namun, kisah horror tentang periode transisi ini bila diperhatikan menemukan sebentuk optimism tersendiri bagi dunia yang lebih baik, bahkan mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Kita telah melewati periode tergelap dalam sejarah peradaban manusia ketika Kali Yuga yang pertama telah berakhir. Logikanya, setelah Kali Yuga berakhir, maka kesadaran manusia dan dunia bersiap – sedia menyambut Dwapara Yuga ( era kejayaan Sri Krishna), lalu menuju ke Treta Yuga ( era kejayaan Sri Rama), dan akhirnya menuju jaman keemasan Swayambhuva Manu, kesadaran murni.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...