Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Maret 2011

Narsis


Narsisisme adalah istilah yang diperkenalkan oleh Havelock Ellis pada tahun 1898. Istilah ini sendiri berasal dari kata Narsiccus, legenda Yunani, karakter yang jatuh cinta terhadap sosoknya sendiri di dalam cermin. Di dalam psikoanalisis, menurut Sigmund Freud, narsisisme dipandang sebagai sesuatu yang normal dalam perkembangan anak. Setelah melewati masa pubertas, jika narsisisme ini muncul kembali maka dikatakan individu tersebut mengalami narsisisme kedua, dan ini mengindikasikan energi libido yang diarahkan secara eksklusif terhadap diri sendiri. Narsisme kedua ini dianggap tidak normal karena di dalamnya terkandung kecenderungan untuk memanfaatkan orang lain dan mengeksploitasi.

Dalam kadar tertentu narsisisme dianggap normal, dimana seseorang memiliki kecintaan terhadap diri sendiri dan aspirasi realistis. Kondisi ini menjadi tidak normal lagi, dan dapat didiagnose sebagai gangguan kepribadian, saat gejala itu secara signifikan merusak fungsi sosialnya. Individu yang mengalami gangguan kepribadian narsistik ini cenderung menyimpan perasaan merasa penting dan unik secara berlebihan. Dia terlalu sering asyik sendiri tenggelam di dalam fantasinya tentang atribut dirinya dan potensinya untuk sukses, dan biasanya bergantung kepada orang lain untuk menguatkan gambaran diri yang dia bayangkan itu.

Seseorang yang narsis cenderung menemukan kesulitan mendapatkan hubungan interpersonal yang sehat (dengan orang lain), karena berakar dari kurangnya rasa empati dan kecenderungannya yang suka mengambil manfaat dari orang lain akibat ketertarikannya terhadap ‘penaikan harga – diri.’ Gejala narsisisme ini juga sering ditemukan bersamaan dengan gangguan kepribadian antisosial.

Mitologi Narsisus


Di kota Thebes hiduplah seorang peramal yang amat terkenal. Tiresias namanya. Ramalannya selalu tepat. Banyak orang datang kepadanya minta ramalan, petunjuk, dan nasihat.

Adalah peri, mempunyai anak laki-laki bernama Narsisus. Peri itu bertanya pada Tiresias, apakah anaknya dapat hidup sampai tua. Peramal itu menjawab, “Bisa, asal ia tidak pernah mengenal dirinya sendiri.”

Sampai lama sekali, ramalan itu seakan-akan tidak mempunyai arti apapun.
Ketika Narsisus berumur enam belas tahun, ia disukai oleh banyak anak muda dan dicintai oleh banyak gadis. Tetapi ia terlalu sombong, tidak mau memperhatikan orang lain.

Sekali peristiwa, ketika ia bersama teman-temannya sedang memburu seekor rusa, peri Ekho melihatnya. Ekho tidak dapat bercakap-cakap, tapi juga tidak dapat berdiam diri kalau ada orang sedang bercakap-cakap. Ia hanya dapat mengucapkan kata-kata terakhir kalimat yang diucapkan orang lain. Ini akibat kutukan Yuno. Konon Yuno sangat marah kepada Ekho, karena Ekho mengajak berbicara terlalu lama untuk mengorek keterangan apa yang sedang dilakukan oleh suami Yuno, Yupiter.

Ketika dilihatnya Narsisus berjalan-jalan di dalam rimba, Ekho jatuh cinta. Dengan sembunyi-sembunyi ia mengikuti jejak Narsisus. Betapa besar keinginannya hendak mengajak berbicara dan membisikkan kata-kata yang lembut ke telinga Narsisus. Tetapi hal itu tidak dapat dilakukannya. Ia tidak mampu berbicara terlebih dahulu. Ia hanya dapat menunggu sampai Narsisus berbicara, lalu mengikuti dengan kata-katanya sendiri.

Pada suatu ketika, Narsisus terpisah dari teman-temannya. Ia pun berseru, “Apakah ada orang di sini?”

Ekho menjawab, “Di sini!”
Narsisus melihat ke sekeliling dengan heran. “Datanglah kemari!” teriaknya.
Sahut Ekho, “Datanglah kemari!”

Sekali lagi Narsisus memandang ke sekeliling dan seorang pun tak ada yang muncul. Ia berseru lagi, “Mengapa engkau menghindari aku?” Sekali lagi kata-kata yang sama terdengar olehnya. Ia berdiri tegak dan berdiam diri, bertanya dalam hati, suara siapakah gerangan itu. Lalu ia berseru, “Mari kita bertemu di sini!”

“Bertemu di sini!” jawab Ekho, lalu keluar dari tempat persembunyiannya, menghampiri Narsisus. Ingin sekali ia berdampingan. Tetapi Narsisus lari, sambil berseru, “Jangan sentuh aku! Lebih baik aku mati sebelum engkau menyentuh aku!”

“Sebelum engkau menyentuh aku!” sahut Ekho. Dan Ekho pun tidak dapat berbicara lebih lanjut. Cintanya ditolak. Hal itu dirasakannya sebagai penghinaan. Ia bersembunyi di hutan. Ditutupinya wajahnya yang kemerah-merahan karena malu dengan dedaunan. Kemudian ia hidup sendiri di gua-gua. Cintanya tak padam. Bahkan semakin menyala karena ditempa oleh kesedihan. Karena kurang tidur dan dirundung sedih, badannya semakin susut. Ia makin kurus. Semua zat yang mengandung air di dalam tubuhnya menguap ke udara. Hanya tinggal tulang-tulang dan suaranya. Suaranya masih tetap kedengaran. Tulang-tulangnya menurut cerita orang telah berubah menjadi batu. Ia tetap bersembunyi di hutan-hutan dan tidak pernah terlihat lagi di bukit-bukit. Namun semua orang dapat mendengar suaranya. Suaranyalah yang masih hidup.

Bukan Ekho saja yang telah dihina oleh Narsisus. Juga pemuda-pemuda temannya sendiri. Akhirnya salah seorang pemuda yang menderita karena perlakuan Narsisus, berdoa kepada dewa-dewa, “Semoga ia jatuh cinta seperti Ekho, tetapi terhadap dirinya sendiri. Dan semoga ia tidak dapat memperoleh apa yang dicintainya!” Doa itu rupanya didengar juga oleh Dewi Nemesis.

Di tengah-tengah rimba ada sebuah kolam dengan air jernih cemerlang. Tempat itu belum pernah dikunjungi oleh gembala atau ternak yang merumput di bukit-bukit. Tidak pernah ada burung yang datang ke sana. Bahkan ranting patah pun yang jatuh dari pepohonan di sekitarnya tidak pernah mengusik ketenangan permukaan air. Di sekitar kolam itu ada tanah datar berumput yang sejuk.

Datanglah Narsisus ke tempat itu. Ia senang melihat keteduhan di tempat itu, lalu berbaring di tepi kolam. Memandanglah mukanya ke permukaan air yang jernih. Tampak bayangan wajah di dalam air. Dipandangnya dengan penuh keheranan. Ia tertegun memandang mata yang cemerlang, pipi yang lembut, leher yang halus seperti gading, dan wajah yang cantik.Ia tidak mengetahui bahwa yang dipandangnya itu bayangan wajahnya sendiri. Ia pun jatuh cinta kepada wajahnya yang rupawan itu. Dan wajah di dalam air itu pun memandang kepada Narsisus dengan sepenuh cinta kasih.

Tidak puas-puasnya ia memandang bayangan wajahnya sendiri.
Ia bangkit, merentangkan lengannya lalu berseru kepada pepohonan di sekelilingnya, “O, kalian rimba dan pepohonan! Kalian yang menyaksikan sekian banyak percintaan, adakah orang yang lebih celaka daripada aku? Aku dapat melihat, tetapi tidak dapat menyentuh apa yang aku inginkan. Seakan-akan ada lautan luas yang memisahkan kami berdua. Sebenarnya kami hanya dipisahkan oleh air kolam. Wajahnya selalu memandangku dengan cinta kasih, senantiasa membalas senyumku, bahkan ikut menangis jika aku menangis. Tetapi mengapa ia selalu menghindar dariku?”

Dipandangnya lagi bayangannya sendiri dalam air. Ketika air matanya terjatuh di air, bayangan itu tampak gemetar dan terpecah-pecah.
“Jangan tinggalkan aku!” teriak Narsisus.
Demikianlah ia merana di tepi kolam itu.

Ekho, walaupun marah kepada Narsisus, sangat sedih ketika melihatnya. Kalau Narsisus berseru, “Aduhai!”, Ekho pun mengulangi, “Aduhai!”

Sambil memandang ke permukaan air, Narsisus berkata mesra, “Selamat tinggal, wajah yang aku cintai dengan sia-sia!” Lalu Narsisus meletakkan kepalanya di atas rumput. Maut menutupi matanya yang mengagumi keindahan wajahnya sendiri.

Peri-peri di rimba dan di sungai-sungai berduka cita atas kematiannya, sedang Ekho selalu menjawab tangis peri-peri itu. Mereka menyiapkan penguburannya dengan obor-obor dan timbunan kayu bakar. Tetapi tubuh Narsisus tidak dapat ditemukan, walaupun dicari ke mana-mana. Di tempat tubuhnya terbaring, mereka mendapati sekuntum bunga. Warnanya kuning dikelilingi kelopak-kelopak berwarna putih. Dari situlah , ada bunga yang namanya bunga narsis.

Source :
1. Wikipedia
2. www.kaskus.us/showthread.php?t=4815651
3. http://dityadewi.blogspot.com
4. www.Britannica.com

Sabtu, 12 Februari 2011

Put Your Soul Here !!!


Filsafat idealisme Plato mengisyaratkan bahwa kita hidup di dalam dua dunia: Pertama, dunia jasmani, yang berubah, jamak, inderawi; Yang kedua, dunia idea yang kekal, sempurna, tiada perubahan, tiada kejamakan,merupakan "ada" yang sebenarnya. Idea tidak dipengaruhi oleh benda jasmani, namun sebaliknya: Idea-idea mendasari dan menyebabkan benda-benda jasmani.

Manusia adalah kombinasi dari kedua dunia ini: tubuh dan jiwa. Jiwa berasal dari dunia idea, dan sekarang terkurung di dalam tubuh. Kenyataan ini sejalan dengan Bhagavadgitha yang menekankan bahwa pada hakekatnya kita semua adalah makhluk rohani yang kekal, identitas tanpa batas, bahagia di Langit Rohani. Konon, karena saking mendalamnya pengetahuan kesadaran yang terkandung di dalam Bhagavadgitha, Albert Einstein nan jenius akhirnya mampu memformulakan Hukum Relativitas – nya yang terkenal: E = m c2. Sederhananya, keseluruhan materi di dalam semesta ini bisa ada karena ada energi laten yang bekerja di belakangya. m ada karena E, begitulah kira – kira.

Di dalam kesehariaan manusia pada zaman yang semakin rapuh ini, kenyataan Kebenaran di atas sering diingkari. Semakin banyak manusia yang lebih bertumpu kepada materi ketimbang Energi – nya. Demi mencapai kekuasaan, melupakan arti persahabatan. Demi meraih kehidupan penuh kelimpahan materi, meninggalkan nurani dan melakukan tindakan tidak terpuji. Perampokan, pembunuhan, perkosaan semakin biasa menjadi tajuk utama di media – media massa, seakan – akan membenarkan bahwa tujuan utama kehidupan manusia di dunia adalah demi pengumpulan materi yang sebanyak – banyaknya. Padahal, Khalil Gibran telah pula menggoreskan aforisma dengan pena emasnya, memaklumkan bahwa harta – benda bukanlah yang utama di dunia ini:

Akal dan pikiran itu seperti raga dan jiwa
Tanpa raga, jiwa hanyalah udara hampa
Tanpa jiwa, raga adalah kerangka tanpa makna.


Ah, betapa pentingnya kedua dunia ini saling mengisi dan seimbang, seumpama Yin dan Yang, teori dan praktek, pemahaman dan aplikasi..... Mungkin, akan tiba saatnya, ketika benar – benar meresapi semuanya ini,akhirnya kita menyadari paling tidak satu hal, bahwa segala yang ada di dalam semesta ini tercipta untuk menemukan “Something Great behind the scene.” (Haanel, The Master Key System )

Sudah saatnya kita menekankan pendekatan jiwa di dalam keseharian kita – saat belajar menempa ilmu, di dalam pergaulan, menyematkan cita – cita di kolong langit, dalam setiap langkah dan nafas kita! Jangan mau menjadi radio yang hanya bisa bersuara, tapi tidak ada tindakan nyata. Jangan pula seperti flashdisk, pintar menyimpan informasi namun tiada mampu memilah makna dan isi. Taruhlah jiwa Anda di dalamnya! Put Your Soul! Biarkan menyusup perlahan di dalam hati dan rasakan betapa daya di dalam diri kita semakin hari semakin kuat hingga yang terasa hanyalah kebahagiaan sejati, bukan kesenangan semu karena materi yang sedari tercipta memang tiada pernah tertakdir untuk abadi.

Jayalah Jiva !!!

Rabu, 09 Februari 2011

MELIHAT DARI (TIDAK HANYA) SATU SISI


Alkisah, beribu – ribu tahun yang lalu, hiduplah seorang bandit, pembunuh dan perampok sadis dan brutal di daratan India. Modus kejahatannya sangat spesifik, yakni membegal siapa saja yang melintasi hutan tempatnya ‘beroperasi’ dan tanpa mengenal belas – kasihan, bila yang dibegal melawan, dia membunuh mereka lalu menjadikan jari – jari korbannya sebagai kalung menghiasi lehernya. Tak heran bila dia mendapat julukan Ratnakara (Ratna= perhiasan; Kara=tangan).

Pada suatu hari, seorang saddhu bernama Naradha melintasi hutan itu dan Ratnakara berniat untuk merampoknya pula. Namun, niatnya merampok tiba – tiba menghilang begitu saja karena – dia sendiri tak bisa menjelaskan mengapa – dia terhanyut melihat air muka sang saddhu yang begitu memukau dan bercahaya, diliputi kasih yang sulit digambarkan dengan kata – kata. Singkat cerita, Ratnakara menurunkan senjatanya dan bersembah – sujud kepada sang mahamuni, memohon petunjuk bagaimana caranya agar dia juga bisa memiliki cahaya wajah seperti yang dimiliki oleh Naradha. Naradha lalu berkata, itu disebabkan karena beliau selalu melantunkan nama Tuhan dalam setiap jengkal langkahnya, dalam setiap hembusan nafasnya.

Saking inginnya Ratnakara merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Naradha, dia pun mulai melakukan meditasi bertahun – tahun, hingga sekujur tubuhnya mulai dijadikan tempat bersarang para semut. Dia lalu mendapatkan pencerahan, dan pada kemudian hari mendapatkan nama Walmiki, dia yang terlahir dari bukit semut (walmiki = bukit semut). Nah, Walmiki yang sama inilah yang kemudian menggubah epos kepahlawanan yang terkenal, Ramayana. Karena epos ini adalah gubahan pertama yang menjadi karangan berbahasa Sansekerta, Ramayana juga dikatakan sebagai ‘Adi Kavya’ – puisi pertama!

Sepanjang sejarah manusia, transformasi, perubahan drastis karakter seseorang dari yang ‘kurang baik’ menjadi ‘baik’ bukanlah sesuatu yang mustahil. Di samping itu, apalah kehidupan ini bila bukan proses perkembangan menuju ke arah yang lebih baik? Sejarah kuno telah pula mencatat bahwa Prahlada, anak dari Raksasa Hiranyakasipu adalah pribadi pemeluk teguh Wishnu, Rahwana adalah pemuja Shiva yang sangat taat, namun menyalahgunakan anugerah yang diberikan Shiva kepadanya dengan berbuat sewenang – wenang, melakukan tindakan yang melanggar hukum dharma.

Terdapat paradoks dalam setiap jalan hidup dan karakter seseorang tanpa terkecuali. Hitler, misalnya, terkenal karena dia-lah yang menjadi otak utama Perang Dunia II, aktor di balik pembantaian terhadap berjuta kaum Yahudi, terutama yang berada di Eropa; sumber kekacauan ekonomi akibat perang yang berlangsung lama. Siapa kemudian yang bisa menyangka bahwa dia adalah seorang vegetarian yang sangat ketat dan seorang politisi yang sangat setia kepada pasangannya? Asumsinya, politisi memiliki kecenderungan untuk berpoligami atau terlibat affair dengan perempuan lain, meskipun tidak selalu demikian. Atau, siapa pula yang menyangka bahwa Napoleon Bonaparte, sang kaisar penakluk daratan Eropa, saat berusia 25 tahun pernah dipecat dari ketentaraan? Selain itu ia telah dipermalukan, patah semangat, tanpa harapan, tanpa uang. Puncaknya, ia berniat untuk bunuh diri dengan meloncat dari sebuah jembatan. Untungnya, seorang temannya datang dan berhasil membujuknya untuk membatalkan niat itu.

Dalam konteks kekinian yang lebih mikro, di lingkungan pergaulan sehari – hari, situasinya setali tiga uang. Penerapan stereotip bahwa ‘teman yang ini’ pasti ‘begini’, dan ‘teman yang itu’ pasti ‘begitu’ tanpa kita sadari adalah cara yang paling sering kita terapkan dalam memandang seseorang. Istilah ‘suba kadong macolek pamor,’ misalnya, mengacu kepada seseorang yang sudah terlanjur di-cap yang negatif akibat yang bersangkutan melanggar norma – norma yang berlaku di dalam masyarakat sosial-nya, yang berat maupun ringan. Kontrol sosial memang diperlukan, bahkan wajib diterapkan demi ketertiban bersama. Kontrol diperlukan untuk menjamin bahwa semuanya mendapatkan apa yang seharunya memang layak diterima seseorang. Seorang pencuri, misalnya, layak dijebloskan ke penjara untuk mempertanggung – jawabka perbuatannya itu. Wajar dan etis.

Yang menjadi perkara kemudian adalah adanya semacam bentuk kontrol yang over-flowing, berlebih – lebihan terhadap seseorang yang meskipun memang bersalah namun seakan – akan mendapati dirinya memasuki apa yang dinamakan ‘the point of no return’, tak ada jalan untuk kembali ke dalam masyarakat, dikucilkan, di’colekin pamor,’hingga suatu saat ketika dia mati, barulah masyarakat yang sama mengatakan sekedar basa – basi tentang kebaikan yang pernah diperbuat oleh individu yang bersangkutan. Tidaklah mengherankan jika kemudian Eddie Vadder, penulis lagu berkebangsaan Amerika menuliskan, “Society, you’re crazy breed... I hope you’re not lonely without me” (Masyarakat, sungguh kau gila... Semoga kau tak kesepian tanpa diriku). Aku lirik seakan bosan dengan pelabelan dan segala bentuk pencolak – colekan pamor yang dilakukan oleh masyarakat kita yang ‘berbudaya.’ Dia, dalam kemuakan terhadap basa – basi di dalam kumpulan, memaklumkan diri untuk berpamitan kepada masyarakatnya.

Diakui atau tidak, terdapat gejala kontrol sosial yang disalahgunakan oleh komponen masyarakat tertentu untuk alasan – alasan yang bersifat pribadi. Si A misalnya dengan sengaja membuat berita – berita yang tidak jelas kebenarannya tentang Si D, bahwa Si D itu telah melakukan hal – hal tidak terpuji. Singkatnya, Si A memfitnah Si D. Apa yang kemudian terjadi? Si D menjadi tersudut, tertindas, syukur – syukur dia bisa membela diri dengan mengklarifikasi bahwa berita itu nggak bener, isu, gosip murahan, cerita picisan. Tapi,yah, namanya saja kita hidup di negara yang namanya Indonesia, negeri di mana infotainment dan opera sabun begitu digandrungi dan digila – gilai layaknya kekasih tercinta. Biasanya yang terjadi dalam kasus Si A dan Si D ini adalah sad ending : terbunuhnya karakter Si D. Tercolekilah jidat Si D oleh pamor keramat yang sangat “sialan” itu bagi Si D!

Kita sudah terbiasa dikondisikan untuk menyukai berita – berita sensasional, heboh dan dibuat dramatis sedemikian rupa. Kebenaran dipelintir, keadilan dipolitisir sehingga tanpa rasa bersalah menjadikan satu orang dan yang lainnya menjadi korban kepentingan pribadi. “Idup cang, mati cai”, kira – kira seperti itulah kalau diperibahasakan. Begitu mudahnya terkadang kita memberikan label tertentu kepada seseorang tanpa menyelami lebih mendalam terhadap pribadinya. Sering, malah, jika saja persefektif kita diperluas sedikit lagi saja, terdapat bias yang begitu kentara di dalam masyarakat kita yang begitu kompleks. Iwan Fals dan Rendra mengkristalisasi kenyataan ini dengan menuliskan,”Orang sinting dianggap penting, Orang ngawur dianggap jujur.” Ada pengendalian massa oleh tangan – tangan tak terlihat yang dengan sengaja mengaburkan kenyataan yang sebenarnya dari seseorang atau sesuatu. Ada ketidakadilan dalam tindakan sengaja mengecilkan keberadaan seseorang yang semestinya layak menerima lebih; dan membesarkan keberadaan seseorang yang mestinya menerima sedikit, bahkan tidak layak mendapatkan apa – apa sama sekali.

Untunglah, kewarasan individu – individu di dalam menanggapi isu, gosip, fitnah serta pembunuhan karakter ini tak melulu reaktif dan hantam kromo. Dia bisa saja menggugat balik penebar isu – isu itu, dan ini sangatlah manusiawi, mengingat insting purba manusia yang berupa agresivitas hewaniah adalah sesuatu yang laten berada dalam diri setiap manusia. Sebaliknya, dia malah berpegang kepada naluri Ilahiah yang juga laten berada di dalam dirinya. Ketika menerima perlakuan dilabeli sebagai Ratnakara yang jelek, brengsek, asshole, dsb, dia tidak serta – merta membalas sang pelabel dengan kata – kata atau tindakan yang kira – kira setara dengan yang diberikannya itu. Dia malah bisa dengan kematangan dan kedewasaan hati bersikap sabar dan tidak termakan pancingan memperkeruh suasana. Bisalah diperumpamakan dia bertapa, mendekatkan diri dengan pribadi Yang Mahakuasa, hingga bisalah menjadi pribadi seagung Walmiki. Toh, kalaupun tidak bisa mencapai tingkat semacam itu, masyarakat kita juga mengenal istilah ‘depang anake ngadanin’, biarlah orang – orang melabeli saya yang macam – macam. Yang tahu diri saya tetaplah saya dan Yang Mahakuasa. ‘Saya bukanlah siapa yang anda katakan tentang diri saya, Saya adalah apa yang dikatakan oleh – Nya’, mengutip pernyataan Haanel dalam bukunya, The Master Key System. Dan, kabar baiknya adalah, kita, umat manusia, adalah anak – anak-Nya yang terkasih. Tanpa terkecuali.

Ada baiknya kita mengatakan kepada para penebar isu, penyebar wabah penyakit masyarakat kenyataan agung semacam itu, meskipun tentu saja, dengan melakukan itu hampir sama dengan menyadarkan seseorang yang sedari awal tidak mau disadarkan.

Rabu, 19 Januari 2011

of Crimes and Punishment

Nurani saya tersentil ketika salah seorang alumni sekolah kita tercinta menyoroti permasalahan “Crime and Punishment” (kejahatan dan hukuman) di Rensma. Atau mungkin lebih tepat lagi bila dikatakan sebagai kenakalan, mengingat anak – anak tidak bisa dikatakan jahat tetapi ‘cuma’ nakal. Dia berkata bahwa pemberian hukuman kepada siswa yang melanggar tata – tertib sekolah adalah potret pendidikan yang timpang. Mentalitas dan moralitas yang menyimpang tidak bisa direkonstruksi dengan hukuman fisik. Yang ada nanti hanya akan melahirkan dendam dan rasa apatis. Dia kemudian mengambil ilustrasi Sutasoma yang mengorbankan dirinya untuk harimau yang lapar dan ingin memakan anaknya,bukannya membunuh harimau itu,padahal ia memiliki potensi untuk melakukan itu. “Seorang guru apabila ingin menaklukkan sifat – sifat harimau (kebinatangan) harus dilakukan dengan cinta kasih. Saksana mijil..............!!!!!,” begitu katanya.

Hmmm…. Sebuah argumentasi yang sangat menarik untuk dikaji, saya rasa, mengingat ‘acara’ hukum – menghukum memasuki ranah siklus yang tidak bisa dianggap enteng. Di sana tersirat nilai kedisiplinan, administrasi, organisasi, manajemen, dan yang terakhir berpangkal kepada kepemimpinan. Kepemimpinan sendiri menyiratkan suatu seni atau pengetahuan untuk menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.


Kepemimpinan adalah inti dari Organisasi, Manajemen dan Administrasi. Terdapat kode – kode tertentu yang dijadikan bahan berpijak oleh para pemimpin, dari skala kecil sampai pemimpin Negara. Di skala sekolah, para guru-lah yang diharapkan menjadi pemimpin – pemimpin yang baik bagi kelangsungan sekolah.

Sebagai pemimpin yang baik, seorang guru setidaknya mesti bisa mengisi dua pos penting di dalam diri siswa: satu di otak, lainnya di hati. Itu artinya seorang guru selain bisa mengarahkan para siswanya untuk menjadi cerdas dan cekatan dari segi keilmuan, juga harus bisa membentuk siswa menjadi pribadi yang memiliki kehalusan karakter, menjunjung nilai – nilai kesusilaan dan moralitas.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dari sekian banyaknya siswa yang ada, pasti ada saja siswa yang mbhalelo, neko – neko, semau dhewe, dan/atau melanggar peraturan – peraturan yang telah menjadi kesepakatan bersama. Di dalam kesepakatan bersama itu telah pula disertakan bentuk – bentuk hukuman yang akan dikenakan bila siswa yang bersangkutan melanggar peraturan yang ada. Jadi, di mana letak permasalahannya?

Pemberian hukuman kepada yang melanggar hendaknya tidak dipandang sebagai sebentuk otoriterisasi terhadap siswa karena, bagaimanapun, pendekatan kasih sayang sepertinya sudah tercakup di dalam bentuk crime and punishment di sini. Ambillah contoh induk kucing membawa anak - anaknya ke tempat yg aman dan nyaman,seolah – olah akan memakan pungguk anaknya,tapi itulah kasih sayang. Atau, ambillah contoh seorang dokter yang harus mengangkat kanker ganas dari tubuh pasien dengan cara mengoyak daging kulit pasien. Dari perspektif tertentu, sepertinya sang dokter terlihat sadis dan tidak mengenal belas kasihan, tapi bisakah dikatakan bahwa dokter itu melakukan tindakan yang tidak tepat? Atau, bisakah seorang Arjuna dikatakan sebagai manusia yang durhaka ketika dia dengan tanpa ragu menghujamkan panah – panahnya kepada Bhisma yang tak lain adalah kakeknya sendiri; gurunya Dhrona, beserta Kaurawa dalam perang Bharata Yudha?

Motif yang melandasi penghukuman itu adalah agar yang diberi hukuman paling tidak mulai berpikir : “Sudahkah saya benar dalam mengambil sikap? Kenapa teman saya yang lain tidak dihukum? Apa kesalahan yang telah saya perbuat?” Penghukuman adalah media untuk berintrospeksi, begitulah kira – kira. Terus, bagaimana dengan pendekatan kasih – sayang? Ingin rasanya saya menanyakan lebih lanjut kepada alumni Rensma ini bagaimana relevansi kisah Sutasoma ini kalau diterapkan ketika seorang siswa sehari – harinya ada saja yang membolos pelajaran, bersembunyi di kolong – kolong meja Ibu penjual nasi di kantin sekolah, memakai celana panjang sekolah model pensil dan spidol, dst. Karakter mereka makin bregajulan, berontak tanpa motif, ngawur. Seseorang harus mengarahkan mereka kembali ke jalan yang sewajar – wajarnya karena entah mereka menyadari atau tidak, mereka kehilangan orientasi akan mana yang benar dan mana yang salah untuk dilakukan. Jangan sampai terjadi, seperti pepatah mengatakan,”Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Kekurangdisiplinan mereka bisa saja menjadi wabah yang pada akhirnya bisa saja melumpuhkan seluruh isi Rensma.

Para orang – tua siswa pun sepertinya telah menyadari soal hukum – menghukum itu dengan jernih. Mereka menyekolahkan anak – anak mereka paling tidak dengan harapan agar kelak putra/putri mereka menjadi pribadi yang berguna bagi diri – sendiri, keluarga, bangsa dan Negara. Mereka tidak sekedar nyekolang panak tapi nyekolahang panak agar memiliki bebet dan bobot yang makin baik, jika bibit sudah tidak bisa diutak – atik lagi. Sudah takdir.
Chanakya Nitisasthra sendiri membenarkan diberikannya hukuman kepada mereka yang melanggar, dan yang pasti tujuannya tentu demi kebaikan bersama.

“Janganlah selalu memanjakan anakmu. Hal itu sungguh tidak membantu; malah dapat mencelakakan dirimu dan dirinya sendiri. Kau pun pusing, akhirnya meninggalkan anak istri. Tertibkan anakmu dengan peraturan, bila perlu dengan hukuman. Itu cara yang tepat untuk mendidik seorang anak, supaya ia menjadi baik dan dihormati orang bijak.”
(Nitisasthra IV. 21)

Jadi, motif pemberian hukuman ini akhirnya bermuara juga kepada sang anak agar kelak dia menjadi pribadi yang suputra, dihormati orang bijak. Bukan malah sebaliknya menjadi asuputra, apalagi putra asu. Bayangkanlah bila hukuman tidak pernah diterapkan di Negara kita ini. Kepada pencuri, perampok, pemerkosa, koruptor dan kriminal – kriminal lainnya, kita berikan mereka petuah – petuah bijak sambil menepuk – nepuk pundak mereka sambil berkata.” Nak…. Berhentilah berbuat barbar dan kembalilah ke jalan yang benar.”

Tidak ada senjata. Tidak ada penjara.

KITA INI MANUSIA MATRE, DAN RUSAK, DAN SAKIT


Setidaknya, kita sepaham, dunia yang kita tinggali ini semakin ringsek oleh materialisme dengan berkembangnya industrialisasi, modernisasi, atau apalah “sasi – sasi” yang lainnya. Jangankan di Amerika dan di Jepang yang menjadi sarang industri dan advertisi, di negara yang masih dalam tahap merangkak pun gejala materialisme masih bisa dengan mudah dideteksi – sepanjang di sana paling tidak ada Coca – Cola. Semboyan sebagian besar dari kita telah berubah dari “I am what I am” menjadi “I am what I own.” Saya adalah apa yang saya miliki.

Ramai – ramai kita mengikuti pola yang sama sampai ajal menjemput, membeli produk yang kira – kira bisa mencerminkan “Siapa Saya.” Kita menjadi terobsesi membeli Blekberi karena masyarakat kita umumnya punya pandangan yang seragam bahwa orang yang memiliki Blekberi sudah pasti orang berpunya, manusia macho, orang berpendidikan, nggak gaptek/ndesho, kutukhupret…

Padahal bisa saja Blekberi yang dia punya hasil ngambek seminggu sama ortu, atau cicilan 6 bulan, bunga menetap atau menanjak, gak masalah. Dan lebih parah lagi hasil mencopet di angkot.

Para ABG memaksa ortu agar mau membelikan FU, biar cewe’ – cewe’ pada bilang “I Love You,” kemudian yang cewe’ juga nggak mau ketinggalan meminta VARIO karena itulah motor yang lagi in untuk dikendarai kaum ABG.

Persoalannya bukan hanya pada Blekberi, FU dan VARIO saja. Mereka – mereka itu hanyalah perwakilan kecil saja dari kekaisaran yang bernama produk industri. Induk semangnya adalah modernisme, industrialisme dan “whatever”-isme itu. Lihatlah contoh kecil saja, seorang tetangga kita yang baik memiliki TV flatscreen merk #1. Anda bisa saja berkata di depannya,”Wow, keren, saya ikut senang kamu punya itu,” namun dalam hati berkata,” Minggu depan gwa kudu punya juga yang beginian…. HARUS!!.”

Dan mulailah terjadi parodi kehidupan (lagi). Sedari kita beranjak dari tempat tidur pada pagi hari hingga kembali terlelap lagi, yang terpikirkan adalah bagaimana caranya untuk bisa membeli ini dan itu. Kendaraan Anda tukar – tambah dengan yang lagi nge-trend, agar Anda kembali mendapatkan perhatian seperti ketika kendaraan yang lama lagi digila-gilai. Anda merasa risih ketika ditanya tidak tahu lagu tertentu yang lagi populer, sehingga benar – benar meluangkan diri pergi ke counter – counter untuk meng-update lagu – lagu terbaru. Entah itu lagu berkualitas sampah ataupun dengan lirik dangkal, yang penting baru! Kulkas dua pintu sudah tidak eksklusif lagi di mata masyarakat, sehingga Anda ganti dengan kulkas delapan pintu dan dua jendela…. Sikat gigi harus merek Anu; Sabun harus yang Itu; Ya, tanpa sadar, hidup kita dikendalikan oleh industri dengan iklan – iklannya yang membombardir di sana – sini. Bahasanya santun dan mendayu – merayu. Namun sayup – sayup, jika Anda memperhatikan benar, akan terdengar kalimat samar,”KAMI INGIN UANG ANDA.” Bayangkan, Iklan – iklan di TV dalam 2 jam per hari antara 40-125 jenis. Itu berarti dalam setahun kira – kira kita mengkonsumsi 15000 – 45000 iklan. Belum lagi yang dipajang di koran – koran, majalah, radio, internet dan etalase – etalasi pinggir jalan.

Materialisme adalah: Beli! Miliki! Kenyataan bahwa kita sering membeli barang yang sebenarnya tidak begitu kita perlukan telah menjadi kebiasaan klise dalam budaya keseharian kita. Kita menjadi makhluk konsumtif bukan lagi makhluk berpikir, makhluk beragama, makhluk berkomunikasi, ataupun makhluk terhormat yang biasa kita sematkan dengan bangga kepada diri kita. Seorang pemikir ekonomi pernah berkata, implikasi dari pandangan metafisik materialisme adalah menuju sistem nilai yang karena menganggap kenyataan hidup hanya benda, maka tujuan hidup adalah mengejar kenikmaan fisik. Jadi materialisme sejajar dengan hedonisme. Hedonisme sangat identik dengan hasrat mencari kepuasan, sehingga apapun akan dilakukan untuk menghindari apa yang dinamakan penderitaan.

Cara materialisme menaklukkan hati kita sangat halus dan licin. Ia bisa masuk melalui kebutuhan - kebutuhan wajar kita: rumah berkamar dua-tiga, bergarasi; Perlengkapan: kulkas, mesin cuci, micro-wave, AC, dsb. Ukuran itu terus meningkat. Dari keinginan menjadi kebutuhan, dari kebutuhan menjadi keharusan. Akhirnya materialisme membuat kita mengabdi kepada ukuran – ukuran standar kebutuhan, kenikmatan, dll. HP menjadi tak cukup lagi sebagai sarana berkomunikasi, tapi media untuk menunjukkan bahwa kita manusia yang gaul, sehingga Anda rela menguras isi tabungan untuk membeli produk tertentu yang benar – benar lagi booming dibicarakan banyak orang. Yang lama dikasih kucing aja. Anda bangga menjadi yang pertama memiliki produk yang orang lain baru bisa angan – angankan.

Masalah terbahaya dari materialisme adalah kita dibutakan tentang aspek atau sifat spiritual dari realita. Materialisme membuat kita terbelenggu dengan sisi materi dari kehidupan. Semua waktu, tenaga, pikiran kita terfokuskan pada aspek – aspek fisik hidup ini. Akibatnya pemahaman dan penghayatan kita tentang hidup menjadi datar, bahkan ukuran – ukuran materialistik kita pakai untuk mengukur spiritualitas.

Industrialisme yang menawarkan kenikmatan semu menjual gaya hidup kepada kita, yang lebih lanjut mengakibatkan budaya kompetisi materialisme serta membuat kita menjadi sangat individualis dan serakah dalam hidup bersosialisasi. Profesor bidang kejiwaan anak-anak dari Institute of Child Health London Philip Graham menyatakan, salah satu faktor penyebab utama munculnya masalah mental pada anak-anak dan remaja adalah akibat keinginan untuk memenuhi rasa ingin memiliki yang berlebihan (posesif). Salah satunya dalam hal berpakaian atau barang-barang elektronik.

Terlebih lagi, bayangkan berapa banyak rongsokan yang terkumpul setiap tahunnya saat produk – produk industri yang lama digantikan dengan yang baru. Tengoklah kota – kota besar maupun yang tidak terlalu besar. Mobil – mobil mewah saling berebut tempat atas nama eksistensi, asapnya gagah merasuki paru – paru bumi, saling unjuk privilege. Oplet tua tinggal legenda, Nokia tipe batako memenuhi kantong pemulung. Plastik – plastik berbaris liar mengikuti dunia yang, katanya, makin moderen dan metropolis. Dan kita meletakkan jiwa kita di sana.Di sini, di kota – kota besar ini, juga di rumah – rumah ibadah sekalipun sangat jarang terdengar,” Pertuhanlah Tuan Sejati, perbudaklah materi. Tuhan hartaku, atau harta tuanku?.”

FREE MP3 : TOP 10 LAGU INDO YANG MESTINYA LOE DENGER !


Lupakan sejenak ST12 !
Lupakan Radja, Kangen Band dan band - band alay lainnya!!
Here comes The Real Band of Indonesia..
Mereka - mereka ini adalah Raja Tanpa Mahkota,
Musisi sejati tanpa Platinum ataupun Top-selling Band di industri kita yang sarat manipulasi demi kepentingan Kapitalisme:
(Liriknya asyik juga tuch, dijadikan status update di account Fesbuk kamu!! Ha ha ha ^ ^ ...

1. Seringai - "Alkohol""

"Yeah! Usiaku tak bertambah muda.
Tapi sikapku menolak tua.
Energiku octane tinggi.
Bakar nafsu, tetaplah muda.
ALKOHOL. Yeah.

Tetap anak, enggan dewasa.
Nafas ini, tak henti berjalan.
Lagu ini untuk kalian :
Generasi penolak tua.
ALKOHOL. Yeah.
ALKOHOL."

2. The S.I.G.I.T. - "Did I Ask Your Opinion???""

"dun talks no more
idnt wanna listen to those bullshit anymore
dun talks no more
idnt wanna listen to the craps anymore
dun talks no more yeah..

did i ask yr opinion?
u only talk when i want u to do so

dun talks no more..
idnt wanna hear bout it or think bout it
idnt want to face around my fren
and i dnt want to wheels around my gang"

3. KOIL - "Sistem Kepemilikan""

"makan tidak makan bersama
asal kita berdua punya uang berjutajuta
bisalah kita belanja bersukaria
bahkan bisa membeli cinta

peribahasa bodoh yang harus aku dengar
bagaikan suara halilintar
berkumandang memekakkan telinga
dari mulut pemimpin negara sampai para
pelawak pemberontak yang tidak merubah apa apa
dan para pelajar yang
merasa dirinya benar benar pintar

kau kira siapa dirimu
bisa membeli hidupku yang rapuh
mengisi hari bekerja dan patuh
bukan menjadi manusia yang tangguh

aku kira siapa diriku mencoba setia dan tunduk padamu
dan kutanya sanggupkah diriku
membawa mimpiku ke dunia yang baru
mengubur mimpiku agar semua bisa makan

ini negara bodoh yang sangat aku bela
layaknya kekasih yang tercinta
tiap jengkal aku mendaki terasa hampa
sebetulnya apa yang kita miliki? tak ada
kebanggaan terhadap diri sendiri? tidak juga
kepemilikan negara ini?
siapa yang kucacimaki?

kamu dididik untuk bermimpi
kamu terbiasa dibohongi
kamu dihibur ikut bernyanyi
kamu miskin bodoh dan sombong

4. Dojihatori - "This Soul"

"Yeaahh.... you running to my soul... but it's alright.."

5. Monkey to Millionaire - "Rules and Policy"

"We do such thing, but they tell us not to
We can do something, but they tell us not to
We can do something, but they said is nothing
Oh well what would we do?
We can do something, but they said is nothing
Oh well what would we do?"


6. The Adams - "Konservatif""

"Siang kusaksikan engkau terduduk sendiri
Dengan kostummu yang berkilau
Dan angin sedang kencang – kencang
Berhembus
Di Jakarta

Dan aku kan berada di teras rumahmu
Saat air engkau suguhkan
Dan kita bicara tentang apa saja

Siang lambat laun telah menjadi malam
Dan kini telah gelas ketiga
Jam sembilan malam aku pulang"

7. Heinrich Maneuver - "Don't Blame It""

"Just don't blame it to the rest, no moreee"

8. Stripe Plus - "Boring Forever""

"Di malam diam kutinggalkan rumah
penuh sesak rasa amarah

yang terluka karena problema
menunduk diam dan aku berkata...

anganku tinggi setinggi angkasa
enggak tau jalannya
yang diatur oleh inginku nyatanya selalu
gagal - gagal saja...

Boring Forefer..
Boring forever...."

9. Blukhutuq - "Ngerap""

"Kupernah jatuh hati
pada seorang gadis bali
namanya si putri
i gusti lambatsari
ternyata si putri tak suka kepadaku
alasannya si putri
lihatlah dulu wajahmu!

Aku langsung tanya
pada ibu bapaknya
apakah bapak ibu nggak cari menantu?
Jawaban ibunya bikin panas telingaku
kucari menantu, cuma.. Ga kayak wajahmu!!

Meskipun orangtuanya ga mau aku tetep nekat
dulu apel malem minggu
sekarang malem jumat
tapi kalo dulu aku apel bawa apel
tapi kalo sekarang
kubawa kemenyan!
Kemenyan kusebar dibawah meja
agar kalo si putri duduk dia tergila2
ternyata menyannya dijilati anjing
dianya gak papa
anjingnya yg gila"

10. Marjinal - "Cinta Pembodohan Part 2""

Dunia punya cerita
Cerita tentang cinta
Cinta cinta pembodohan
Cinta...

Pada stress dan nggak sedikit yang gila
Mati mampus minum racun serangga
Gantung diri di pohon jengkol
Nubrukin badan ke bis kota yang sedang mangkal
Lompat melompat dari gedung bertingkat
Karena cinta demi cinta...

Hey kau kau kawan terlihat cemen (kan aku anak gaul lagi)

Dengernya pun lagu cengeng
Membuat otak dan mental seperti kaleng rombeng
Hati pun celeng-celeng...teng teng terengteng
Nontone sinetron telenovela
Isinya hanya cinta
Cinta cinta di teng teng.......

Hey kau kau kawan kan masih banyak cerita (dunia tak selebar daun kelor)
Hey kau kau kawan terlihat cemen (cinta bukan di balik kolor)

Hey hey kawan terlihat cemen (cinta itu pembodohan)

Hanyalah retorika yang menggebu gebu berbuntut kepentingan...

(kalo ngomong cinta) cinta umat manusia....
(kalo ngomong cinta) ada kau berkuasa...
(kalo ngomong cinta) cinta rakyat jelata...
(kalo ngomong cinta) tapi engkau membunuhnya...

(kalo ngomong cinta) adalah anugrah...
(kalo ngomong cinta) kenapa ada yang luka...
(kalo ngomong cinta) kenapa banyak yang mati...
(kalo ngomong cinta) ada pasti tujuannya...

Itukah cinta itukah cinta kata kuncinya...

Hey kau kau kawan sadarlah...

Dunia punya cerita
Cerita tentang cinta
Cinta cinta pembodohan...
Bagaikan bulan...

To be continued...
Bersambung...

Selasa, 18 Januari 2011

VALENTINE's DAY IN MY EYES


Pada mulanya, Valentine’s Day bagi saya identik dengan mawar, kartu ucapan yang (dipaksain biar) romantis, terus jauh – jauh hari udah nyiapin celengan biar ada duit untuk ngasi hadiah – entah itu cokelat, boneka, dan, yah, taulah… something like that.
Waktu SMA, malah saya ngebawa semua atribut – atribut itu ke dalam tas. Rada ribet juga, mengingat yang kebawa itu satu ekor boneka beruang, trus ada satu unit bunga mawar (9 mawar merah dan 1 mawar putih) dan kartu ucapan yang kira – kira bunyinya :

“ Kusertakan Noah (nama beruangnya.. ^ ^ v) untuk kau peluk dalam kasih,
Juga sepuluh mawar.
Sembilan menunjukkan hasrat mendalam untuk selalu bersamamu,
Dan satu untuk agar kau tau : Aku selalu menginginkan ketulusan hatimu”

(preeeetttt….. bisa terdengar suara itu samar2!! Kwkwkwkw)

Nah, itu semua saya paksain biar bisa muat di bangkunya Sii Cwe Sasaran saya. Namanya Dwi Nugraha Jatie. Cantik dan manis, secantik orangnya. Cieee….

Ya gtu dehhh, saya masuknya paling awaaaalll…. Bgt, sehingga bisa leluasa melakukan tindak kriminal itu. Baru dech abis itu temen2 pada dateng atu – atu, termasuk Sii Jatie ini.

Waduh tampangnya saya inget banget, celingukan sana – sini, mau nyari tampang mencurigakan yang kira – kira layak dan pantas dijadikan tersangka.Tampang sumringahnya nerima hadiah dari Sang Pemuja Rahasia gak bisa dia sembunyikan. Saya mah pura – pura kagak tau aja, asik ngobrol sama temen sebangku, padahal mata dari tadi2nya udah gak lepas2 dari dia. Penasaran juga ma reaksinya kaya gimana.

The End

Lha, terus gimana dund kelanjutan ceritanya??

Hihihi…. Ya, ceritanya nyampe sono ajah. Saya waktu itu terlalu pengecut untuk menyatakan langsung perasaan saya ma dia. Takut ditolak, trus diperkosa.. Itu alesan utamanya. Xixixi….. Padahal kalo diliat – liat sich,ya, bukannya saya yang ke-PD-an, dia tuch rada2 demen juga siee ma saya. Kalo pas ngaso, sering ngajak2 saya ke kantin, padahal temennya banyak tuch yang bisa diajak. Kenapa mesti sama saya?? Lagian, yang bayarin dia terus, gak perduli saya bilang gak usah atau giliran bayarin. . .

Ya, dari cerita itu, setiap orang rame2 bicarain Valentine (biasanya pertengahan Januari kaya sekarang ini) udah deh saya inget lagi ma dia. Bagi saya Valentine itu semacem upacara sakral layaknya Kenaikan Yesus Kristus ataupun yang lainnya. Bahwasanya pernah pada tanggal itu saya mengungkapkan perasaan cinta kepada seseorang tanpa mengharapkan balasan apapun. True Love istilahnya bule – bule. Padahal ini ritual kagak jelas gitu juntrungannya. Siapa donk, yang bisa ngasitau Valentine’s Day itu dibawa ma siapa ke Indonesia. Trus, nenek – moyang kita waktu Jaman Jepang gimana donk ribetnya ngungkapin cinta-nya? Masa’ pakek cokelat juga kayak kita – kita ?!

Nah, kalo mikirnya ke sana, saya jadinya mikir, Valentine itu sebenernya gak special2 amat lah (tanpa mengurangi rasa hormat kepada Santa Valentine atas jasanya mempersatukan dua insan yang sedang dilanda asmara) Mungkin hari itu cuman satu momentum aja, sama kayak taun baruan. Siapa, coba, yang ngebikin 1 Januari itu sebagai hari yang istimewa untuk memandang sesuatu menjadi baru? Semuanya menjadi begitu karena kita (baca:manusia) yang membuatnya seperti itu. Saya pribadi gak perlu tanggal 1 Januari untuk introspeksi diri atas apa yang telah saya lakukan sebulan, dua bulan, tiga bulan terakhir ini. Saya bisa introspeksi tanggal 27 September, 23 Mei, dst. Dan pada saat itulah tahun baru bagi saya.


Konsekuensinya kemudian adalah : Saya nggak perlu tanggal 14 Februari untuk “sekedar” menyatakan perasaan kasih – sayang saya kepada keluarga, sodara-sodari, temen, sahabat, pacar, selingkuhan, dan seterusnya. Sedapat mungkin saya mengungkapkan itu semua setiap hari, dan pada saat itulah Valentine’s Day bagi saya.

Sekali lagi, saya tidak bermaksud mengurangi makna yang mungkin mendalam di balik Hari Valentine, tapi begitulah. Bagi saya, Valentine’s Day itu adalah semacam pembodohan diri. Salah – salah, kita malah terjebak ke dalam pemikiran semu, bahwa Valentine’s Day adalah satu – satunya hari yang diberkati oleh-Nya bagi manusia untuk menyatakan perasaan cinta. Mirip dengan pandangan bahwa ketika Hari Ibu, semua orang mendadak latah mengucapkan “I LOVE U MOM” , terus sesudahnya malah cekcok terus sama mami. Capeek deeeee…

Sukur2 pas Valentine, penjual kembang jadi laris – manis orderan. Gtu juga ma penjual kertas, lem, spidol, boneka, cokelat, permen,dst…. Trus, setiap manusia kasmaran pada waktu itu jadi ngumpul dalam kedunguan masing2 bahwa itu adalah hari yang teramat istimewanya. Itu bagus juga. Setidaknya atmosfer cinta bener2 ngumpul pada waktu itu.

Negatifnya?? Ya elah…. Apa dwonk akibatnya kalo love is on the air?? Ini satu saja gambaran kelamnya. Misalnya, para ABG karena saking terlarutnya ma suasana penuh cintronk, kebawa dech ma perasaannya itu. Udah rahasia umum kalo Valentine di mana2 dilewatin di tempat2 yang rada2 gimanaaaa…gt. Nyarinya yang sepi biar bisa leluasa ngungkapin perasaan. Bahkan yang ekstriman dikit, milih kuburan Cina sebagai tempat kencan. Meskipun saya belum pernah mendengar ada survey tentang ini, saya yakin tingkat aktivitas seksual meningkat pada waktu ini. Risikonya, ya sama kayak iklan2 yang sering nongol itulah… MBA (Marriage By Accident), trus aborsi, perkosaan (miris gwa pernah ngebaca satu gadis belasan dikeroyok pemuda2 ABG pada Hari Valentine…. :/ ), dan yang sejenis itu.

Hotel2, penginapan2, kost2an, mendadak jd meningkat daya jualnya pada hari ini. Apotek2 penjual kondom, iud, pil KB, obat kuat juga ikutan membludak, meskipun konsumennya mesti ngambil pintu belakang. Malu ‘menodai’ makna Hari Valentine. Terus besoknya test-pack kehamilan mendadak rame pesenan. Posyandu, klinik sampai dokter spesialis dan Rumah Sakit mendadak kebanjiran pasien yang penasaran apakah mereka “positif” atau masih tetap bisa merayakan Valentine berikutnya dengan modus yang sama. Hmmmm…..


Belum lagi yang manfaatin moment ini untuk ‘nembak’ cwe, trus ditolak! Di samping peningkatan aura cinta pada hari ini, tak sedikit pula yang harus menelan kecewa karena ditolak cintanya. Frustrasi dah, terus nganggep semuanya jadi gak berarti. Celingukan nyari tali, trus gantung diri di bagasi.. Hiiiii….. nggak lagi2……

Trus, apa lagi donk, sekarang dihubungkan dgn posisi kita yang tinggal di Bali?? Pernah gak org2 mikir kenapa harus Valentine yang dijadikan sosok panutan dalam hal cinta dan ketulusan hati? Kenapa tidak ada hari Romeo? Atau Hari Sam Pik Ing Tay? Nala dan Damayanthi? Hari Parwathi? Jujur saja, kalau harus dibandingkan dalam hal ketulusan cinta, budaya kita di Indonesia, lebih layaklah bila misalnya kita merayakan hari kasih – sayang dengan merenungkan kisah – kisah melegenda dari budaya asli kita sendiri. Itu artinya kita masih bodoh dan asal comot aja sok eksis dengan budaya luar. Mending hari Nala daripada Hari Valentine. Atau yang paling universal, kenapa kita sampai tidak merayakan Hari Kelahiran Shri Krishna saja sebagai hari kasih sayang, mengingat dari Dia-lah kita mengenal arti kata cinta.

Singkatnya, Valentine’s Day is nothing to do with me. Itu Cuma hari yang sama seperti hari – hari biasa lainnya - dengan ataupun tanpa cinta di sekitar saya. Special atau tidaknya tergantung dari sisi mana kita melihatnya. : )

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...