Totally Inspires
Pages
Followers
Halaman Populer
-
Tersenyum manis kesetiap orang akan membuat kita tampak ramah di mata orang selain di nilai ramah ternyata tersenyum juga membawa manfat b...
-
Om ityagre vyavaharet| nama iti pascat| narayanayetyuparistat| om ityekaksaram| nama iti dvi aksare| narayanayeti pancaksarani| etad vai ...
-
Artikel di bawah ini berasal dari sumber-sumber Hindu, saya hanya menerjemahkan, silakan Anda sendiri yang mengambil kesimpulan. According...
-
Sebenarnya, dan sesungguh – sungguhnya, Purana Hindu adalah sejarah dan bukan sekedar mitos dan legenda hampa seperti yang banyak di...
-
Kata chiranjiva adalah kata Sansekerta yang berarti makhluk yang hidup dalam waktu yang SANGAT lama. Kata ini sering disalahartikan dengan...
-
Gunung Kailasha adalah tempat yathra tertua di dunia. Di Himalaya pada era India purba, letaknya berdekatan dengan sumber mata air Sungai su...
-
SEJARAH RUNTUHNYA KERAJAAN MAJAPAHIT YANG DI SEMBUNYIKAN PEMERINTAH Oleh : Damar Sasangka --------------------...
-
Ternyata sudah banyak peradaban modern sebelum masa kita sekarang. Masa sebelum 4000 SM yang dianggap sebagai masa pra sejarah dengan perada...
-
Usia Bulan Usia bulan lebih tua dari yang diperkirakan, bahkan diperkirakan lebih tua daripada bulan dan matahari itu sendiri! Umur Bumi...
-
Salah satu objek wisata yang sangat menarik di Sulawesi tengah adalah megalith yang terdapat di lembah Napu, Bada dan Besoa. Di daerah yang...
Diberdayakan oleh Blogger.
Ads 468x60px
Featured Posts
Tampilkan postingan dengan label Oktober danJuni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oktober danJuni. Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 Juni 2011
Bim, Kekasihku, dan Rudyku yang Sendu
“Ada satu hal yang sangat penting yang ingin kukatakan.”
“Katakan saja. Kau tahu aku selalu mendengarkan setiap ucapanmu, sayang.”
“Aku sudah lama tidak perawan.”
“Aku tahu.”
Rudy menatapku lekat. Seakan tak mempercayai tanggapan yang aku berikan. Ya, aku tahu,kenapa tidak? Aku sendiri sudah tidak perjaka sejak masih SMA, aku tidak mau mempermasalahkan itu. Sebutlah saja aku seorang over – modern karena pendapatku ini : biarlah setiap perempuan tidak perawan, namun jangan biarkan harga – dirimu tak perawan lagi. Itu perkara lain.
“Kau tidak berpikir bahwa itu akan membuat perasaanku berubah kepadamu, kan?” aku menggumam pelan.
Rudy menatapku lagi. Aaahh...tatapan itu! Persis seperti ketika pertama kali aku bertemu dengannya. Tatap mata penuh selidik, namun tak mampu menyembunyikan gejolak takjub dan keluguan hati seorang kekasih. Sebentuk senyuman di bibirnya yang tipis mampu memadamkan semangat pemberontakan di dalam diriku, seperti juga dia membangkitkan rasa cinta hampir setiap laki – laki yang beruntung bisa mendekati dan mengenalnya.
Aku melihatnya pertama kali saat udara begitu panasnya mengurung bumi, di antara kegusaran dan amarah meradang di mana – mana. Aku pun saat itu masih tertawan di dalam kehampaan, namun di sanalah dia, Rudyku, di hadapanku – menawarkan kerlingnya yang sejak saat itu mengganggu angan - mimpiku. Lama, pada kemudian hari kenangan akan pertemuan itu menghiasi hari – hari kami bersama, betapa masing – masing hati kami seperti bertemunya kembali jiwa – jiwa merindu sepasang sahabat yang begitu lama terpisah.
“ Aku tahu Rudyku, sayang,” aku mengulangi kata – kataku,” Kenyataan bahwa kau terlalu indah di antara dunia yang rakus dan tak berperasaan memberiku keyakinan bahwa kau selalu diampuni – Nya dalam setiap langkahmu.”
Rudy meraih tanganku. Baru beberapa minggu aku mengenal dan berenang – renang di lubuk hatinya, sepertinya tak ada satu pun ruang tersisa yang luput dari jamahanku. Demi para dewa dan Lucifer, aku berada di dalam posisi rela menyerahkan segalanya kepada dia, Rudy-ku, dan menapaki bumi dan langit dalam kehadirannya.
Dia liar seperti rusa keemasan yang didambakan oleh Dewi Sita, kekasih Sri Rama. Dia perempuan spontan yang, tidak seperti kebanyakan tipikal perempuan sekarang, mengungkapkan setiap kilasan di dalam benaknya seperti adanya. Dia adalah sesosok bidadari di dalam penyamarannya, dia adalah misteri.
Bahwasanya dia adalah bidadari tak pernah sekalipun aku mengingkarinya. Karenanya, bagaimana bisa bidadari bisa berkata nonsens bahwa dia tak perawan lagi? Oh, Rudy, bahkan ketika kulit halusmu bersentuhan dengan kulitku, dan kita bergumul berdua memuaskan gemuruh di dalam dada yang tiada henti bergetar di malam – malam tanpa kehadiran wujud kita, tak pernah kupermasalahkan, misalnya, bagaimana darah dari selaput daramu tidak kunjung mengalir dari tempat di mana dia seharusnya mengalir.
“Sudahlah, Rudy... Jika yang kau maksudkan dengan kata – katamu tadi adalah agar aku gusar dan meninggalkanmu...”
“Tidak – tidak – tidak, sayang”
“Maka pembicaraan perihal ini selesai. Kita telah berjanji untuk saling menjaga hati kita berdua. Aku mencintaimu, apapun yang menjadi masa lalumu seperti aku mencintaimu atas apa yang mungkin akan terjadi di masa yang akan datang, saat kita tak lagi terpisahkan.”
Rudy tercenung di dalam lamunannya. Untuk sesaat, aku seakan terserap masuk ke dalam percakapan – percakapan yang pernah kami buat bersama – beberapa menyenangkan, beberapa menyedihkan, tak satupun yang membosankan. Tak salah lagi, Rudyku pun sekarang pastilah mengenang kembali perjalanan cintanya yang terdahulu, dengan seorang polisi yang masih sepupunya sendiri. Kelaki-lakianku teruji bila kuingat bagaimana dia, polisi pilihan bapaknya itu memaksa Rudyku untuk bersetubuh pada suatu hari yang bagi langitpun adalah suatu perkabungan resmi. Tangan – tangan kekar itu melucuti baju, lalu jeans itu, lalu celana dalam itu, dan dalam ketakberdayaan Rudyku malang harus menerima apa yang belum siap dia terima. Dia berlari dalam tangisan burung dara yang terluka, dengan tatapnya yang pilu menampari muka.
Lalu, Rudyku juga sekarang memikirkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Jana, kekasihnya, bagaimana dia telah berpaling hati kepadaku. Kehadiranku yang tak terduga dan tiba – tiba seperti semacam berkah tersembunyi bagi Rudyku, namun petaka bagi Jana. Rudyku, di dalam beribu budi yang telah ditanamkan oleh Jana, untuk sesaat dalam pertemuan denganku nyaris bisa mengentaskan pikiran semacam itu. “Biarkan hatimu yang menentukan pilihan!,” begitu kataku suatu hari, dan Rudyku mengangguk dengan pastinya. Dalam beberapa kesempatan dia bahkan meyakinkanku bahwa tak perduli sudah tiga tahun dia berbagi hidup dengan Jana, hatinya tetap berpaling kepadaku, dan itulah keputusan terakhirnya.
Aku menunggumu, Rudyku, dalam ketabahanku. Aku menciumi dan merengkuhmu di antara bayang – bayang peluk dan cium Jana, di antara sebersit gerak – gerik polisi sialan itu, di antara laki – laki lain yang pernah ada di ruang sukmamu yang selalu riuh menantikan belaimu.
-----
“Aku sudah tidak perjaka lagi,” katanya.
“Hah? Benarkah? Bagaimana bisa?,” aku kaget.
Bim tersenyum. Ada kilatan kebanggaan bersemi di antara senyum kekanak – kanakannya.
“Ya, tidak ada yang salah yang tadi kubilang itu, aku sudah kehilangan keperjakaanku, tepat pada usiaku yang ketujuhbelas,” Bim tertawa,” Nih, lihatlah, noda darahnya menjadi bukti paling otentik !” Bim menjulurkan sedikit ujung kain celananya kepadaku. Buset! Kejadiannya baru tadi ya? Gila! Bim itu orangnya pengecut luar – biasa masalah beginian. Setan mana yang berhasil merayunya, tumben bisa nekat menurut ukurannya? Ah, aku tahu! Pasti Nita, gadis satu sekolahnya yang selalu sepanjang waktu dia ceritakan kepadaku.
“Nita. Di kamar mandi,” Bim bicara seolah dia berpikir aku penasaran.
“Kau gila, kau tahu itu? Kita sudah sering membicarakan ini, dan berkali – kali aku bilang: ‘Jangan melangkah terlalu jauh!’ Kau tak aku persalahkan, anyway.”
“ Yah, aku tak bisa menahannya, dan sepanjang yang aku rasakan, dia juga begitu.”
“Bagaimana dengan bapaknya yang galak seperti bulldog? Aku masih ingat berkali – kali kau bercerita tentang berbagai makian dan teror yang kau terima karena kau menjalin hubungan dengan Nita. Ada yang mestinya kau pikirkan, Bim. Orang tua yang memiliki sebentuk intan permata seperti Nita akan sangat murka jika mengetahui kejadian ini.”
Bim termenung, menatapi lekat – lekat noda merah yang menembusi celanannya.
Tak ada yang salah dengan sikapmu. Ya, Bim, aku berada di pihakmu. Dalam beberapa hal kita sepaham. Saat percik – percik rasa cinta mengunjungi hatimu suatu saat, tak ada satupun yang berhak menghalangi laju hidupnya, itu adalah kejahatan. Karena itulah aku selalu bercerita kepadamu bagaimana remuknya sekujur jiwa – ragaku saat kisah cintaku dengan Yusi harus berakhir karena bapaknya menganggap aku masih kelas babi, belum bisa mencari makan sendiri. Dan, Yusi – ku terlalu statis untuk bisa menerima ide – ideku tentang ‘runaway,’ atau ‘jangan membunuh benih cinta yang terlanjur bersemi’ dan ide – ide sentimentil lain yang menurutku benar untuk dilakukan. Yusiku akhirnya pergi, menyisakan asa yang tak menentu di dalam diriku. “Selalu akan ada yang lebih baik daripada dia,” sejak saat itu aku sering berkata begitu kepada diriku sendiri sepanjang hari.
Kadang aku bercerita kepada Bim betapa aku bosan dengan situasi yang terus – menerus berdatangan seperti deretan kartu mati yang menjadi bagianku. Selepas Yusi, ada yang lainnya lagi yang, seperti keyakinanku, lebih baik daripada yang sebelum – sebelumnya, meski tetap harus berakhir juga.
Sial! Ada saatnya aku benar – benar frustrasi dan ingin mengakhiri saja permainan kartu – kartu brengsek ini, secara literal. Tapi aku tak bisa. Kalaupun aku bisa, norma – norma melarangku untuk melakukannya. Terlebih lagi, keinginan untuk selalu membahagiakan ibu dan bapakku selalu mampu mengembalikan sekeping akal sehatku kembali ke tempatnya.
“Begitulah hidup. Setidaknya hidupku,” pernah aku berkata seperti itu kepada Bim, “Kau tak pernah tahu apa yang menyebabkan segalanya seperti tak adil bagimu, padahal demi Tuhan kau telah mencoba melakukan yang terbaik sepanjang waktumu. Hidup terkadang seperti anomali, aneh dan absurd, tapi percaya saja, segalanya selalu kembali kepada satu hukum keseimbangan.”
Bim, kau tak tahu aku pernah berhadapan muka langsung dengan ayah Nita, dan dengan cara tertentu dia mengingatkanku kepada ayahnya Yusi, mantan kekasihku.
“Tolong jauhkan adikmu dari anakku!” begitu katanya waktu itu. Selain karena dia ‘masih terlalu muda untuk memasuki dunia yang namanya cinta’,(haha... dia ‘baru’ tujuhbelas tahun!) ayah Nita sepertinya telah merencanakan sesuatu perihal dunia dewasa Nita nanti. Tak bisa diganggu lagi.
Maka begitulah. Nita dengan sembunyi – sembunyi tetap menjalin kasih dengan Bim. Setelah kejadian pengoyakan virginitas itu, mereka malah makin menjadi – jadi. Aku, bagaimanapun, menjadi saksi bisu akan bagaimana mereka melewati hari bersama – sama. Mereka bercinta di dalam kamar, kadang mengerjakan laporan – laporan sekolah bersama, saling berjanji bertemu di taman kota, sambil di lain sisi mesti menghindari agar jejak mereka tak terendus oleh ayah Nita.
Itu sesuatu yang masih normal kita temukan jaman sekarang, kan? Katakanlah ini adalah sesuatu yang telah melebihi batas kewajaran, maka aku dengan sukarela akan mencarikan sampel bentuk hubungan ABG yang jauh lebih ekstrim lagi daripada itu.
Aku tertawa di antara mereka karena bagaimanapun mereka seakan menyatakan cerita laluku sendiri yang tertunda. Setiap canda, derai tawa, isakan merajuk, rencana – rencana indah, kadang ungkapan – ungkapan keluguan seorang anak kecil, semuanya mengingatkanku kepada diriku sendiri.
Seperti juga pertengkaran – pertengkaran yang kadang menyambangi. Saat dua orang mulai merasa sudah saling mengenal lebih dekat, ada semacam ego spontan yang ingin melesak keluar. Begitulah, setelah hampir satu tahun menjalani kasih – mengasihi dalam ketersembunyian, Nita terbawa emosinya dan bersumpah tak akan mau lagi bertemu dengan Bim-ku.
Bim-ku sedih tiada terkira. Sepanjang hari dia menyendiri. Kadang dia tak ingat makan, dan sering merenungi diri di dekat pantai.
“Sudahlah, Bim, mestinya dia akan kembali kepadamu. Kalau tidak sekarang, ya suatu saat nanti,” aku menasehati, lalu keluar juga kalimat klise itu,” Kalaupun dia tak kembali, yang lebih baik daripada dia akan datang di dalam hari – harimu.”
Bim-ku masih terdiam. Aku memasuki alam kemurungannya dan tertusuk juga di dalam. Ah, Bim, jiwamu masih terlalu muda untuk merasakan sakitnya patah – hati. Kau akan belajar, kau akan belajar.
-----
Malam berkabut. Kurasa jam hampir menunjukkan pukul sepuluh. Jalanan yang kulalui sepi, penuh tikungan dan lubang – lubang yang terasa bersekongkol untuk meremukkan tubuh dan motorku. Beberapa kali ban sepeda motorku harus terperosok ke dalam lubang di jalan yang tak kentara karena penerangan jalan menghalangi sudut pandangku. Genangan air hujan yang berlumpur juga memperparah situasi.
Hujan deras menyusupi jas hujan yang kukenakan, menusuk – nusuk muka dan tanganku, seperti ribuan hujaman batang jarum.
Rudy, ke sanalah aku menuju. Dalam sepi penantianku akan keputusan cintamu, aku terbakar derita tiada henti, memikirkan segala tentangmu. Aku ragu. Takut. Jangan – jangan kau akan lepas dari pandangku, selamanya.
Dan di sanalah kau, berdiri dalam keanggunan yang menawanku, di depan gerbang rumahmu, tempat dimana ayahmu pernah bertukar senyum kepadaku, sebelum dia tahu aku bukan sekedar temanmu.
Berbulan aku menantikan kepastianmu, dan tiada pernah datang yang kutunggui. Oh, Rudyku, kiranya belenggu itu begitu erat mengikatmu. Kau harusnya percaya bahwa tangan – tangan tak terlihat sedang mengikatmu, agar ego masing – masing yang mengikatmu tetap terjaga. Bagaimana harus kujelaskan bahwa ada kuasa hebat yang mempengaruhi benakmu, menyetir di belakang logikamu, dan di lain sisi berusaha menjauhkanmu dariku? Bagaimana caranya agar engkau mengerti bahwa aku mengatakan ini karena begitu murni dan tulusnya aku ingin selamanya hidup bersamamu, alih – alih karena aku mencari – cari pembenaran atas segalanya?
Lampu depan telah padam. Bayangan lampu jalan menyinari sedikit wajah putihmu yang mungil dan haru. Kuseret juga langkahku kepadamu. Hatiku remuk, Rudy-ku.
“Baiklah, aku yang pergi,” kataku, “Namun percayalah, segalanya akan jelas pada waktunya. Aku yang mengalah, bukan karena aku menyisakan sedikit perasaan bersalah kepada Jana, ayahmu, atau siapapun. Aku meninggalkanmu dalam kasihku kepadamu.”
Ya Tuhan, Rudy-ku... Jika aku masih mempertahakanmu dan bersikeras menuntut janjimu, kau akan meregang dan terbelit di dalam ikatan – ikatan itu. Jana yang sedari awal menjalankan black – magic-nya kepadamu, begitu juga dengan ayahmu yang terjerat dalam arus kasih sayang yang begitu salah kepadamu. Juga ibumu, juga Indra, mantan kekasihmu yang tak pernah rela kau tinggalkan.
“Kumohon, bertahanlah, sayang. Aku tak mau kehilangan kau..”
Tidak. Aku menciumi Rudy-ku dan berpaling pergi.
Bersama dingin yang menusuk, aku menyusuri lagi jalan menuju pulang. Jalan – jalan sepi ini serasa asing bagiku, tak perduli sudah berapa kali telah kulewati bersam Rudy-ku. Bayang – bayang malam menampilkan fragmen – fragmen kecil di dalam hidupku yang berawal dengan indah dan sucinya, lalu badai datang menghardik bersama berlalunya senja.
Aku terbayang Bim-ku sayang, detik – detik terakhir kita bersama, dia berbicara tentang kebijakan, tentang cahaya pagi yang datang menggantikan malam. Tentang Tuhan yang baik, yang selalu tergugah melihat manusia teraniaya sesamanya. Di dalam malam yang hening beginilah dia mengatakan semua itu.
Juga, di dalam malam hampa begini, Bim-ku mengisyaratkan sakit yang mencekam, kerudung hitam dan nyanyian burung gagak. Wajahnya makin tergambar jelas kini, seolah dia ada di hadapanku, dan dia membuat air mataku menetes sia – sia bersama hujan yang tak juga mereda. Kulihat Bim termenung di bibir pantai, satu tahun lalu, tak kuasa menahan derita perpisahan, lalu pulang dengan rasa hampa.
Kulihat Bim, terbaring sebentar, dalam ketidakhadiranku, mencari kebijakan yang bisa meredakan amarahnya. Oh, seandainya aku ada di sana. Dia menatapi botol racun di genggamannya itu! Dia menatapnya dengan mata penuh amarah! Dan, aku tiba di hadapannya saat segalanya telah terlambat. Bim-ku hilang tiada kembali.
Bim, jiwamu masih terlalu muda untuk menanggung cengkraman takdir.
-----
Bim-ku, seperti juga Rudy-ku, terikat di dalam jerat yang sama, oleh dunia yang sesekali tak pernah aku percayai ada, namun kadang tampil begitu nyata.
Bimku sayang, kau tidak pernah membunuh dirimu sendiri. Kau dibunuh.
22 Juni 2011
3:14 am.
Minggu, 13 Maret 2011
Oktober dan Juni
by : O’ Henry
Kapten itu menatap sayu ke arah pedangnya yang tergantung di dinding. Dalam lemari di sudut, baju seragamnya tergantung lusuh. Kelusuhan itu sebagai tanda bahwa pemiliknya adalah seorang serdadu yang penuh bakti terhadap tugas yang disandangnya.
Sesaat kapten iyu membayangkan dirinya, oh, betapa waktu telah berlalu. Segalanya hampir pupus, kapankah semuanya dimulai semenjak bahaya perang mulai mengancam.
Kini ia hanyalah seorang veteran perang, sebutan agung buat kenangan kebaktiannya terhadap nusa dan bangsa. Tetapi pada kenyataannya ia kini sedang dalam keadaan yang tak berdaya; dia sedang berada di tengah medan pertempuran asmara. Sepasang mata wanita telah menawannya dan membuatnya tak berdaya.
Kapten itu duduk sendiri di dalam kamarnya dengan pandangan mata sayu dan hati yang kesepian. Tangannya masih memegang selembar surat yang baru saja dibacanya. Surat itu merupakan putusan terakhir bagi dirinya. Patahlah segenap harapan dan cita – citanya. Matanya lurus menelusuri baris – baris kalimat yang makin menyiksa batinnya.
“Meskipun aku harus menghancurkan harapan dan cita – citamu, aku harus berterus – terang kepadamu. Kuharap kau dapat memahamiku, yang tak dapat kita ingkari. Selisih usia kita sebagai dasar aku menulis surat penolakan ini.”
“Aku menyukai dan mencintaimu. Tapi, aku yakin tak akan ada kebahagiaan jika kita telah terikat pernikahan. Benar, aku sungguh berduka karena harus menyakiti hatimu. Tapi setidak – tidaknya, kuharap engkau dapat menerima kejujuranku.”
Kapten itu menarik nafasnya dalam – dalam. Hatinya merintih. Ya, usia mereka terpaut cukup jauh. Namun, ia lelaki yang tampan dan gagah, memiliki kedudukan dan harta. Ia mencintai wanita itu dengan sepenuh hati. Kasih – sayang telah ia curahkan kepada wanita yang bermata indah itu. Ia yakin wanita itu juga mencintainya. Bukankah kasih dan cinta itu dapat meniadakan kenyataan tentang perbedaan usia itu?
Akan tetapi, lelaki itu bukan tipe lelaki yang cepat putus – asa. Ia harus menemui wanita itu sekali lagi, dan ia akan berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan cintanya. Apalah artinya selisih usia jika mereka berdua saling cinta – mencintai?
Cintanya terlalu agung untuk diperhadapkan dengan perbedaan usia. Itu sebabnya ia cepat – cepat menyiapkan diri untuk berangkat ke suatu kota di bagian selatan Tennessee, tempat wanita yang memikat hatinya tinggal. Ia berkemas dengan terburu – buru karena kereta api ke jurusan itu akan berangkat.
Ketika kapten yang dimabuk asmara itu tiba, Theodora Denning sedang menikmati udara musim panas.... Saat keduanya berdiri, perbedaan itu tak tampak mencolok. Kapten itu tinggi, tampan, dan perkasa. Wanita itu seperti setangkai bunga yang sedang mekar: elok, menarik, dan cantik!
“Tak kusangka kau datang. Telah kau terima suratku?” wanita itu bertanya seraya tersenyum manis, biji matanya bersinar cemerlang. Betapa eloknya. Jantung kapten itu berdebar kencang.
“Sudah,” katanya tergagap. “Tapi surat itulah yang mengirimku datang ke sini,” Theo, ku ingin kau pertimbangkan lagi jawabanmu.”
Wanita itu menggeleng. Senyum manis membayang di wajahnya. Dia memandang kepada lelaki itu dengan perasaan kagum seorang wanita. Lelaki yang perkasa dan tampan, Theodora berkata di dalam hatinya, gagah dan bijaksana dalam usianya kini. Perbedaan yak tampak menonjol seandainya mereka menikah. Lelaki itu pasti dapat menyesuaikan diri, kalau saja... Tetapi tidak! Theodora menggelengkan kepalanya.
“Jangan engkau paksakan aku mengubah keputusanku. Aku telah menetapkan keputusan yang paling bijaksana untuk engkau dan aku. Umurku dan umurmu... Tapi.... Ah, janganlah hal itu diungkit lagi. Telah kukatakan seluruhnya di dalam suratku.”
Jemari Theodora yang lembut dengan halus menggenggam jemari lelaki itu. “Jangan engkau sedih, kawan.” Suara wanita itu terdengar lirih. “Suatu saat kau pasti akan mengiyakan kebenaran keputusanku. Di kala itu bahkan engkau akan merasa berbahagia, bahwa sekarang aku menolak lamaranmu. Yakinlah. Jika kita sampai menjadi suami – istri, pasti suatu ketika kita akan sama – sama menyadari bahwa kita mempunyai kemauan dan kegairahan hidup yang saling berlawanan. Salah seorang dari kita saat itu akan lebih senang duduk berdiam di sisi perapian sambil membaca atau merasa jemu pada malam – malam yang indah benderang karena diserang penyakit encok, sementara yang lainnya lagi justru sedang dalam keadaan yang bergairah untuk pergi ke pesta sambil bersuka – ria sepanjang malam. Antara kita bukan hanya Januari dan Mei, tapi lebih dari jarak akhir Okttober dan awal Juni. Terasa begitu jauh, sepi, dan lengang, bukan?”
“Tapi, Theo, aku akan berusaha. Berusaha untuk melakukan segala sesuatu yang engkau kehendaki. Aku akan mencoba untuk....”
“Itu katamu kini. Tidak, maafkan aku, kawan. Janganlah kita ulangi lagi hal ini. Aku merasa begitu sengsara dan sedih.”
Kapten itu benar – benar menderita kekalahan telak. Tapi ia memang prajurit sejati. Setelah pamitan, ia segera melangkah tegap dan pasti, sementara di wajahnya tidak terbayang harapan yang patah. Malam itu juga ia kembali ke utara.
Malam esoknya ia telah duduk di dalam kamarnya yang sepi. Ia memandang pedangnya yang tergantung di dinding. Sesaat ia termangu, tetapi ia kemudian telah sibuk berpakaian dan untuk memenuhi undangan makan malam. Sementara berpakaian, tangannya asyik mengatur dasi.
Bagaimanapun juga dia harus menjadi lelaki yang perkasa dan tabah. Ia berusaha mengibaskan kesepian yang sedang mendera. Sementara membetulkan dasi, ia berkata kepada dirinya sendiri,”Theo memang benar. Aku yakin sekali. Pasti semua orang berpendapat bahwa Theo memang cantik, lembut, simpatik, dan wanita yang sempurna. Tapi, setidaknya, aku yakin setidaknya, tentulah usianya telah mencapai dua puluh delapan tahun.”
Itulah kesadaran yang muncul dalam diri kapten. Seperti diketahui, kapten yang sedang dibarai kasmaran itu hanyalah seorang pemuda yang baru menginjak usia kesembilan – belas. Pedang yang tergantung di dindingnya itu sama sekali belum pernah menyentuh seorang musuh pun. Pedang itu hanya tergantung dengan megah di pinggang pemuda tampan itu bila tiba saat ada pawai di Chattanoaga, yaitu suatu jalan yang pernah dilewati barisan tentara pada masa – masa perang Spanyol – Amerika.
(Translated by: Korrie Layun Rampan)
Langganan:
Postingan (Atom)
Total Pembaca
Fan Page
Labels
Blog Archive
Feedjit
Chat Room
Try Relay: the free SMS and picture text app for iPhone.

