Selasa, 13 Maret 2012

Chairil, Bara yang Tak Pernah Padam


Ada satu hal yang patut disayangkan bahwasanya disinyalir banyak kalangan pemuda “angkatan sekarang” tidak mengetahui puisi “Aku” yang fenomenal pada zaman perjuangan kemerdekaan itu, apalagi siapa yang mengarangnya.
TIDAK JUGA KAU, generasi (yang konon paling) mutakhir!?

Gempuran modernisasi edhan sepertinya membuat sebagian besar dari kita (baca: pemuda harapan bangsa) lebih mengenal Harry Potter dan Naruto daripada mengenal Chairil Anwar. Walah!

Padahal, kalau dipikir – pikir, dengan berkawankan pemikiran – pemikiran Chairil Anwar, sudah pasti lebih berguna daripada sekedar membaca sebagai hiburan. Karya – karyanya sarat dengan sublimasi hasil pemikiran yang mendalam tentang makna hidup, cinta, kasih sayang, kegigihan, rasa keadilan, dan berjuta energi positif yang dia curahkan sepenuh jiwa.

Seperti itulah semangat seorang Chairil Anwar. Dia adalah eksponen penting yang dinobatkan sebagai sastrawan pelopor “Angkatan ‘45” dan perpuisian modern Indonesia. Kegigihannya memperjuangkan ideal dan cita – cita tercermin di dalam salah satu puisinya : “Sekali berarti, sudah itu mati”. (bisa Anda maknai sesuai interpretasi : perjuangan mencapai kemerdekaan, perjuangan mencapai nilai yang memuaskan dalam ujian sekolah, perjuangan mendapatkan pacar baru, dan seterusnya...)

Gaya Hidupnya


Chairil terkenal sangat gemar membaca. Chairil mengenal dunia sastra sejak tinggal di Jakarta bersama ibunya. Saat itu kedua orang tuanya bercerai dan Chairil mengikuti ibunya. Ia banyak membaca karya-karya sastrawan dunia seperti Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron, sehingga karya-karya Chairil banyak dipengaruhi gaya penulisan sastrawan-sastrawan itu.

Saking ‘rakus’-nya Chairil akan bacaan, pernah dia berkomplot dengan kawannya, Asrul Sani, untuk “merampok” sebuah buku berjudul Also Sprach Zarathustra, karya Nietsche di sebuah toko buku di bilangan Jakarta. Missi “penculikan” ini nyaris berhasil, sampai akhirnya setelah mereka memeriksa hasil jarahannya di luar, ternyata buku yang diambil Chairil adalah Alkitab. Warna sampulnya sama – sama hitam, dengan ketebalan yang hampir sama.

Asrul Sani, yang juga seorang sastrawan ternama Indonesia, menceritakan pengalaman itu di dalam buku “Derai – derai Cemara” (sebuah buku yang berisi kumpulan karya – karya puisi dan prosa, serta korespondensi Chairil Anwar sepanjang hidupnya). Di sana juga diceritakan bagaimana di mata Sani, Chairil Anwar bukanlah seorang yang kurang – ajar, pencuri, atau pula petualang kumuh. “Tidak. Chairil selalu berpakaian rapi. Kerah kemejanya selalu kaku karena dikanji, bajunya senantiasa disetrika licin. Ia bahkan boleh dikatakan dandy. Orang ingat kepada matanya yang merah. Ia tidak mengerikan. Ia adalah seorang periang dan seorang sahabat yang baik.” (Asrul Sani, Derai – Derai Cemara).

Tentang Cinta dan Spiritualitas

Tidak sedikit orang yang menjuluki Chairil sebagai penyair religius. Ini, antara lain, gara-gara sajak "Doa", yang memang amat religius. Menurut penuturan Ida Rosihan Anwar (istri wartawan kawakan Rosihan Anwar yang sangat dekat dengan Chairil) dalam kesehariannya Chairil tidak pernah memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan urusan agama. Ia tidak pernah tampak salat, berpuasa di bulan Ramadan, atau bahkan ikut bergembira pada Idul Fitri. Jadi, ia bukan muslim yang baik.

Namun, kalau kita mengacu pada kriteria filosof Paul Tillich tentang siapa yang disebut religius, (yaitu mereka yang secara serius mencoba mengerti hidup ini secara lebih jauh dari batas-batas yang lahiriah saja), Chairil termasuk kelompok ini. Sepanjang hidupnya, Chairil berserah total untuk menemukan jawaban atas pertanyaan "apa tujuan hidup saya".

Dalam sajaknya ini ia menegaskan sikapnya yang tidak mau terikat apa pun juga, serta bersedia menerima segala bentuk penderitaan sebagai akibat pilihannya. Dia menolak untuk menyerah kepada agama, meskipun dia mengakui juga, agama mempunyai daya tarik yang sangat kuat sehingga sulit untuk melawannya: "Kuseru saja Dia/sehingga datang juga/Kamipun bermuka-muka/seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada/Segala daya memadamkannya/Ini ruang/gelanggang kami berperang/Binasa membinasa/satu menista lain gila.

Sajaknya yang kedua tentang agama ditulis lima bulan kemudian, berjudul "Isa". Dalam sajak ini, selain terpesona, Chairil juga tersindir dengan pengorbanan dan penderitaan yang dialami Nabi Isa untuk menyelamatkan umat manusia.

Ia merasa "minder" lantaran sikap hidupnya yang hanya memikirkan kemerdekaan diri sendiri, dan tidak peduli pada orang lain. Ia seperti dihadapkan pada pertanyaan, "Apakah sebuah pengorbanan ada artinya?"

Pertanyaan itu terus mengganggu hingga keesokan harinya dia menyerah
dan menulis sajak "Doa" sebagai ekspresi penyerahdiriannya kepada Tuhan. Ia berseru: Tuhanku/Dalam termangu/Aku masih menyebut nama-Mu/Biar susah sungguh/mengingat Kau penuh seluruh/caya-Mu panas suci/tinggal kerdip lilin di malam sunyi/Tuhanku/aku hilang bentuk/remuk/ Tuhanku/aku mengembara di negeri asing/Tuhanku/di pintu-Mu mengetuk/ aku tidak bisa berpaling.

Selanjutnya Chairil lebih memilih menolak agama karena agama memintanya untuk mengorbankan apa yang nyata sekarang, untuk digantikan sesuatu pada masa datang yang baginya belum pasti.

Maka bisa dipastikan, sesudah sikapnya ini Chairil kembali menemukan dirinya kesepian. Namun, perasaan itu tampaknya sudah dia harapkan dan dia hadapi dengan tenang. Ia kembali memilih menjadi pengembara selama hidupnya. Meskipun, konon menurut kesaksian H.B. Jassin, menjelang mengembuskan nafasnya yang terakhir, Chairil ternyata tetap tidak lupa menyebut nama Tuhan. Di sela-sela panas badannya yang tinggi sebelum kematiannya, ia mengucap, Tuhanku, Tuhanku....

Karya dan Kontroversi

Awal pemunculan puisi-puisinya pada tahun 1942, juga Chairil tidak luput dari caci maki dan cemohan oleh penyair-penyair terdahulu. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Dan dalam suatu pidato yang diucapkannya di depan Angkatan Baru pusat Kebudayaan tahun 1943, Chairil berkata, ''Pujangga muda akan datang. Pemeriksa yang cermat, pengupas, pengikis sampai ke saripati sesuatu. Segalanya, sampai ke tangannya dan merasai gores bedahan pisaunya yang berkilat.'' Demikian tanggapan Chairil atas kritik pedas yang ditujukan pada karya-karyanya. Ia pun kemudian berkata, ''Tiap seniman harus seorang perintis jalan. Seniman ialah tanda dari hidup yang melepas bebas.''

Bagaimana pun penilaian negatif itu datang, Chairil telah berjasa besar dalam kesusastraan Indonesia. Sampai kini karya-karyanya tetap dibaca dan dipelajari di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Maka wajar, almarhum Chairil dianugerahi penghargaan Bintang Budhaya Paramadharma di bidang seni oleh presiden.
Sajak-sajak Chairil bisa dijadikan siraman air sejuk di padang gersang, bisa juga menjadi pedang di medan perang. Ia adalah penyair komplit karena tema-tema yang diangkatnya sangat kompleks. Sajak-sajaknya mengandung daya vitalitas yang tinggi seperti tampak dalam puisi ''Aku'', sebuah sajak yang keras, berani serta bersemangat. Puisi lain yang juga menyiratkan hal yang sama karya Chairil adalah ''Kerawang-Bekasi'' dan ''Persetujuan dengan Bung Karno''. Karya-karyanya ini mampu menggelorakan semangat hidup untuk menentang ketidakadilan, ibarat pedang di medan perang. Chairil juga sangat romantis. Lihatlah puisinya yang berjudul ''Cintaku Jauh di Pulau'' dan ''Senja di Pelabuhan Kecil.'' Tidak cukup individualis dan romantis, Chairil juga sangat religius seperti tampak dalam puisi ''Betapatirajawane'', ''Isa'', dan ''Doa''. Walaupun demikian, ada saja orang yang menghubungkan Chairil sebagai seorang anarkhis dan egois dengan sajak ''Aku''-nya.

Meninggal dalam Ketiadaan

Hidup luntang lantung, mirip gembel, keluyuran malam hari di remang-remang kota Jakarta merupakan dunia keseharian Chairil. Tidur di terminal dan bergaul dengan abang becak serta para pemulung sembari tetap menulis sajak. Sampai akhir hayatnya, meninggal pada 28 April 1949, penyair yang terkenal dengan sajak ''Aku'' ini tidak meninggalkan harta warisan. Dalam tulisan di majalah Sarinah (edisi 12-25 Mei 1986), disebutkan, warisan terakhir Chairil pada anak istrinya hanyalah satu ons gula merah, sepasang sepatu dan kaus kaki hitam, selembar uang rupiahan serta satu map sajak yang bakal dibukukannya, masih dalam tulisan tangan.



.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...