Jumat, 30 Maret 2012

Nenek Moyang Bangsa Indonesia Pernahmenguasai 2/3 Bumi!

Written by : Turangga Seta
Day : Monday, 24 May 2010 17:01
Last Updated : Tuesday, 25 May 2010 19:02

Untuk yang berhubungan dengan sejarah Nusantara,
kami berhasil menemukan bahwa:
Sejarah Nusantara tidak sekerdil sejarah yang tertulis
di buku-buku pelajaran sejarah sekolah yang resmi
atau literasi sejarah yang ada.

“BAHKAN LEBIH DARI ITU, KAMI MENEMUKAN
BUKTI TENTANG KEBESARAN LELUHUR NUSANTARA
YANG DISEKITAR 10.000 TAHUN SEBELUM MASEHI
SUDAH MENGUASAI DUA PER-TIGA BUMI”.

Data yang kami peroleh terdapat di beberapa relief
dan prasasti yang dapat dilihat dan dimengerti oleh
semua orang.

Selain itu kami juga berhasil memetakan dan
mendokumentasikan lebih dari 20 jenis aksara purba
asli Nusantara yang dapat dipakai untuk membaca
prasasti dan rontal-rontal kuno.

Berhubungan dengan pencitraan sejarah sebagai
mitos, kami juga berhasil menemukan bukti
bahwa beberapa cerita mitos itu adalah benar adanya ,
bukan hanya sekedar cerita pengantar tidur atau
celoteh dongeng keheroikan belaka (seperti
keberadaanKerajaan Hastina Pura, Kerajaan
Ngamartalaya, Kerajaan Dahana Pura, Kerajaan
Gilingwesi, dll.)

Kami juga berhasil memetakan periodesasi terciptanya
bumi sampai ke titik akhir menjadi tiga:
- Jaman Kali [Jaman Besar] , dan setiap Jaman Kali
kami bagi menjadi tujuh.
- Jaman Kala [Jaman Sedang] , dan 1 Jaman Kala
kami bagi menjadi tiga
- Mangsa Kala [Jaman Kecil] , serta berhasil
mengurutkan sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di
Nusantara yang mayoritas dihilangkan dari sejarah
resmi.

Kebesaran Nusantara di masa lalu sangat erat
kaitannya dengan kebesaran tradisi yang pernah ada
di Nusantara. Namun sayangnya kebesaran tradisi
kita itu telah dihilangkan dengan masuknya ajaran-
ajaran baru.

Bahkan ajaran-ajaran baru cenderung mem-vonis
tradisi kuno menjadi animisme, dinamisme dan
politeisme. Padahal ada beberapa teknologi terapan
masa lalu yang sangat efektif dan menjadi kekuatan
kehormatan dari kebesaran leluhur kita yang
sebetulnya masih sangat relevan untuk digunakan
oleh generasi kita sebagai pewaris teknologi tersebut,
namun kita tidak pernah menyadarinya.
Sebagai contoh, dalam Kitab Negara
Kertagama terdapat aturan bahwa setiap Adipatiharus
menghadap ke pusat kerajaan [Kerajaan Induk] setiap
35 hari sekali.

Diandaikan bila hal itu terjadi di era Kerajaan
Majapahit, Adipati dari Kadipaten Magadha
[sekarang Bandung] untuk mencapai
ke Trowulan pasti butuh waktu lebih dari dua minggu.
Karena pada masa itu belum ada jalan raya dan
mayoritas daerah sepanjang perjalanan masih berupa
hutan belantara, juga belum terdapat sarana
transportasi modern seperti saat sekarang ini.
Belum lagi para Adipati yang memerintah di luar pulau
Jawa, seperti Adipati dari Kadipaten
Tamgaram [sekarang Lampung] atau Adipati
dari Kadipaten Madagascar[pulau dekat
benua Afrika ], bagaimanakah dan apakah sarana
transportasi mereka untuk menghadiri Pisowanan
Agung setiap 35 hari sekali itu.

Untuk perbandingan, saat gempa besar melanda
Padang ternyata bantuan yang lewat darat sampa
lebih dari sebulan kemudian belum bisa merata ke
daerah Padang Pariaman, hingga hanya bisa
didistribusikan melalui transportasi udara. Bisa
dibayangkan teknologi jenis apakah yang dipakai oleh
para Adipati kita pada jaman Majapahit untuk
berpindah tempat pada saat itu, di saat mereka
masih harus menembus medan yang tidak ada
jalannya yang penuh dengan hutan belantara, bahkan
sebagian harus menyeberangi lautan yang luas,
sementara mereka sendiri masih harus menjalankan
roda pemerintahan di Kadipaten-nya masing-masing.

“MAKA KAMIPUN KEMUDIAN SADAR BAHWA ADA
TEKANAN DARI BEBERAPA NEGARA BESAR YANG
MENDORONG SUPAYA KITA MELUPAKAN DAN
MENYEPELEKAN TRADISI ASLI KITA, KARENA
HANYA DENGAN TRADISI WARISAN LELUHUR,
MAKA KITA BISA BANGKIT DARI KETERPURUKAN,
JUGA SEMANGAT NASIONALISME GENERASI
MUDA AKAN MENJADI BANGKIT LAGI KALAU KITA
BERHASIL MENUNJUKKAN KE MATA DUNIA
BAHWA KITA BUKANLAH NEGARA KECIL”.

Kita akan sanggup membantah setiap klaim dari
Malaysia, karena terdapat juga bukti bahwa kita
bangsa asli Nusantara bukanlah orang Melayu dan
orang Melayu pada masa lalu hanyalah prajurit biasa
dari wilayah yang menginduk kepada Nusantara di era
kerajaan-kerajaan leluhur kita pada jaman dulu.

Untuk dampak positif ekonomi, dengan meng-ekspos
kebesaran Nusantara akan ber-imbas ke bangkitnya
peningkatan perekonomian di daerah yang candi-
candinya menjadi bukti kebesaran Nusantara.
Candi-candi itu saat ini tersebar mulai dari Jawa Barat
sampai ke Jawa Timur. Sangat disayangkan
mencermati para arkeolog kita hanya menganggap
cerita dalam relief-relief tersebut hanya sebatasan
kisah Ramayana, Sudamala, dll., sehingga sejarah
kisah aslinya tidak pernah dipelajari dan terungkap.

Saatnya untuk generasi muda kita berhak mengetahui
betapa luhur dan terhormatnya sebetulnya bangsa kita
ini.

neody2.blogspot.com/2011/10/nenek-moyang-bangsa-indonesia-pernah.html?m=0

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...