Selasa, 18 Januari 2011

VALENTINE's DAY IN MY EYES


Pada mulanya, Valentine’s Day bagi saya identik dengan mawar, kartu ucapan yang (dipaksain biar) romantis, terus jauh – jauh hari udah nyiapin celengan biar ada duit untuk ngasi hadiah – entah itu cokelat, boneka, dan, yah, taulah… something like that.
Waktu SMA, malah saya ngebawa semua atribut – atribut itu ke dalam tas. Rada ribet juga, mengingat yang kebawa itu satu ekor boneka beruang, trus ada satu unit bunga mawar (9 mawar merah dan 1 mawar putih) dan kartu ucapan yang kira – kira bunyinya :

“ Kusertakan Noah (nama beruangnya.. ^ ^ v) untuk kau peluk dalam kasih,
Juga sepuluh mawar.
Sembilan menunjukkan hasrat mendalam untuk selalu bersamamu,
Dan satu untuk agar kau tau : Aku selalu menginginkan ketulusan hatimu”

(preeeetttt….. bisa terdengar suara itu samar2!! Kwkwkwkw)

Nah, itu semua saya paksain biar bisa muat di bangkunya Sii Cwe Sasaran saya. Namanya Dwi Nugraha Jatie. Cantik dan manis, secantik orangnya. Cieee….

Ya gtu dehhh, saya masuknya paling awaaaalll…. Bgt, sehingga bisa leluasa melakukan tindak kriminal itu. Baru dech abis itu temen2 pada dateng atu – atu, termasuk Sii Jatie ini.

Waduh tampangnya saya inget banget, celingukan sana – sini, mau nyari tampang mencurigakan yang kira – kira layak dan pantas dijadikan tersangka.Tampang sumringahnya nerima hadiah dari Sang Pemuja Rahasia gak bisa dia sembunyikan. Saya mah pura – pura kagak tau aja, asik ngobrol sama temen sebangku, padahal mata dari tadi2nya udah gak lepas2 dari dia. Penasaran juga ma reaksinya kaya gimana.

The End

Lha, terus gimana dund kelanjutan ceritanya??

Hihihi…. Ya, ceritanya nyampe sono ajah. Saya waktu itu terlalu pengecut untuk menyatakan langsung perasaan saya ma dia. Takut ditolak, trus diperkosa.. Itu alesan utamanya. Xixixi….. Padahal kalo diliat – liat sich,ya, bukannya saya yang ke-PD-an, dia tuch rada2 demen juga siee ma saya. Kalo pas ngaso, sering ngajak2 saya ke kantin, padahal temennya banyak tuch yang bisa diajak. Kenapa mesti sama saya?? Lagian, yang bayarin dia terus, gak perduli saya bilang gak usah atau giliran bayarin. . .

Ya, dari cerita itu, setiap orang rame2 bicarain Valentine (biasanya pertengahan Januari kaya sekarang ini) udah deh saya inget lagi ma dia. Bagi saya Valentine itu semacem upacara sakral layaknya Kenaikan Yesus Kristus ataupun yang lainnya. Bahwasanya pernah pada tanggal itu saya mengungkapkan perasaan cinta kepada seseorang tanpa mengharapkan balasan apapun. True Love istilahnya bule – bule. Padahal ini ritual kagak jelas gitu juntrungannya. Siapa donk, yang bisa ngasitau Valentine’s Day itu dibawa ma siapa ke Indonesia. Trus, nenek – moyang kita waktu Jaman Jepang gimana donk ribetnya ngungkapin cinta-nya? Masa’ pakek cokelat juga kayak kita – kita ?!

Nah, kalo mikirnya ke sana, saya jadinya mikir, Valentine itu sebenernya gak special2 amat lah (tanpa mengurangi rasa hormat kepada Santa Valentine atas jasanya mempersatukan dua insan yang sedang dilanda asmara) Mungkin hari itu cuman satu momentum aja, sama kayak taun baruan. Siapa, coba, yang ngebikin 1 Januari itu sebagai hari yang istimewa untuk memandang sesuatu menjadi baru? Semuanya menjadi begitu karena kita (baca:manusia) yang membuatnya seperti itu. Saya pribadi gak perlu tanggal 1 Januari untuk introspeksi diri atas apa yang telah saya lakukan sebulan, dua bulan, tiga bulan terakhir ini. Saya bisa introspeksi tanggal 27 September, 23 Mei, dst. Dan pada saat itulah tahun baru bagi saya.


Konsekuensinya kemudian adalah : Saya nggak perlu tanggal 14 Februari untuk “sekedar” menyatakan perasaan kasih – sayang saya kepada keluarga, sodara-sodari, temen, sahabat, pacar, selingkuhan, dan seterusnya. Sedapat mungkin saya mengungkapkan itu semua setiap hari, dan pada saat itulah Valentine’s Day bagi saya.

Sekali lagi, saya tidak bermaksud mengurangi makna yang mungkin mendalam di balik Hari Valentine, tapi begitulah. Bagi saya, Valentine’s Day itu adalah semacam pembodohan diri. Salah – salah, kita malah terjebak ke dalam pemikiran semu, bahwa Valentine’s Day adalah satu – satunya hari yang diberkati oleh-Nya bagi manusia untuk menyatakan perasaan cinta. Mirip dengan pandangan bahwa ketika Hari Ibu, semua orang mendadak latah mengucapkan “I LOVE U MOM” , terus sesudahnya malah cekcok terus sama mami. Capeek deeeee…

Sukur2 pas Valentine, penjual kembang jadi laris – manis orderan. Gtu juga ma penjual kertas, lem, spidol, boneka, cokelat, permen,dst…. Trus, setiap manusia kasmaran pada waktu itu jadi ngumpul dalam kedunguan masing2 bahwa itu adalah hari yang teramat istimewanya. Itu bagus juga. Setidaknya atmosfer cinta bener2 ngumpul pada waktu itu.

Negatifnya?? Ya elah…. Apa dwonk akibatnya kalo love is on the air?? Ini satu saja gambaran kelamnya. Misalnya, para ABG karena saking terlarutnya ma suasana penuh cintronk, kebawa dech ma perasaannya itu. Udah rahasia umum kalo Valentine di mana2 dilewatin di tempat2 yang rada2 gimanaaaa…gt. Nyarinya yang sepi biar bisa leluasa ngungkapin perasaan. Bahkan yang ekstriman dikit, milih kuburan Cina sebagai tempat kencan. Meskipun saya belum pernah mendengar ada survey tentang ini, saya yakin tingkat aktivitas seksual meningkat pada waktu ini. Risikonya, ya sama kayak iklan2 yang sering nongol itulah… MBA (Marriage By Accident), trus aborsi, perkosaan (miris gwa pernah ngebaca satu gadis belasan dikeroyok pemuda2 ABG pada Hari Valentine…. :/ ), dan yang sejenis itu.

Hotel2, penginapan2, kost2an, mendadak jd meningkat daya jualnya pada hari ini. Apotek2 penjual kondom, iud, pil KB, obat kuat juga ikutan membludak, meskipun konsumennya mesti ngambil pintu belakang. Malu ‘menodai’ makna Hari Valentine. Terus besoknya test-pack kehamilan mendadak rame pesenan. Posyandu, klinik sampai dokter spesialis dan Rumah Sakit mendadak kebanjiran pasien yang penasaran apakah mereka “positif” atau masih tetap bisa merayakan Valentine berikutnya dengan modus yang sama. Hmmmm…..


Belum lagi yang manfaatin moment ini untuk ‘nembak’ cwe, trus ditolak! Di samping peningkatan aura cinta pada hari ini, tak sedikit pula yang harus menelan kecewa karena ditolak cintanya. Frustrasi dah, terus nganggep semuanya jadi gak berarti. Celingukan nyari tali, trus gantung diri di bagasi.. Hiiiii….. nggak lagi2……

Trus, apa lagi donk, sekarang dihubungkan dgn posisi kita yang tinggal di Bali?? Pernah gak org2 mikir kenapa harus Valentine yang dijadikan sosok panutan dalam hal cinta dan ketulusan hati? Kenapa tidak ada hari Romeo? Atau Hari Sam Pik Ing Tay? Nala dan Damayanthi? Hari Parwathi? Jujur saja, kalau harus dibandingkan dalam hal ketulusan cinta, budaya kita di Indonesia, lebih layaklah bila misalnya kita merayakan hari kasih – sayang dengan merenungkan kisah – kisah melegenda dari budaya asli kita sendiri. Itu artinya kita masih bodoh dan asal comot aja sok eksis dengan budaya luar. Mending hari Nala daripada Hari Valentine. Atau yang paling universal, kenapa kita sampai tidak merayakan Hari Kelahiran Shri Krishna saja sebagai hari kasih sayang, mengingat dari Dia-lah kita mengenal arti kata cinta.

Singkatnya, Valentine’s Day is nothing to do with me. Itu Cuma hari yang sama seperti hari – hari biasa lainnya - dengan ataupun tanpa cinta di sekitar saya. Special atau tidaknya tergantung dari sisi mana kita melihatnya. : )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...