Rabu, 19 Januari 2011

KITA INI MANUSIA MATRE, DAN RUSAK, DAN SAKIT


Setidaknya, kita sepaham, dunia yang kita tinggali ini semakin ringsek oleh materialisme dengan berkembangnya industrialisasi, modernisasi, atau apalah “sasi – sasi” yang lainnya. Jangankan di Amerika dan di Jepang yang menjadi sarang industri dan advertisi, di negara yang masih dalam tahap merangkak pun gejala materialisme masih bisa dengan mudah dideteksi – sepanjang di sana paling tidak ada Coca – Cola. Semboyan sebagian besar dari kita telah berubah dari “I am what I am” menjadi “I am what I own.” Saya adalah apa yang saya miliki.

Ramai – ramai kita mengikuti pola yang sama sampai ajal menjemput, membeli produk yang kira – kira bisa mencerminkan “Siapa Saya.” Kita menjadi terobsesi membeli Blekberi karena masyarakat kita umumnya punya pandangan yang seragam bahwa orang yang memiliki Blekberi sudah pasti orang berpunya, manusia macho, orang berpendidikan, nggak gaptek/ndesho, kutukhupret…

Padahal bisa saja Blekberi yang dia punya hasil ngambek seminggu sama ortu, atau cicilan 6 bulan, bunga menetap atau menanjak, gak masalah. Dan lebih parah lagi hasil mencopet di angkot.

Para ABG memaksa ortu agar mau membelikan FU, biar cewe’ – cewe’ pada bilang “I Love You,” kemudian yang cewe’ juga nggak mau ketinggalan meminta VARIO karena itulah motor yang lagi in untuk dikendarai kaum ABG.

Persoalannya bukan hanya pada Blekberi, FU dan VARIO saja. Mereka – mereka itu hanyalah perwakilan kecil saja dari kekaisaran yang bernama produk industri. Induk semangnya adalah modernisme, industrialisme dan “whatever”-isme itu. Lihatlah contoh kecil saja, seorang tetangga kita yang baik memiliki TV flatscreen merk #1. Anda bisa saja berkata di depannya,”Wow, keren, saya ikut senang kamu punya itu,” namun dalam hati berkata,” Minggu depan gwa kudu punya juga yang beginian…. HARUS!!.”

Dan mulailah terjadi parodi kehidupan (lagi). Sedari kita beranjak dari tempat tidur pada pagi hari hingga kembali terlelap lagi, yang terpikirkan adalah bagaimana caranya untuk bisa membeli ini dan itu. Kendaraan Anda tukar – tambah dengan yang lagi nge-trend, agar Anda kembali mendapatkan perhatian seperti ketika kendaraan yang lama lagi digila-gilai. Anda merasa risih ketika ditanya tidak tahu lagu tertentu yang lagi populer, sehingga benar – benar meluangkan diri pergi ke counter – counter untuk meng-update lagu – lagu terbaru. Entah itu lagu berkualitas sampah ataupun dengan lirik dangkal, yang penting baru! Kulkas dua pintu sudah tidak eksklusif lagi di mata masyarakat, sehingga Anda ganti dengan kulkas delapan pintu dan dua jendela…. Sikat gigi harus merek Anu; Sabun harus yang Itu; Ya, tanpa sadar, hidup kita dikendalikan oleh industri dengan iklan – iklannya yang membombardir di sana – sini. Bahasanya santun dan mendayu – merayu. Namun sayup – sayup, jika Anda memperhatikan benar, akan terdengar kalimat samar,”KAMI INGIN UANG ANDA.” Bayangkan, Iklan – iklan di TV dalam 2 jam per hari antara 40-125 jenis. Itu berarti dalam setahun kira – kira kita mengkonsumsi 15000 – 45000 iklan. Belum lagi yang dipajang di koran – koran, majalah, radio, internet dan etalase – etalasi pinggir jalan.

Materialisme adalah: Beli! Miliki! Kenyataan bahwa kita sering membeli barang yang sebenarnya tidak begitu kita perlukan telah menjadi kebiasaan klise dalam budaya keseharian kita. Kita menjadi makhluk konsumtif bukan lagi makhluk berpikir, makhluk beragama, makhluk berkomunikasi, ataupun makhluk terhormat yang biasa kita sematkan dengan bangga kepada diri kita. Seorang pemikir ekonomi pernah berkata, implikasi dari pandangan metafisik materialisme adalah menuju sistem nilai yang karena menganggap kenyataan hidup hanya benda, maka tujuan hidup adalah mengejar kenikmaan fisik. Jadi materialisme sejajar dengan hedonisme. Hedonisme sangat identik dengan hasrat mencari kepuasan, sehingga apapun akan dilakukan untuk menghindari apa yang dinamakan penderitaan.

Cara materialisme menaklukkan hati kita sangat halus dan licin. Ia bisa masuk melalui kebutuhan - kebutuhan wajar kita: rumah berkamar dua-tiga, bergarasi; Perlengkapan: kulkas, mesin cuci, micro-wave, AC, dsb. Ukuran itu terus meningkat. Dari keinginan menjadi kebutuhan, dari kebutuhan menjadi keharusan. Akhirnya materialisme membuat kita mengabdi kepada ukuran – ukuran standar kebutuhan, kenikmatan, dll. HP menjadi tak cukup lagi sebagai sarana berkomunikasi, tapi media untuk menunjukkan bahwa kita manusia yang gaul, sehingga Anda rela menguras isi tabungan untuk membeli produk tertentu yang benar – benar lagi booming dibicarakan banyak orang. Yang lama dikasih kucing aja. Anda bangga menjadi yang pertama memiliki produk yang orang lain baru bisa angan – angankan.

Masalah terbahaya dari materialisme adalah kita dibutakan tentang aspek atau sifat spiritual dari realita. Materialisme membuat kita terbelenggu dengan sisi materi dari kehidupan. Semua waktu, tenaga, pikiran kita terfokuskan pada aspek – aspek fisik hidup ini. Akibatnya pemahaman dan penghayatan kita tentang hidup menjadi datar, bahkan ukuran – ukuran materialistik kita pakai untuk mengukur spiritualitas.

Industrialisme yang menawarkan kenikmatan semu menjual gaya hidup kepada kita, yang lebih lanjut mengakibatkan budaya kompetisi materialisme serta membuat kita menjadi sangat individualis dan serakah dalam hidup bersosialisasi. Profesor bidang kejiwaan anak-anak dari Institute of Child Health London Philip Graham menyatakan, salah satu faktor penyebab utama munculnya masalah mental pada anak-anak dan remaja adalah akibat keinginan untuk memenuhi rasa ingin memiliki yang berlebihan (posesif). Salah satunya dalam hal berpakaian atau barang-barang elektronik.

Terlebih lagi, bayangkan berapa banyak rongsokan yang terkumpul setiap tahunnya saat produk – produk industri yang lama digantikan dengan yang baru. Tengoklah kota – kota besar maupun yang tidak terlalu besar. Mobil – mobil mewah saling berebut tempat atas nama eksistensi, asapnya gagah merasuki paru – paru bumi, saling unjuk privilege. Oplet tua tinggal legenda, Nokia tipe batako memenuhi kantong pemulung. Plastik – plastik berbaris liar mengikuti dunia yang, katanya, makin moderen dan metropolis. Dan kita meletakkan jiwa kita di sana.Di sini, di kota – kota besar ini, juga di rumah – rumah ibadah sekalipun sangat jarang terdengar,” Pertuhanlah Tuan Sejati, perbudaklah materi. Tuhan hartaku, atau harta tuanku?.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...