Rabu, 09 Februari 2011

MELIHAT DARI (TIDAK HANYA) SATU SISI


Alkisah, beribu – ribu tahun yang lalu, hiduplah seorang bandit, pembunuh dan perampok sadis dan brutal di daratan India. Modus kejahatannya sangat spesifik, yakni membegal siapa saja yang melintasi hutan tempatnya ‘beroperasi’ dan tanpa mengenal belas – kasihan, bila yang dibegal melawan, dia membunuh mereka lalu menjadikan jari – jari korbannya sebagai kalung menghiasi lehernya. Tak heran bila dia mendapat julukan Ratnakara (Ratna= perhiasan; Kara=tangan).

Pada suatu hari, seorang saddhu bernama Naradha melintasi hutan itu dan Ratnakara berniat untuk merampoknya pula. Namun, niatnya merampok tiba – tiba menghilang begitu saja karena – dia sendiri tak bisa menjelaskan mengapa – dia terhanyut melihat air muka sang saddhu yang begitu memukau dan bercahaya, diliputi kasih yang sulit digambarkan dengan kata – kata. Singkat cerita, Ratnakara menurunkan senjatanya dan bersembah – sujud kepada sang mahamuni, memohon petunjuk bagaimana caranya agar dia juga bisa memiliki cahaya wajah seperti yang dimiliki oleh Naradha. Naradha lalu berkata, itu disebabkan karena beliau selalu melantunkan nama Tuhan dalam setiap jengkal langkahnya, dalam setiap hembusan nafasnya.

Saking inginnya Ratnakara merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Naradha, dia pun mulai melakukan meditasi bertahun – tahun, hingga sekujur tubuhnya mulai dijadikan tempat bersarang para semut. Dia lalu mendapatkan pencerahan, dan pada kemudian hari mendapatkan nama Walmiki, dia yang terlahir dari bukit semut (walmiki = bukit semut). Nah, Walmiki yang sama inilah yang kemudian menggubah epos kepahlawanan yang terkenal, Ramayana. Karena epos ini adalah gubahan pertama yang menjadi karangan berbahasa Sansekerta, Ramayana juga dikatakan sebagai ‘Adi Kavya’ – puisi pertama!

Sepanjang sejarah manusia, transformasi, perubahan drastis karakter seseorang dari yang ‘kurang baik’ menjadi ‘baik’ bukanlah sesuatu yang mustahil. Di samping itu, apalah kehidupan ini bila bukan proses perkembangan menuju ke arah yang lebih baik? Sejarah kuno telah pula mencatat bahwa Prahlada, anak dari Raksasa Hiranyakasipu adalah pribadi pemeluk teguh Wishnu, Rahwana adalah pemuja Shiva yang sangat taat, namun menyalahgunakan anugerah yang diberikan Shiva kepadanya dengan berbuat sewenang – wenang, melakukan tindakan yang melanggar hukum dharma.

Terdapat paradoks dalam setiap jalan hidup dan karakter seseorang tanpa terkecuali. Hitler, misalnya, terkenal karena dia-lah yang menjadi otak utama Perang Dunia II, aktor di balik pembantaian terhadap berjuta kaum Yahudi, terutama yang berada di Eropa; sumber kekacauan ekonomi akibat perang yang berlangsung lama. Siapa kemudian yang bisa menyangka bahwa dia adalah seorang vegetarian yang sangat ketat dan seorang politisi yang sangat setia kepada pasangannya? Asumsinya, politisi memiliki kecenderungan untuk berpoligami atau terlibat affair dengan perempuan lain, meskipun tidak selalu demikian. Atau, siapa pula yang menyangka bahwa Napoleon Bonaparte, sang kaisar penakluk daratan Eropa, saat berusia 25 tahun pernah dipecat dari ketentaraan? Selain itu ia telah dipermalukan, patah semangat, tanpa harapan, tanpa uang. Puncaknya, ia berniat untuk bunuh diri dengan meloncat dari sebuah jembatan. Untungnya, seorang temannya datang dan berhasil membujuknya untuk membatalkan niat itu.

Dalam konteks kekinian yang lebih mikro, di lingkungan pergaulan sehari – hari, situasinya setali tiga uang. Penerapan stereotip bahwa ‘teman yang ini’ pasti ‘begini’, dan ‘teman yang itu’ pasti ‘begitu’ tanpa kita sadari adalah cara yang paling sering kita terapkan dalam memandang seseorang. Istilah ‘suba kadong macolek pamor,’ misalnya, mengacu kepada seseorang yang sudah terlanjur di-cap yang negatif akibat yang bersangkutan melanggar norma – norma yang berlaku di dalam masyarakat sosial-nya, yang berat maupun ringan. Kontrol sosial memang diperlukan, bahkan wajib diterapkan demi ketertiban bersama. Kontrol diperlukan untuk menjamin bahwa semuanya mendapatkan apa yang seharunya memang layak diterima seseorang. Seorang pencuri, misalnya, layak dijebloskan ke penjara untuk mempertanggung – jawabka perbuatannya itu. Wajar dan etis.

Yang menjadi perkara kemudian adalah adanya semacam bentuk kontrol yang over-flowing, berlebih – lebihan terhadap seseorang yang meskipun memang bersalah namun seakan – akan mendapati dirinya memasuki apa yang dinamakan ‘the point of no return’, tak ada jalan untuk kembali ke dalam masyarakat, dikucilkan, di’colekin pamor,’hingga suatu saat ketika dia mati, barulah masyarakat yang sama mengatakan sekedar basa – basi tentang kebaikan yang pernah diperbuat oleh individu yang bersangkutan. Tidaklah mengherankan jika kemudian Eddie Vadder, penulis lagu berkebangsaan Amerika menuliskan, “Society, you’re crazy breed... I hope you’re not lonely without me” (Masyarakat, sungguh kau gila... Semoga kau tak kesepian tanpa diriku). Aku lirik seakan bosan dengan pelabelan dan segala bentuk pencolak – colekan pamor yang dilakukan oleh masyarakat kita yang ‘berbudaya.’ Dia, dalam kemuakan terhadap basa – basi di dalam kumpulan, memaklumkan diri untuk berpamitan kepada masyarakatnya.

Diakui atau tidak, terdapat gejala kontrol sosial yang disalahgunakan oleh komponen masyarakat tertentu untuk alasan – alasan yang bersifat pribadi. Si A misalnya dengan sengaja membuat berita – berita yang tidak jelas kebenarannya tentang Si D, bahwa Si D itu telah melakukan hal – hal tidak terpuji. Singkatnya, Si A memfitnah Si D. Apa yang kemudian terjadi? Si D menjadi tersudut, tertindas, syukur – syukur dia bisa membela diri dengan mengklarifikasi bahwa berita itu nggak bener, isu, gosip murahan, cerita picisan. Tapi,yah, namanya saja kita hidup di negara yang namanya Indonesia, negeri di mana infotainment dan opera sabun begitu digandrungi dan digila – gilai layaknya kekasih tercinta. Biasanya yang terjadi dalam kasus Si A dan Si D ini adalah sad ending : terbunuhnya karakter Si D. Tercolekilah jidat Si D oleh pamor keramat yang sangat “sialan” itu bagi Si D!

Kita sudah terbiasa dikondisikan untuk menyukai berita – berita sensasional, heboh dan dibuat dramatis sedemikian rupa. Kebenaran dipelintir, keadilan dipolitisir sehingga tanpa rasa bersalah menjadikan satu orang dan yang lainnya menjadi korban kepentingan pribadi. “Idup cang, mati cai”, kira – kira seperti itulah kalau diperibahasakan. Begitu mudahnya terkadang kita memberikan label tertentu kepada seseorang tanpa menyelami lebih mendalam terhadap pribadinya. Sering, malah, jika saja persefektif kita diperluas sedikit lagi saja, terdapat bias yang begitu kentara di dalam masyarakat kita yang begitu kompleks. Iwan Fals dan Rendra mengkristalisasi kenyataan ini dengan menuliskan,”Orang sinting dianggap penting, Orang ngawur dianggap jujur.” Ada pengendalian massa oleh tangan – tangan tak terlihat yang dengan sengaja mengaburkan kenyataan yang sebenarnya dari seseorang atau sesuatu. Ada ketidakadilan dalam tindakan sengaja mengecilkan keberadaan seseorang yang semestinya layak menerima lebih; dan membesarkan keberadaan seseorang yang mestinya menerima sedikit, bahkan tidak layak mendapatkan apa – apa sama sekali.

Untunglah, kewarasan individu – individu di dalam menanggapi isu, gosip, fitnah serta pembunuhan karakter ini tak melulu reaktif dan hantam kromo. Dia bisa saja menggugat balik penebar isu – isu itu, dan ini sangatlah manusiawi, mengingat insting purba manusia yang berupa agresivitas hewaniah adalah sesuatu yang laten berada dalam diri setiap manusia. Sebaliknya, dia malah berpegang kepada naluri Ilahiah yang juga laten berada di dalam dirinya. Ketika menerima perlakuan dilabeli sebagai Ratnakara yang jelek, brengsek, asshole, dsb, dia tidak serta – merta membalas sang pelabel dengan kata – kata atau tindakan yang kira – kira setara dengan yang diberikannya itu. Dia malah bisa dengan kematangan dan kedewasaan hati bersikap sabar dan tidak termakan pancingan memperkeruh suasana. Bisalah diperumpamakan dia bertapa, mendekatkan diri dengan pribadi Yang Mahakuasa, hingga bisalah menjadi pribadi seagung Walmiki. Toh, kalaupun tidak bisa mencapai tingkat semacam itu, masyarakat kita juga mengenal istilah ‘depang anake ngadanin’, biarlah orang – orang melabeli saya yang macam – macam. Yang tahu diri saya tetaplah saya dan Yang Mahakuasa. ‘Saya bukanlah siapa yang anda katakan tentang diri saya, Saya adalah apa yang dikatakan oleh – Nya’, mengutip pernyataan Haanel dalam bukunya, The Master Key System. Dan, kabar baiknya adalah, kita, umat manusia, adalah anak – anak-Nya yang terkasih. Tanpa terkecuali.

Ada baiknya kita mengatakan kepada para penebar isu, penyebar wabah penyakit masyarakat kenyataan agung semacam itu, meskipun tentu saja, dengan melakukan itu hampir sama dengan menyadarkan seseorang yang sedari awal tidak mau disadarkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...