Senin, 09 April 2012

Shankaracharya Tentang Teori Relativitas dan Advaita




Ramaswami Aiyar


Pada saat ini yang menjadi fondasi dari ilmu pengetahuan dan hidup, angkasa dan waktu yang dianggap sebagai azas dasar dari alam semesta – angkasa, waktu dan sebab-akibat – semuanya ini memiliki bentuk pemahaman baru. Angkasa diangap sebagai fungsi dari waktu, angkasa dianggap tiada terhingga akan tetapi tetap terbatas. Dimensi ke-empat secara matematis bisa dibuktikan memang ada. Semua fenomena adalah nisbi (relative) dan mmerupakan fungsi dari kesadaran.

Tiada sesuatu pun adalah nyata dan hal ini bukanlah hanya pendapat Vedanta saja, akan tetapi Sir James Jeans yang menggaris bawahi bahwasannya pemaparan dari keilmuan modern (modern science) sesungguhnya adalah realisasi dari kenyataan, bahwa semua fenomena dan kejadian-kejadian adalah fungsi dari pikiran saja. Dengan kata lain, angkasa tidaklah ada, karena dirinya sendiri, demikian juga waktu tiadalah ada karena dirinya sendiri. Ajaran mengenai kenisbian (relativitas) yang disampaikan oleh Einstein sesungguhnya sudah disampaikan 2500 tahun yang lalu, bahkan mungkin jauh sebelum itu di dalam rangkaian Upaniisad di mana dikumandangkan, bahwa semuanya hanyalah bayangan (pikiran saja).

Ada Pikiran yang Imanent dari Kesadaran Maha Tinggi yang perwujudan maya-Nya adalah penampakan dan sebab musabab lahiriah. Demikianlah sebagai hasil dari ekperimen laboratorium dan perhitungan matematis, hipotesa dan teori kebendaan yang lama menjadi sirna dan kita kembali kepada Vedanta, menurut siapa yang sesungguhnya ada adalah Kesadaran Maha Tinggi di mana semua pikiran-pikiran, semua fenomena adalah bagian saja dan yang adalah penjumlahan, perwujudan dan integrasi dari alam semesta dan evolusi-nya.

Inilah pernyataan dari ilmu-pengetahuan modern. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan modern – ilmu pengetahuan di mana kita berhutang kepada Einstein dan Niels Bohr telah membawa kita kepada kesimpulan, bahwasannya fondasi-fondasi pada mana hidup, dan fenomena serta masalah hidup didasarkan dan dimengerti telah berubah. Dan bahwa falsafah baru, penilaian baru kepada rangkaian fenomena ini adalah pokok dan karena itulah kita kembali kepada spekulasi-spekulasi yang sangat berani ini yang merupakan karakter dari para Rsi di jaman silam.

Saya akan membawa Anda kepada beberapa agama besar dunia. Di dalam demikian banyak perbedaan Anda akan melihat penekanan atas keunggulan pikiran di atas benda dan fenomena dari benda. Ambilah contoh Kristiani yang dari segi tertentu adalah keimanan yang sederhana, ajarannya bersumber pada bantuan pembebasan hanya oleh Yesus Kristus. Kita tahu bahwa atas dasar keimanan yang langsung dan sederhana kepada Sang Guru, para mistikus Kristiani dan segolongan ahli falsafah yang hidup di sekitar abad ke 3 sampai ke 11. Mereka membina sebuah sistem pemikiran yang kalau dikaji secara hati-hati tidaklah jauh berbeda daripada Vedanta, yang tidak sedikit berasal dari gagasan Plotinus dan Plato, yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Mesir Kuno dan India.

Ambilah contoh Islam. Di sini juga tergantung dari satu atau dua hipotesa atau ajaran keimanan tentang universalitas dan keesaan dari Tuhan dan kepercayaan atas utusan Tuhan, akan tetapi berdasarkan keimanan yang sederhana, langsung, demokratis dan secara mutlak dekat dengan jiwa dan hati nurani orang-orang. Kemudian telah dibangun suatu keimanan sufisme yang apabila diperiksa dengan teliti di dalam karya Jalaluddin Rumi dan Omar Khayyam akan tampak tidak banyak berbeda dengan Vedanta.

Keimanan kita, apabila Anda membaca Vedanta adalah juga keimanan yang mengakui kekuatan besar tertentu, rangkaian dewata tertentu, attribute atau emanasi dari Dewata (Yang Tunggal). Bhakti, sembah, kasih sayang, penghormatan akan membawa kepada pembebasan. Hal itu juga adalah keimanan sederhana, akan tetapi ketika masalah manusia menjadi lebih ruwet dan orang-orang mulai menggali semakin dalam di bawah permukaan, maka mereka merasakan bahwa sintesa yang lebih menyeluruh diperlukan.

Sri Shankara muncul di dalam pikiran saya sebagai gabungan yang unik di dalam diri satu orang dua sifat yang biasanya ditemukan terpisah. Ada beberapa yang naik sampai kepada ketinggian yang paling atas dari pengendalian diri yang bersifat lahiriah dan analisa intelektual; ada beberapa yang menempuh lintasan yang sulit dan mencapai puncaknya, di mana di dalam kelangkaan udara dari pemikiran yang abstrak, mereka bisa berhubungan dengan Yang Tiada Terbatas. Yang lainnya mencapai puncak-puncak melaui cinta, kasih sayang dan keimanan yang tiada batasnya.

Tukaram, Kabir, Ramdas adalah contoh dari pribadi-pribadi yang melalui kasih sayang, kerinduan yang intense dan bhakti (devosi pribadi) akan cita cita mereka (seperti halnya Santo Fransiskus) menuntun mereka untuk membaktikan diri mereka dan segala sesuatu yang mereka hargai kepada cita-cita mereka sendiri atau Ista Devata. Itulah perbedaan di antara apa yang disebut jnana dan bhakti. Tiadalah dianugerahkan kepada setiap orang untuk mempersatukan kedua sifat itu pada keberadaan atau raga yang sama. Sri Shankara mampu memiliki keduanya. Beliau adalah contoh yang langka mengenai persatuan di antara sesuatu yang abstrak dan yang konkrit.

Ketika kita berpikir mengenai Sri Shankara, dengan hal apakah kita mengasosiasikan dirinya? Kita mengasosiasikannya dengan bhasyas (tafsir) agung mengenai Brahma Sutra, rangkaian Upanisad, Bhagavad Gita dan berbagai pandangan pandangan beliau yang berisi analisa yang paling abstrak, penelaahan yang paling teliti dan rinci mengenai benda dan jiwa, yang baik dan yang jahat, dualitas dan keesaan dengan kekuatan analisa dan introspeksi, dengan memanfaatkan fikiran yang kering dan tanpa emosi. Akan tetapi bersamaan dengan itu, orang yang sama juga bertanggung jawab atas Dhaksinamurti Stotra, Saundarya Lahari, Ananda Lahiri serta rangkaian stotra yang penuh rasa dan emosi serta juga atas penggambaran semua perwujudan dari Hyang Vidhi di dalam bahasa yang bersemangat. Dengan lirik yang sempurna penuh dengan cinta dan kasih sayang pribadi seperti juga yang kita temukan di dalam pencurahan rasa dari para mistikus Kristiani dan Islam. Dan juga orang orang besar kita sendiri seperti Tukaram dan Kabir serta juga generasi para penyanyi pengembara yang bahkan sampai saat ini dapat dianggap sebagai keagungan dari kehidupan di India Utara.

Yang di atas saja sudah merupakan sebuah keajaiban, akan tetapi ada satu sisi yang lain yang tidak selalu disadari bahkan oleh mereka yang memahami kehidupan Sri Shankara. Sri Shankara diberirtakan wafat ketika menginjak umur 32 tahun. Kita di dalam jaman ilmu pengetahuan sekarang ini dengan pesawat terbang, mobil dan semua kemudahannya akan merasa sulit untuk melakukan perjalanan dari Chenai (Madras) ke Kashmir akan tetapi belasan abad silam, Rsi Agung Sri Shankara melaksanakan ekspedisi ketika beliau berumur 16 tahun sampai 20 tahun berangkat ke Badrinath dan mendirikan salah satu ashram-nya di sana. Selanjutnya ke Shrinagar, memuja pada sebuah pura dan meninggalkan Chakra-nya, ke Dwaraka pada perbatasan Kathiawar di mana dia membangun ashram-nya yang lain. Menuju ke Puri dan ketempat lain di antara lintasan hutan di Mysore, yang kemudian menjadi Rishyasringa Ashrama, yaitu dikota Shringeri sekarang. Kemudian beliau pergi ke Kanchi dan ke berbagai tempat lainnya.

Beliau bukan melakukan hal itu saja akan tetapi sepanjang perjalanannya beliau memperdebatkan dan beliau menang. Ke mana saja beliau menyampaikan pandangan pandangannya. Bahkan dengan semua pekerjaan berat ini, beliau masih memiliki waktu untuk menulis rangkaian puisi yang paling indah di dalam bahasa Sanskrta, elok di dalam gaya (artikulasi), indah di dalam tamsil (perumpamaan) dan harapan. Beliau juga mampu menelorkan beberapa analisa yang mangasyikkan dan dalam mengenai manifestasi pikiran manusia dan proses mental.

Sebagai tambahan, beliau juga mampu menyampaikan ajaran advaita yang adalah salah satu pemecahan yang terhebat mengenai masalah masalah kehidupan manusia. Apakah ajaran itu diterima atau tidak oleh orang orang, tidak dapat disangkal bahwa pencapaian intelektual dan rohani dari Sri Shankara telah mempengaruhi secara mendalam sejarah dari pemikiran manusia. Dia (ajarannya ini) telah mempengaruhi dan memiliki dampak kuat pada berbagai agama dan kepercayaan, yang walaupun tidak secra keseluruhannya diakui.

(Disarikan oleh Agus S. Mantik dari Sir C.P Ramaswami Aiyar, Selected Speeches and Addresses. Bharatiya Vidya Bhavan).
Diposkan oleh Majalah Hindu Raditya

(http://majalahhinduraditya.blogspot.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...