Senin, 02 April 2012

DUSTA SEJARAH KISAH KEN AROK, PERANG BUBAT & SUMPAH PALAPA (4)

DUSTA SEJARAH 4

DUSTA SEJARAH KISAH KEN AROK, PERANG BUBAT & SUMPAH PALAPA

Bagian IV Analisa Data Statistik

Dari statistik yang coba dikumpulkan,
berdasarkan nama-nama orang atau para
pelaku dalam Kitab Pararaton, terlihat hampir
85% nama-nama dalam nuansa yang biasa
dalam pelafalan dan keseharian orang-orang
Sunda, dari jumlah nama yang ada. Sekitar 55%
nama-nama dalam nuansa yang biasa dalam
pelafalan dan keseharian orang-orang jawa.
Maka, ada selisih 30% adalah ada nama-nama
yang biasa dipakai oleh kedua suku bangsa itu.
Berdasarkan data ini, dicoba untuk disimpulkan
bahwa yang membuat kitab Pararaton adalah
mereka yang kental sekali atau paham/fasih
berbahasa Sunda. Dilihat dari daftar jumlah
para pelaku yang terlibat dalam kitab
Pararaton sungguh fantastis, terlihat dengan
jumlah total lebih dari 200 nama, dengan nama-
nama berbeda, walau pun dalam kitab
Pararaton sendiri sering mengambil nama
alias, artinnya 1 orang bisa mendapat nama 2
atau lebih nama, atau bisa juga 1 orang hanya
mewaliki 1 nama.

Statistik ini memberikan ukuran jumlah nama,
bukan jumlah orang, untuk sebuah buku yang
hanya berjumlah 35-an lembar dengan format
tulisan misal Tahoma dan skala font 11,
sungguh fantastis bisa menghasilkan lebih dari
200 nama, sementara isi dari kitab pararaton
sendiri bersifat semi fiksi, artinya si pengarang
akan ada kesulitan besar dalam membuat dan
menyesuaikan nama-nama tersebut sesuai
urutan waktu kejadian dan tempat, dan
diyakini akan muncul deviasi atau
penyimpangan dari pemilihan-pemilihan nama-
nama itu.

Penyimpangan-penyimpangan nama itu adalah
keuntungan untuk para penganalisa, soalnya
kecendrungan nama yang diberikan akan
sangat terpengaruh oleh latarbelakang si
pengarang atau pembuat, keuntungannya itu
yaitu untuk menganalisa identitasnya
walaupun hanya secara garis besar.

Dilihat dari nama-nama yang muncul dan hasil
prosentase yang coba dilakukan, terlihat nama-
nama dalam nuansa Sunda yang paling
dominan, seperti yang tadi disampaikan,
bahwa si pembuat adalah mereka yang paham
dan terbiasa dengan nama-nama keseharian
dari orang Sunda.

Dalam hal ini bukan bermaksud untuk
mengatakan bahwa ini rekayasa dari orang-
orang suku Sunda, tapi bisa jadi oknum, yang
mungkin dari para sastrawan Sunda atau pihak
lain yang sangat paham tentang adat dan
kebiasaan dari orang Sunda.

Bahkan satu hal yang tidak dipahami logika
sama sekali, mengapa Raja Majapahit yaitu
Maharaja Sri Rajasanegara hanya terkenal
dengan sebutan Hayam Wuruk, dan nama ini
berasal dari kitab Pararaton, bukan terkenal
dengan nama aslinya.

Kata hayam dalam bahasa Sunda mempunyai
pengertian ayam dan wuruk dalam bahasa
Sunda mempunyai pengertianya adalah jago
lebih kearah jagoan atau jantan secara
pertarungan atau perkelahian, kalau disatukan
artinya adalah ayam yang jagoan dalam hal
bertarung atau berkelahi, itulah pengertian
Hayam Wuruk yang menjadi sebutan nama
bagi pemilik kerajaan besar Majapahit. Hayam
dan wuruk adalah kata yang dalam pelafalan
dan arti dalam bahasa Sunda yang sudah biasa.
Seluruh bangsa Indonesia sangat fasih kalau
ditanya tentang nama raja Majapahit, pasti
dengan sepontan mereka menjawab Hayam
Wuruk. Ini membuktikan sebegitu besar
pengaruh kitab Pararaton untuk untuk
memberikan warna sejarah kebangsaan.
Nama Hayam Wuruk selain dari kitab

Pararaton tidak ada nama referensi dari bukti
sejarah lainnya, selain dari kitab kidung Sunda
yang dicurigai merupakan penguat keberadaan
kitab Pararaton, tapi spesifikasi atau khusus
untuk mendukung terjadinya peristiwa perang
Bubat, tetapi untuk bukti sejarah lainya yang
bisa dipertangugjawabkan nama Hayam
Wuruk belum ada bukti otentiknya. Menurut
catatan sejarah penerbitan kitab Kidung Sunda
sendiri tidak lama berselang setelah kitab
Pararaton diterbitkan.

Satu hal lagi, ada beberapa nama yang
ditemukan yang biasanya nama-nama itu
terdapat dalam kehidupan masa kini suku
Sunda (red, penulis asli Sunda juga), seperti :
Cucu, Kebayan, Tita, Tati, dan Macan Kuping.
Paling tidak nama-nama itu, nama-nama yang
diperkirakan muncul dan biasa tersebar pada
kisaran abad sekarang ini atau satu abad
sebelumnya paling tidak.

Apakah ini salah penerjemahan atau memang
begitu adanya. Kalau memang begitu adanya
berarti kitab ini belum lama diciptakan atau
dibuat, masih dalam kisaran 1 sampai dengan 2
abad sebelumnya atau sekitar abad 19 dan
abad 20.

Bersambung ke bagian V

(menguaktabirsejarah.blogspot.com/2012/03/dusta-sejarah-4.html?m=1)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...