Senin, 02 April 2012

Lembah Mistis Tampurhyang

Om Swastyastu

Gunung Batur yang terletak di Kintamani, konon
telah meletus sebanyak 6 (enam) kali. Meletus
yang pertama sebelum tahun caka dan terakhir
meletus pada abad ke III.

Seperti dalam Foto ada suatu bukit kecil di lereng
Gunung Batur itu yang sama sekali tidak terkena
lahar, tempat itu disebut "Lemah Singit
Tampurhyang". Ketempat itulah kami telah sering
mendaki, namun seringkali pula Ida dan teman
lain kelinggihan, Ida Bathara meminta kepada
kami agar tangiang malih "Lingga Yoni" sane ical
(hilang) ring Lemah Singit Tampurhyang puniki.
Pada Tumpek Wariga, Tgl.19 September 2009,
kami unit kecil dari Kedathuan Kawista melakukan
penghijauan dengan menanam pepohonan
(beringin,pule, cendana, cepaka, sandat,bambu,
majegau dll) atas ijin dinas kehutanan Propinsi
Bali. Luas lemah singit itu kurang lebih 27 hektar
dan memerlukan pepohonan sekitar 10.000,
inipun akan kami tanami secara bertahap,
mengingat situasi dan kondisi kami di kedathuan.
Seperti yang diterima oleh Ida dari Ida Bathara
dalam komunikasinya lewat semadi agar
ngelinggihan Lingga Yoni di tempat ini, dan Lingga
Yoni inipun adalah Pica Ida Bathara yang terbuat
dari batu permata yang akan kami tarik karena
masih disembunyikan di lapisan Patala di Pura
Jagasatru dekat Pura Muncak Sari yang berada di
kaki Gunung Batukaru, Penebel-Tabanan.

Lemah Singgit Tampurhyang yang tiang tampilkan
lewat foto adalah suatu bukit kecil dikaki Gunung
Batur( berwarna hijau) yang di kiri kanannya
berwarna hitam merupakan bekas lahar yang
telah beku menjadi bebatuan,
Tempat ini rencananya akan dibangun Pura yang
sangat disakralkan,yang tidak sembarang orang
bisa masuk (wisatawan) kesana. Dengan kami
menanam pohon ditempat itu, kami berharap
tempat itu tambah asri dan singgit (tenget) dan
menjadikan tempat meditasi para pemeditasi
nantinya.

Ceritanya sih ,yang dilihat ada setitik sinar di bola
dunia oleh astronout Neil Amstrong waktu beliau
ke bulan itu adalah sinar dari Lemah Singgit
Tampurhyang.

Cita -cita kami amat besar, mohon doa restu serta
dukungan umat sedharma,agar apa yang telah
kami rintis dan direncanakan ini dapat terwujud.
Umat sedharma yang berbahagia, ijinkan kami
untuk menulis pengalaman Ida sewaktu
bermeditasi ring Lembah Singgit Tampurhyang,
hal ini juga sesuai dengan permintaan Bapak
Nyoman Rauh yang ingin mengetahui seperti apa
percakapan Ida dengan Ida Bhatara, kiranya yang
tiang tulis ini atas ijin Ida dengan harapan dapat
membuka tabir ajaran leluhur Bali yang disebut
Agama Wali sebelum pemberian nama Hindu
pada Agama kita ini.

Hyang Wisesa / Hyang Paramakawi / Ida Hyang
Widhi Wasa menciptakan dua macam wujud.
wujud Dewa dan Wujud Denawa, kedua wujud ini
selalu bertentangan, tidak pernah ada kecocokan,
dan akhirnya Ida Hyang Widhi Wasa menciptakan
dari Batu lahirlah Manusia.
Di Bali sebutan manusia Bali adalah Wongsul
yang mengandung arti adalah : Wong = orang, Sul
= Batu, Jadi Wongsul berarti orang yang lahir dari
batu.

Batu tempat manusia lahir itu disebut Batur
Hyang, kalau di India dinamakan dengan Lingga
Yoni. Setelah lahirnya manusia batu, suatu saat
datanglah seekor Lembu yang menanyakan
tentang diri manusia itu, dan sang Lembupun
sanggup menemukan yang menciptakan manusia
itu dengan jalan dan dengan cara naik di
punggung Lembu itu , karena Lembu itu besar
dan tinggi, anak kecil ini tidak mampu sehingga
Lembu itu merendahkan badannya (losan atau
mecelos bahasa Balinya) dan tempat itu diberilah
nama Desa Losan.

Manusia itu baru bisa ketemu dengan
penciptanya diantara perbukitan disebelah utara
Gunung Agung dan perbukitan itu disebut Bukit
Temu. Penciptanya bersabda " Hai kamu anakku,
dikemudian hari bila seketurunanmu ingin ketemu
aku, haruslah memakai titimamah kebo, hal ini
dilakukan dan kita saksikan sampai sekarang oleh
orang Bali pada saat Upacara Pitra Yadnya
(maligia) dengan menggunakan Lembu bertanduk
emas sebagai sarana pengusung Sangge atau
Sekah yang mengelilingi peyadnyan di mana para
Dewa -Dewa dilinggihkan.

Setelah anak ini ketemu dengan Pencipta di Bukit
Temu, diperintahkanlah I buta Kalih (Buta Kala
Dengen dan Buta Kala Dunggulan) untuk menjaga
anak ini sampai dewasa, dan setelah anak ini
tumbuh sampai dewasa dan berjanjilah untuk
mempersembahkan yadnya kepada kepada I buta
Kalih dan upacara ini disebut dengan Buta
Yadnya.

Anak ini tumbuh dewasa, maka dicarilah tempat
lahir dari batu itu dan kemudian disebut dengan
Nama TampurHyang. Batu tempat manusia lahir
itu sangat dihormati dan dipuja puja oleh para
Dewata, hal ini menimbulkan rasa iri para
Denawa. Dengan sifat iri para Denawa,
BaturHyang dicuri dan disembunyikan di Patala
(dibawah bumi).


Setelah hilangnya TampurHyang ini terjadilah
perselisihan antara manusia dengan Dewa -Dewa,
maka terjadilah kutukan oleh para Dewa-Dewa,
bahwa inilah akhir dari pertemuan manusia
dengan Dewa-Dewa.
Menyadari kekeliruan dari manusia, manusia
memohon ampun dan memohon maaf dengan
melaksanakan Upacara Medewa Sraya (Dewa
Yadnya).

Itulah kepercayaan manusia Bali, selanjutnya
melakukan sasembahan kepada Dewa-Dewanya
seperti.Hyang Tangkebin Langit, sebagai pencipta
Dunia,Dewa Bumi disebut Ratu Pancering
Jagat,keduanya ini disebut Ratu Gede Makalihan
sebagai Pencipta dan menjaga keteraturan
semesta. Setelah penciptaan alam dengan segala
isinya, selanjutnya terciptalah empat Dewa
penjaga Semesta yaitu Ratu Gede Jalawung yang
bertugas menjaga Matahari dan Bintang
gemintang, Ratu Made Tebeng adalah Dewa
Badai, Guntur dan Hujan yang memberi
kehidupan, Ratu Nyoman Sakti Pengadangan
sebagai Dewa yang memberi Keadilan dan
kearifan,dan Ratu Ketut Petung sebagai Dewa
Perang yang menjaga dan melindungi kebaikan
bila terancam dari keganasan Naga berkepala tiga
dan mengembalikan keteraturan setelah
kekacauan.

Keyakinan terhadap alam, meyakini kehidupan
sesungguhnya, Dia membuat kehidupan menjadi
mungkin, menjaga segala sesuatu berada
ditempat semestinya dan menentukan apa yang
benar dan tepat, masyarakat manusia sangat
bergantung pada tatanan sakral ini, untuk
meneguhkan keyakinan terhadap yang sakral ini
orang Bali Purba membentuk perjanjian Wilayah
yang mengikat hak hutan, berkebun, berburu
hewan, perkawinan, pertukaran barang yang
diwujudkan dalam aktivitas spiritual yang disebut
Hari Raya TUMPEK.

Kiranya itu yang dapat kami sampaikan sementara
ini, kirang langkung kami mohon maaf yang
sebesar-besarnya.

Om Santih Santih Santih Om

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...