Senin, 02 April 2012

Keris Pemasung Sabda Palon

Suatu tempat yang jauh dari kota dan daerahnya
pegunungan nan subur tersebutlah suatu Desa
dengan nama Desa Belatungan, di Kecamatan
Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan. Disana
berdiri sebuah Kedhatuan yang bernama
Kedhatuan Kawista. Di tempat ini melinggih
seorang penekun spiritual, pemerhati Bali, penulis
buku, dll. Leluhur beliau dulunya adalah seorang
Raja. Dulu pada jaman penjajahan Belanda
leluhur beliau paling dicari oleh belanda untuk
dihabisi dan bersembunyilah beliau dihutan
belatungan yang sekarang disebut Desa
Belatungan. Penekun Spiritual untuk trah Dalem
disebut Kedhatuan atau juga bisa disebut Griya.

Kedhatuan Kawista sering dikunjungi oleh tokoh
tokoh Spiritual Dunia, ada dari Tibet, India,
Kejawen dan belaiau yang berkunjung
mengusulkan agar di bangun Yupa karena tempat
tersebut sangat cocok untuk di pancangkan
Yupa /Lingga.

Mungkin sudah kehendak Ida Sang Hyang Widhi
Wasa, ada saja petunjuk dan jalan kearah sana.
Pertengahan Januari 2009 Kedhatuan Kawista
kedatangan seorang kejawen dari Madura yang
bernama Kanjeng Madi yang memiliki Ilmu Daya
Putih, menyampaikan ditemukan Yupa /Lingga
didaerahnya di Madura. kurang lebih sembilan
hari sebelum Hari Siwaratri diangkutlah Yupa itu
dari Madura ke Bali dengan mobil tronton.

Pemancangan Yupa Tiyang Batu tersebut
dilakukan pada hari Selasa pagi Tanggal 20 Januari
2009 dengan Teerpor /Treck dan selesai pada
malam hari sekitar jam 22.00. Di plaspas Tgl. 24
Januari 2009 (malam Siwaratri) oleh tiga orang
Sulinggih, ada juga Homa /Agni Hotra yang
dipimpim oleh para Brahmana. kegiatan tsb
sampai pagi hari dilengkapi Dharma Wacana dan
Dharma Tula Oleh Ketua PHDI Bali Bapak IGN
Sudiana. Ada pertanyaan, Apakah memang benar
dalam malam Siwaratri dosa dosa kita bisa
dilebur? Nara sumber menjawab, menurut kitab
weda Ya bisa dilebur, tapi ada syaratnya, yaitu
dalam malam Siwaratri kita harus menjalankan
Jagra, Tapa Yoga Smadi dengan benar, contohnya
dengan Puja Puji Nama Tuhan (Om nama Siwa ye,
japa mantra, dll).

Tanda tanda perubahan jaman sudah banyak
mulai tampak dengan dicabutnya keris pemasung
Sabda Palon Nayang genggong, dan terangkatnya
keris Ki Kebu Iwa. bahwa Hindu akan Bangkit itu
akan bisa terlaksana harus dengan perjuangan
kita, selain alam yang mengingatkannya.
Tiyang dekat dg sumber berita bahwa sudah
banyak orang beralih ke Hindu seperti di daerah
Sulawesi ,di daerah Gunung lawu (jawa), di
daerah Gunung Tambora dan di Bali sendiri ada
umat lain yang sudah melakukan pendekatan.
Jumlahnya cukup banyak (ribuan). Di lain pihak
ada Umat kita pindah ke agama lain, mari kita
berjuang untuk mempertahankan dan
mengembangkan Umat, pratisentana yang kritis di
millis inilah yang sudah dititahkan untuk tugas
nan mulia ini.

Saya attachkan Pusaka yang di pakai memasung
Roh Sabda palon Nayang Genggong yang telah
dicabut oleh Ida di Alas Purwa dua bulan sebelum
Lapindo meledak, dan keris Ki Kebo Iwa dan keris
yang lainnya. Sabdo Palon dipasung oleh Wali
Songo karena beliau tetap kukuh
mempertahankan Hindu. Sedangkan Rajanya
Prabu Brawijaya sudah masuk Islam. Beliau
mengutuk 500 tahun runtuhnya Majapahit, Hindu
akan bangkit dengan di tandai bencana disana
sini. Dicabut keris pemasung sabdo Palon karena
pemasungannya telah berakhir (selama 500 th).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...