Senin, 02 April 2012

DUSTA SEJARAH KISAH KEN AROK, PERANG BUBAT & SUMPAH PALAPA (6)

DUSTA SEJARAH KISAH KEN AROK, PERANG BUBAT & SUMPAH PALAPA

Bagian VII Pengumpulan Bahan Uji Materi
Asumsikan kasus hukum yang dihadapi adalah
pembuktian kebenaran kitab Pararaton beserta
isinya dan terdakwanya adalah si pembuat
kitab Pararaton tersebut.

Seperti dijelaskan dalam proses pembuktian
maka harus dilakukan sebuah penyidikan
perkara oleh penyidik. Proses penyidikan ini
harus dimulai dari flash back atau kembali
menelusuri ke alur cerita sejarah asal ususl
kitab itu ditemukan, dibuat atau diterbitkan
pada kali pertamanya, biasanya para penyidik
dalam kepolisan juga akan menelusuri mulai
kesaksian orang pertama dari orang terakhir
yang diduga menyaksikan atau melihat atau
yang mendapat informasi langsung kejadian
perkara, lalu proses selanjutnya diurut
terbalik.

Flash back pertama, berdasarkan tulisan
yang disadur dari web online http://
www.parisada.org/ tentang “Kitab
Negarakertagama, Manuskrip Kuno Tentang
Sejarah Majapahit (I)”, adalah sebagai
berikut:

"Bali bukan saja sebagai penyumbang besar dalam
upaya melestarikan arisitektur zaman Majapahit
(abad 13-15), tapi juga pelestari budaya, agama,
bahasa, dan sastra nenek moyang Majapahit.
Bahkan, Kitab Negarakertagama manuskrip kuno
tentang sejarah kerajaan Majapahit, bukannya
ditemukan di Pulau Jawa, melainkan di Pulau Bali
dan Lombok.

Naskah pujasastra itu cukup otentik, karena
digubah oleh pujangga yang hidup di zamannya.
Bayangkan jika manuskrip kuno itu tidak
dilestarikan masyarakat Bali, bangsa Indonesia
pastinya akan kehilangan referensi besar tentang
sejarah Majapahit.

Negarakertagama adalah salah satu naskah kuno
sebagai referensi sejarah Majapahit. Namun, untuk
mempelajari sejarah Jawa (Majapahit), pada saat
itu para sarjana Belanda hanya mengandalkan
transkripsi prasasti dan naskah kuna Babat Tanah
Jawi (BTJ) gubahan abad ke-19, seperti yang
dilakukan Dr JLA Brandes.

Sebagai perbandingan, Brandes yang ahli bahasa
Jawa Kuno , juga mempelajari tiga eksemplar
manuskrip Pararaton dalam bentuk kropak abad
ke-17. Terdapat juga naskah asing yang juga
dijadikan referensi tentang sejarah Jawa, di
antaranya, sejarah Dinasti Yuan dan Ying-yai
Sheng-lan, catatan perjalanan Ma Huan dari
Tiongkok ke Indonesia.

Hasil penelitian Brandes tentang naskah
Pararaton, sebenarnya telah siap 1893
silam, namun baru dimuat pada 1896
dalam seri VBG No XLIX dengan judul
Pararaton (Ken Arok) Of het boek der
koningen van Tumapel en van Majapahit
Usaha Brandes menerbitkan terjemahan
Pararaton itu begitu mengagumkan
masyarakat sejarah, karena waktu itu
merupakan satu-satunya karya sejarah
ilmiah tentang Singasari dan Majapahit.

Bahan uji materi 1

Menurut hasil penelitian GP Rouffaer,
sahabat karib Brandes, uraian Pararaton
karya Brandes tentang Singasari dan
Majapahit memang berbeda jauh dengan
uraian dalam Babat Tanah Jawi yang lebih
banyak cerita fiksi dan legendanya.
Karena banyak legendanya, Babat Tanah
Jawi sangat populer di kalangan
masyarakat Jawa.

Bahan uji materi 2

Sayangnya, kegemerlapan itu tak bertahan lama.
Pandangan masyarakat sejarah berubah setelah
ditemukan naskah sejarah Majapahit yang jauh
lebih otentik dan akurat di Pulau Lombok. Tahun
1894, Pemerintah Hindia Belanda mengirim
ekspedisi militer ke Pulau Lombok. Lombok pun
ditundukkan, sementara rajanya yang ber-istana di
Puri Cakranegara dipaksa menyerahkan naskah-
naskah lontar yang disimpannya.

Di antara naskah-naskah yang diserahkan kepada
Belanda itu terdapat naskah Negarakertagama
(Nagarakretagama) yang disalin dan naskah asli
pada tahun Saka 1662 (1710 M). Penemuan
manuskrip kuno tentang Majapahit mi merupakan
sumbangan terbesar dalam merekonstruksi sejarah
Majapahit dan Singasari.

Bukan cuma Negarakertagama yang ditemukan di
Puri Cakranegara itu, tapi juga beberapa
manuskrip kuno lainnya. Katalog Juynboll
menyatakan bahwa naskah Negarakertagama itu
ditemukan dalam berkas yang berisi bermacam-
macam kakawin, di antaranya Nirathaptakreta dan
Kakawin Kunjarakama. Kunjarakama adalah serat
dalam bahasa Jawa Kuna sezaman dengan serat-
serat Parwa seperti Adipartva, rathaparwa,
Bhismaparwa, dan sebagainya. Kunjarakama
pernah dicetak dua kali oleh Prof Dr H Kem.
Pertama, dicetak dalam aksara Jawa, dan kedua
dalam aksara Latin dengan keterangan bahasa
Belanda.

Sampai pertengahan tahun 1978, naskah
Negarakertagama yang ditemukan di Puri
Cakranegara itu dianggap sebagai satu-satunya
naskah Negarakertagama karya Empu Prapanca,
sehingga naskah itu menjadi kurang populer.
Menurut Drs Ngurah Bagus, dan Lembaga
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Cabang
Singaraja, di media cetak ibukota terbitan 7 Juli
1978, pelbagai naskah Negarakertagama ternyata
banyak tersimpan di Bali.

Satu naskah Negarakertagama tersimpan di
Amlapura (Karangasem), satu di Geriya Pidada
(Klungkung), dan dua lagi di Geriya Carik
(Sideman, Karangasem). Penemuan empat naskah
Negarakertagama di Bali dan satu di Lombok ini
membangkitkan kepopuleran Negarakertagama
yang berbeda sekali dengan waktu sebelumnya.
Meski naskah Negarakertagama
ditemukan tahun 1894 di Puri
Caknanegara Lombok tapi Dr JLA Brandes
belum tertarik untuk mempelajarinya.
Barulah enam tahun kemudian, setelah
naskah terjemahan Pararaton selesai,
yakni 1902, Brandes mulai mempelajari
Negarakertagama dengan menerbitkan
teksnya dalam huruf Bali dalam seni VBG
LIV bagian I. Terjemahan
Negerakertagama oleh Brandes itu selesai
tahun 1898 dan kemudian diterbitkan oleh
FDK Bosch dalamTBG LVIII, halaman 528
dan seterusnya.

Bahan uji materi 3

Setelah melihat teks Negarakertagama, tahun 1903
H Kem menulis makalah berjudul De
Nagarakretagama, Oud-Javaansc lofdicht op
Koning Hayam Wuruk van Majapahit dalam
Indische Gids. Namun, sampai Brandes meninggal
pada 26 Juni 1905 di Jakarta, dia tak pernah
menerbitkan Negarakretagama dalam bentuk buku.
Bermaksud menandingi Brandes, H Kem
menerbitkan teks dan terjemahan
Negarakertagama dalam BKI sejak 1910 sampai
1914, yang kemudian dikumpulkan dalam
Verspreide Geschriften (VG) VII dan VIII yang
terbit tahun 1917 dengan judul De
Nagarakretagama, Oud Javaansch lofdicht op
Koning Hayam Wuruk van Majapahit. Pada 1910,
NJ Krom datang ke Hindia Belanda
melanjutkan pekerjaan Brandes . Dengan
membahas transkripsi prasasti-prasasti
peninggalan Brandes, pada 1913 dia
menerbitkannya dalam seri VBG LX
dengan judul Oud-Javaansche Oorkonden.
Nagelaten transcripties van wljlen Dr JIA
Brandes.

Bahan uji materi 4

Di antara prasasti-prasasti yang
dipelajari Krom itu, berasal dari zaman
Singasari dan Majapahit. Dengan
demikian, terbitan Krom menambah
sumber sejarah penting tentang Singasari
dan Majapahit yang lebih dapat dipercaya
daripada Pararaton dan
Negarakretagama. Di samping itu, Krom
juga berhasil menerbitkan terjemahan
Prasati Prapancasarapura (1912), Prasasti
Berumbung (1916). Prasasti Batur (1916),
dan Prasasti Trowulan (1919), disamping
Het Oud-Javaansche lofdicht
Nagarakretagama van Prapanca (1365
AD), di ‘sGiavenhage, 1919.

Bahan uji materi 5

Sepeninggal H Kem tahun 1917, Negarkertagama
terbitannya digarap NJ Krom dengan beberapa
perbaikan dan tambahan yang diterbitkan pada
1919. Juga, Pararaton karya Brandes
digarap lagi dengan bantuan beberapa
sarjana lain dan diterbitkan dalam seri
VBG LXII tahun 1920. Yang perlu dicatat di
sini, kepercayaan Krom terhadap
Negarakertagama terlalu besar, lebih
besar dari kepercayaannya kepada
Pararaton.

Bahan uji materi 6

Kepercayaan masyarakat sejarah
terhadap Negarakertagama semakin kuat
akibat penemuan empat naskah
Negarakertagama di Bali dan Lombok.
Penemuan ini juga membangkitkan
kepopuleran Negarakertagama yang
berbeda sekali dengan waktu sebelumnya.
Apalagi setelah diketahui bahwa naskah-
naskah itu berada di tangan masyarakat
biasa dan bukan semuanya disimpan di
puri/keraton. Hal ini menunjukkan bahwa
naskah Negarakertagama memang sudah
dikenal di masyarakat Bali Kuno sampai
sekarang. Tapi, mengapa naskah
Negarakertagama banyak ditemukan di
Bali? Ikuti kisahnya pada edisi
berikutnya. (RM Yunani Prawiranegara,
Pengamat Sejarah dan Kebudayaan).
NusaBali – Selasa, 19 Mei 2009.

Bahan uji materi 7

Bersambung ke bagian VIII

(menguaktabirsejarah.blogspot.com/2012/03/dusta-sejarah-6.html?m=1)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...