Senin, 09 April 2012

Rendra, Pahlawan Indonesia Lewat Kata - Kata


W. S. Rendra telah tiada, namun karya – karyanya yang bernilai tinggi menggema sampai jauh. Terbukti kembali, bahwa jiwa para sastrawan selalu hidup, meskipun raganya telah hancur. Chairil Anwar menyatakannya di dalam puisi “Aku”- nya, ‘Aku ingin hidup seribu tahun lagi.”

WS Rendra, wafat 6 Agustus 2009. Baru hari sebelumnya, seniman Mbah Surip juga meninggal dunia. Dua sosok seniman hebat Indonesia dipanggil Tuhan hanya dalam berbilang hari. Mungkin benar, Tuhan lagi butuh hiburan.

Willibrordus Surendra Broto Rendra atau WS. Rendra lahir Solo, pada 7 November 1935. Ia adalah penyair paling ternama Indonesia yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok.

Semenjak masa kuliah sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.Untuk kegiatan seninya Rendra telah menerima banyak penghargaan, antara lain Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954) Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956), Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976) , Penghargaan Adam Malik (1989), The S.E.A. Write Award (1996) dan Penghargaan Achmad Bakrie (2006).

Rendra yang dikenal hingga akhir hayatnya adalah Rendra si penyair cadas dengan puisi-puisi pamfletnya yang menonjok. Ibarat rocker Internasional, dia adalah Bob Dylan, yang tak segan – segan menggugat penguasa tak bermoral, cukong rakus, dan penggelap uang tak tahu malu. Salah satu kumpulan sajaknya terangkum di dalam kumpulan sajak yang diberi judul “Potret Pembangunan dalam Puisi.” Rendra seolah membongkar ketimpangan – ketimpangan sosial – budaya setelah Indonesia memperoleh kemerdekaannya, melupakan sejarah dan jati diri bangsa. Ia mengajak kita merenung dan mengoreksi kekurangan dan kelemahan kita agar kembali memaknai pembangunan sesuai esensinya. Mari kita menyimak beberapa kutipan (dari sajaknya yang tentu saja lebih lengkap dan panjang) bait di dalam sajak – sajaknya :


Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.

(Orang – orang Miskin)

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

(Sajak Sebatang Lisong)

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

(Aku Tulis Pamplet Ini )

aku berdiri di muka kantor polisi
aku melihat wajah berdarah seorang demonstran
aku melihat kekerasan tanpa undang – undang
dan sebatang jalan panjang
penuh debu
penuh kucing – kucing liar
penuh anak – anak berkudis
penuh serdadu – serdadu yang jelek dan menakutkan

(Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon)

Di samping karya berbau protes, Rendra juga sering menulis karya sastra yang menyuarakan kehidupan kelas bawah seperti puisinya yang berjudul Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta dan puisi Pesan Pencopet Kepada Pacarnya. Banyak karya-karyanya yang sangat terkenal, seperti “Blues untuk Bonnie”, “Pamphleten van een Dichter”, “State of Emergency”, “Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api”, “Mencari Bapak”. Bahkan di antara sajak-sajaknya ada yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris seperti Rendra: Ballads and Blues: Poems oleh Oxford University Press pada tahun 1974. Demikian juga naskah drama karyanya banyak yang telah dipentaskan, seperti Oedipus Rex, Kasidah Barzanji, Perang Troya Tidak Akan Meletus, dan lain sebagainya.

Kiprah WS Rendra sebagai penyair, dramawan, budayawan, dan pengkritik sosial terkemuka Indonesia kontemporer, akan terus dikenang. Kritik sosial Rendra yang dituangkan dalam puisi dan drama akan terus mengentak untuk jangka panjang, sekalipun Burung Merak ini sudah terbang tinggi ke balik cakrawala hari Kamis dalam usia 74 tahun. Pengaruh karya seninya akan jauh melewati batas usianya, lebih-lebih karena memang karya seni itu abadi sementara hidup manusia pendek, ars longa, vita brevis .


[DeJa]
Bahan Acuan:
http://www.goodreads.com
http://nusantaranews.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...