Senin, 02 April 2012

Sejarah Sunda

Purwacarita

Pengertian sejarah secara tradisi adalah beberapa
kisah dongeng, legenda, babad, tambo dll.
Sesungguhnya hal itu berada dibawah disiplin ilmu
sastra, sedangkan sejarah, pembuktiannya harus
berdasarkan disiplin ilmu : filologi (ilmu yang
mempelajari naskah kuna), epigrafi (ilmu yang
mempelajari aksara prasasti), arkeologi (ilmu yang
mempelajari artefak-artefak peninggalan sejarah), dan
geografi (ilmu yang mempelajari permukaan bumi).
Karya sastra bisa diuji dan dikaji oleh disiplin ilmu
sejarah sejauh karya sastra yang bernilai sejarah itu
dapat menunjang temuan sejarah itu sendiri.
Sebaliknya hasil penelitian sejarah dapat disusun
menjadi karya sastra yang sering kita sebut roman
sejarah. Naskah Pangeran Wangsakerta , menurut Edi
S. Ekadjati dan menurut Ayat Rohaedi, adalah naskah
sejarah. Sistematika dan pengungkapannya sudah
dalam bentuk sejarah, menggunakan referensi atau
sumber-sumber tertulis lainnya.
Purwayuga
Sejarah Sunda dimulai dari masa Purwayuga (jaman
purba) atau dari masa Nirleka (silam), yang terbagi
atas :
Prathama Purwayuga (jaman purba pertama), dengan
kehidupan manusia hewan Satwapurusa, antara 1 jt
s.d. 600 rb th silam
Dwitiya Purwayuga (jaman purba kedua), dengan
kehidupan manusia yaksa, antara 500 rb sampai 300
rb tahun silam
Tritiya Purwayuga (jaman purba ketiga), dengan
kehidupan manusia kerdil (wamana purusa), antara
50 rb sampai 25 rb tahu silam.
Dukuh Pulasari Pandeglang
menurut naskah Pangeran Wangsakerta , kehidupan
masyarakat Sunda pertama di pesisir barat ujung
pulau Jawa, yaitu pesisir Pandeglang. Dipimpin oleh
seorang kepala suku (panghulu) Aki Tirem Sang Aki
Luhur Mulya. Sistem religi mereka adalah Pitarapuja,
yaitu pemuja roh leluhur, dengan bukti sejumlah
menhir seperti Sanghiyang Dengdek , Sanghiyang
Heuleut, Batu Goong, Batu Cihanjuran , Batu Lingga
Banjar, Batu Parigi, dll. Refleksi dukuh Pulasari dapat
kita lihat di kehidupan masyarakat Sunda Kanekes
(Baduy).
Salakanagara
Putri Aki Tirem yaitu Pohaci Larasati , menikah dengan
seorang duta niaga dari Palawa (India Selatan)
bernama Dewawarman . Ketika Aki Tirem wafat,
Dewawarman menggantikannya sebagai penghulu
dukuh Pulasari.
Dewawarman mengembangkan Dukuh Pulasari hingga
menjadi kerajaan corak Hindu pertama di Nusantara,
yang kemudian diberi nama Salakanagara . Salaka
berarti Perak dan Nagara berarti negara atau negeri.
Oleh ahli dari Yunani, Claudius Ptolomeus,
Salakanagara dicatat sebagai Argyre. Dalam berita
China dinasti Han, tercatat pula bahwa raja Yehtiao
bernama Tiao-Pien mengirimkan duta keChina tahun
132 M. menurut Ayat Rohaedi, Tiao berarti Dewa, dan
Pien berarti Warman.
Salakanagara didirikan tahun 130 M, dengan raja
pertamanya Dewawarman I dengan gelar Prabu
Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gpura
Sagara. memerintah hingga tahun 168 M. Wilayahnya
meliputi propinsi banten sekarang ditambah
Agrabintapura (Gunung Padang Cianjur) dan Apuynusa
(Krakatau).
Raja Terakhir (ke-8) Dewawarman VIII bergelar Prabu
Darmawirya Dewawarman (348-363 M).
Tarumanagara
Didirikan oleh Jayasingawarman pada 358 M dengan
nobat Jayasingawarman Gurudarmapurusa.
Penerusnya adalah Purnawarman yang memindahkan
pusat pemerintahan dari Jayasingapura (mungkin
Jasinga) ke tepi kali Gomati (bekasi) yang diberi nama
Sundapura (kota Sunda), bergelar Harimau
Tarumanagara (Wyagraha ning tarumanagara) , dan
disebut pula Sang Purandara Saktipurusa (manusia
sakti penghancur benteng) dan juga Panji Segala Raja.
Sedangkan nama nobatnya adalah Sri Maharaja
Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhimaparakrama
Suryamahapurusa Jagatpati.
Raja terakhir Sang Linggawarman sebagai raja ke-12
Kerajaan Sunda
Tarumanagara dirubah namanya menjadi Kerajaan
Sunda oleh Tarusbawa, penerus Linggawarman.
Akibatnya belahan timur Tarumanagara dengan batas
sungai Citarum memerdekakan diri menjadi Kerajaan
Galuh
Kerajaan Sunda berlangsung hingga tahun 1482 M,
dengan 34 raja.
Prabu Maharaja Linggabuana dinobatkan menjadi raja
di kerajaan Sunda pada 22 februari 1350 M. Ia gugur
bersama putrinya, Citraresmi, dalam tragedi Palagan
Bubat akibat ulah Mahapatih Gajahmada . Peristiwa itu
terjadi pada 4 September 1357 M.
Mahaprabu Niskala Wastu Kancana menggantikan
posisi Linggabuana pada usia 9 tahun. Dia membuat
Prasasti Kawali di Sanghiyang Linggahiyang atau
Astana Gede Kawali. Dia juga yang membuat filsafat
hidup :" Tanjeur na Juritan, Jaya di Buana" (unggul
dalam perang, lama hidup di dunia).
Wastukancana memerintah selama 103 tahun 6
bulan dan 15 hari dalam keadaan damai.
Sri Baduga Maharaja adalah putra Prabu Dewa
Niskala, cucu dari Prabu Wastukancana . Ia adalah
pemersatu kerajaan Sunda, ketika Galuh kembali
terpisah. Kerajaan ini lebih dikenal dengan sebutan
Pajajaran. Dialah raja pertama yang mengadakan
perjanjian dengan bangsa Eropa, yaitu Portugis. Ia
berkuasa dari tahun 1482 s.d. 1521M.
Kerajaan Galuh
Pendirinya adalah Prabu Wretikandayun pada 612 M.
Prabu Sanjaya Harisdarma . Ia disebut Taraju
Jawadwipa, dan sempat menjadi Maharaja di tiga
kerajaan : Kalingga - Galuh - Sunda.
Sang Manarah yang dalam dongeng disebut Ciung
Wanara . Ia putera Prabu Premana Dikusumah dari
Naganingrum.
Kerajaan Pajajaran
Pajajaran adalah sebutan pengganti atas bersatunya
kerajaan Galuh dengan kerajaan Sunda, yang
dipegang oleh satu penguasa : Sri Baduga Maharaja
Ratu Haji di Pakuan Pajajaran atau Sri Sang Ratu
Dewata .
Penggantinya adalah Prabu Sanghyang Surawisesa ,
yang berkuasa di belahan barat Jawa barat, karena di
sebelah timur sudah berdiri kerajaan Islam
Pakungwati Cirebon, yang didirikan oleh Pangeran
Cakrabuana atau Haji Abdullah Iman. Dia adalah
putra sulung Sri Baduga Maharaja dari Subanglarang
yang beragama Islam. Subanglarang adalah murid
Syekh Quro Hasanudin Pura Dalem Karawang .
Tahta kerajaan Pajajaran berlangsung turun-temurun :
Ratu Dewata; Ratu Sakti, Prabu Nilakendra dan yang
terakhir Prabu Ragamulya Suryakancana .
Di pihak Cirebon sendiri, putera Susuhunan Jati
Cirebon , yaitu Pangeran Sabakingkin, telah berhasil
mendirikan kerajaan bercorak Islam Surasowan
Wahanten (Banten) dan melakukan beberapa kali
penyerbuan ke Pajajaran.
Pakuan Pajajaran direbut dan dimusnahkan oleh
Maulana Yusuf , putra Maulana Hasanudin.
Pajajaran sirna ing bhumi , atau Pajajaran lenyap dari
muka bumi pada tanggal 11 bagian terang bulan
wasaka tahun 1511 Saka atau 11 Rabi'ul Awal 978
hijriah atau tanggal 8 mei 1579 M.
Sebagai tunas-tunas Pajajaran, muncullah 3 kerajaan
Islam di tatar Sunda :
Kerajaan Islam Pakungwati Cirebon;
Kerajaan Islam Surasowan Banten; dan
Kerajaan Islam Sumedanglarang (Oleh Yosep Iskandar)

(wawawarno.guru-indonesia.net/artikel_detail-20011.html)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...