Senin, 02 April 2012

Zaman Purba Nusantara

Nenek moyang Indonesia sebenarnya telah
menyiapkan warisan sumber-sumber sejarah
Nusantara kepada keturunannya. Sayangnya,
selain rusak oleh zaman, banyak di antara sumber
sejarah ini jatuh ke tangan penjajah. Sumber-
sumber berharga ini dapat mereka kuasai, tetapi
justru tidak sampai kepada anak turunan
penulisnya. Dengan penguasaan mereka, bisa jadi
berbagai penelitian sejarah seperti penemuan
fosil-fosil terinspirasi catatan sejarah yang dimuat
oleh nenek moyang Nusantara. Salah satu tulisan
sejarahwan purba Nusantara adalah zaman purba
nusantara (purwayuga).
Zaman Purba Nusantara menurut
Sejarahwan purba nusantara adalah sebagai
berikut:

1. Penciptaan Bumi
2. Awal Kehidupan
3. Awal Manusia
4. Prathama Puwayuga
5. Dwitiya Purwayuga
6. Tritiya Purwayuga
7. Caturtha Purwayuga
8. Pancama Purwayuga

Penciptaan Bumi

Pada awal masa penciptaan permulaan
bumi ( bhumitala), permukaan bumi menyerupai
api yang bercahaya dan menyala. Berjuta juta
tahun kemudian asap gelap di seluruh muka bumi
secara berangsur angsur dan terus menerus
seluruhnya menghilang. Bumi menjadi dingin.
Namun demikian, belum ada mahluk hidup.
Kemudian, permukaan bumi ini menjadi gunung-
gunung dan lautan.

Awal Kehidupan

Beberapa juta tahun kemudian muncullah
tumbuh-tumbuhan kecil, lalu muncul mahluk
hidup berupa hewan; kemudian hewan yang
hidup di lautan seperti ikan dan sejenisnya.
Beberapa juta tahun kemudian, muncul berjenis
jenis tumbuhan dan hewan raksasa yang beraneka
ragam jenisnya; kemudian bermacam macam
mahluk hewan unggas serta hewan lainnya seperti
babi hutan dan kuda.

Awal Manusia

Berjuta juta tahun kemudian, muncullah
mahluk hidup berwujud manusia tingkatan rendah
dan belum sempurna. Mereka adalah manusia
purba, manusia hewan, yang seterusnya setelah
beribu ribu tahun kemudian berwujud separuh
hewan separuh jenis manusia sempurna.

Prathama Purwayuga
Manusia hewan(satwa purusa)

Kira kira 1.000.000 tahun sampai 600.000
tahun yang silam di Nusantara, terutama di Pulau
Jawa, hidup manusia yang masih rendah
pekertinya dan bersifat seperti hewan. Ada juga
yang menyebutnya manusia hewan (satwa purusa)
dari zaman purba, karena mereka berlaku seperti
setengah hewan. Di antaranya ada yang
menyerupai kera, besar dan tinggi sosok tubuhnya,
tanpa busana. Ada pula yang seperti raksasa,
tubuhnya berbulu dan kejam perangamya.

Ada jenis lain lagi di daerah hutan dan
pegunungan yang lain. Mereka mirip kera. Ada
yang tinggal di atas pohon, di lereng gunung dan
tepi sungai. Mereka berkelahi dan membunuh
tanpa menggunakan senjata, hanya menggunakan
tangan. Mereka tidak berpakaian dan tidak memiliki
budi pekerti seperti manusia sekarang.
Kesenangannya ialah berayun ayun pada cabang
pohon. Manusia hewan ini terdapat di hutan pulau
Jawa, hutan Sumatera, hutan Makasar, dan hutan
Kalimantan (Bakulapura).

Manusia raksasa (bhatupurusa)

Di daerah lain di Pulau Jawa, antara
750.000 sampai 300.000 tahun yang silam, hidup
manusia hewan yang berjalan tegak seperti
manusia. Kulitnya berwarna gelap, tingkah lakunya
baik dan lebih cerdas dibandingkan dengan
manusia hewan yang berjalan seperti hewan. Tiap
hari mereka membuat senjata dari bahan tulang
dan batu. Mereka selalu diserang oleh sekelompok
manusia hewan yang menyerupai kera.

Pertempuran di antara kedua kelompok itu selalu
seru. Akan tetapi, manusia hewan yang berjalan
tegak seperti manusia itu lebih mahir dalam teknik
berkelahi, sehingga akhirnya mahluk manusia
hewan yang berjalan seperti hewan itu habis
terbunuh tanpa sisa dan lenyap dari muka burni.
Manusia hewan yang berjalan seperti manusia itu,
disebut juga manusia raksasa (bhutapurusa).
Mereka tinggal di dalam goa di lereng gunung.
Manusia jenis ini akhirnya punah karena sejak
600.000 tahun yang silam mereka banyak dibunuh
oleh manusia pendatang dari benua utara. Mereka
berasal dari Yawana lalu menyebar ke
Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Pulau Jawa.
Kira kira 250.000 tahun yang silam, manusia
hewan yang berjalan tegak seperti manusia itu
habis binasa. Zaman ini oleh para mahakawi
dinamai masa purba yang pertama (prathama
purwayuga).

Dwitiya Purwayuga
Yaksapurusa

Sementara itu, antara 500.000 sampai
300.000 tahun yang silam, di Sumatera, Jawa
Kulwan (Barat) dan Jawa Tengah, hidup manusia
yaksa (yaksapurusa) karena rupa mereka seperti
yaksa atau danawa. Mereka bertubuh tegap dan
tinggi serta senang meminum darah manusia
sesamanya, musuh, ataupun binatang.
Perangainya kejam dan bertabiat seperti binatang
buas. Mahluk jenis ini pun akhirnya punah karena
banyak terbunuh dalam pertempuran dengan
kaum pendatang baru dari benua utara.

Yaksa mantare

Seterusnya, antara 300.000 sampai 50.000
tahun yang silam, di Jawa Barat dan Jawa Tengah
pernah hidup manusia berwujud setengah yaksa
(manusia yaksa mantare). Kelompok manusia ini
belum diketahui asal-usulnya sebab hampir sama
rupanya dengan manusia yaksa yang punah. Akan
tetapi bertubuh lebih kecil, berwarna kuit agak
gelap, tidak banyak berbulu, serta susila dan
cerdas jika dibandingkan dengan manusia yaksa
yang telah punah. Kelompok inipun akhirnya
punah karena didesak, diburu, dan akhirnya
dibinasakan oleh kaum pendatang dari benua
utara. Periode ini oleh para mahakawi (pujangga
besar) disebut masa purba yang kedua (dwitiya
purwwayuga).

Tritiya Purwayuga
Wamana Purusa

Selanjutnya, pernah pula hidup manusia
kerdil (wamanapurusa) atau danawa kecil. Mereka
itu berwujud yaksa kecil sehingga oleh para
mahakawi dinamakan manusia kerdil. Mereka
hidup antara 50.000 sampai 25.000 tahun yang
silam. Mereka tidak cerdas. Senjata dan
perabotannya terbuat dari batu, tetapi buatannya
tidak bagus, mahluk jenis inipun akhimya punah.
Zaman ini oleh para mahakawi disebuf masa purba
pertengahan (madya ning purwwayuga) atau masa
purba ketiga (tritiya purwwayuga).
Wamana purusagheng

Ke dalam zaman tersebut, termasuk pula
masa hidup jenis manusia kerdil yang bertubuh
besar (wamana purusagheng) atau manusia Jawa
purba. Mereka menetap di Jawa Tengah dan Jawa
Timur antara 40.000 sampai 20.000 tahun yang
silam. jumlahnya tidak banyak. Mereka ini pun
akhirnya punah karena bencana alam, saling
bunuh di antara sesamanya, dan akhirnya seperti
juga nasib penghuni Pulau Jawa yang lain, dihabisi
oleh kaum pendatang dari benua utara.
Caturtha Purwayuga
Pendatang dari utara : yawana, campa,
syangka, timur gaudi (benggala)

Perpindahan (panigit) manusia pendatang
dari benua utara: Yawana, Campa, Syangka, dan
dari daerah-daerah sebelah tirnur Gaudi
(Benggala) menyebar ke Ujung Mendini
(Semenanjung Malaysia), Pulau Sumatera, Pulau
Jawa, Kutalingga, Gowa, Makasar, dan pulau pulau
lain di sebelah belahan timur Nusantara, termasuk
Nusa Bali. Mereka tiba di Nusantara kira kira
20.000 tahun sebelum tarikh Saka.

Manusia yaksa kerdil (wamana purusa), sebagal
pribumi berperangai buas dan kejam seperti
hewan. Oleh sebab itu mereka diperangi dan
dikalahkan oleh para pendatang baru.
Sementara itu, manusia purba yang hidup antara
25.000 sampal 10.000 tahun yang silam tidak
punah sebab mereka berbaur menjadi satu.
Banyak wanita manusia purba itu berjodoh
dengan Aria dari kaum pendatang baru.

Kerukunan, kerjasama dan perjodohan di antara
kedua belah pihak, telah menyelamatkan kelompok
manusia purba dari bahaya kepunahan.
Adapun, kaum pendatang baru dari benua utara
tersebut tergolong manusia cerdas. Mereka
membuat perkakas dan senjata dari batu, kayu,
tulang, bambu, serta bahan bahan lain dengan
hasil yang hampir bagus (meh wagus). Menurut
para mahakawi masa kedatangan orang orang dari
benua utara tersebut, dinamakan sebagai masa
purba keempat (caturtha purwwayuga).
Pancama Purwayuga

Dari 10.000 tahun sebelum tarikh Saka,
sampal tahun pertama Saka, terjadi perpindahan
secara bergelombang, kelompok pendatang dari
benua utara, yaitu:
1. antara 10.000 sampai 5.000 tahun sebelum tarikh Saka;
2. antara 5.000 sampai 3.000 tahun sebelum tarikh Saka;
3. antara3.000 sampai 1.500 tahun sebelum tarikh Saka;
4, antara1.500 sampai 1.000 tahun sebelum tarikh Saka;
5. antara 1000 sampal 600 tahun sebelwn tarikh Saka;
6. antara 600 sampai 300 tahun sebelum tarikh Saka;
7. antara 300 sampai 200 tahun sebelum tarikh Saka;
8. antara 200 sampal 100 tahun sebelwn tarikh Saka;
9. antara 100 sampai awal tarikh Saka.
Pada masa itu disebut sebagai masa purba kelima.

(ghobro.com/pendidikan/sejarah/zaman-purba-nusantara.html)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...